Siapa paling terdampak pada kenaikan harga plastik sekarang ini? Tentu saja para pedagang, khususnya yang produknya makanan dan minuman.
Terutama yang berstatus usaha mikro kecil menengah (UMKM). Ketergantungan mereka pada wadah plastik sangat tinggi. Penyebabnya adalah karena wadah plastik lebih praktis dan murah.
Tapi, sisi murah itu kini tak cocok lagi. Harganya sudah melambung tinggi. Memunculkan dampak yang nyata pada keberlangsungan usaha mereka.
“Mau tak mau harus menaikkan harga. Sudah seminggu ini mulai dinaikkan karena untungnya jadi semakin kecil,” aku Lina, penjual mi ayam yang berdagang di wilayah Kecamatan Ngadiluwih.
Baca Juga: Imbas Konflik, Harga Plastik Naik Banyak Pedagang Mengeluh Takut Ditinggal Pembeli
Ketergantungan Lina pada plastik memang besar. Khususnya untuk melayani pembelian bawa pulang. Satu porsi mi ayam yang take away butuh plastik mencapai empat macam.
Mi-nya ditempatkan di wadah khusus dari kertas. Ini menjadikan kuah yang menyertai harus ditempatkan di plastik tersendiri. Setelah itu, saos dan sambal di plastik terpisah. Terakhir, plastik berukuran lebih besar untuk semua bagian itu.
Kenaikan harga plastik membuat wanita ini puyeng. Plastik bening harganya sudah Rp 5 ribu per pak. Padahal sebelumnya hanya Rp 3,5 ribu. Belum lagi kresek yang naiknya hampir setiap minggu.
“Kresek selisih naiknya jadi Rp 5 ribu,” terangnya.
Baca Juga: Harga Plastik 2026 Melonjak, Biaya Produksi Naik dan Inflasi Mengintai
Tak hanya Lina, Shanti pun demikian. Penjual buah potong dan jus buas di Kelurahan Banjaran, Kota Kediri ini bahkan sampai harus survei ke beberapa toko. Tujuannya hanya mencari harga termurah.
“Mulai Lebaran itukan sudah naik. Tapi yang sekarang kok makin mahal,” ucapnya. Nada Shanti terdengar khawatir dengan kondisi ini.
Dia juga harus menyesuaikan harga. Kebutuhan membeli plastik belum bisa digantikan dengan alternatif lain. Meskipun kenaikan harga itu membuat pelanggannya komplain.
“Tapi menaikkannya nggak berani terlalu banyak. Soalnya takut nanti malah pelanggannya nggak balik lagi,” aku Shanti.
Kenaikan harga plastik itu juga sangat dirasakan pedagang pasar. Salah satunya Dinata, penjual sayuran di Pasar Setonobetek.
Dia masih sangat bergantung pada plastik untuk kegiatan jual-beli di lapaknya. Meski harga plastik melonjak tinggi dia tetap menyediakan plastik bagi pembeli.
Baca Juga: Keren! Tas Anyaman Plastik Warga Desa Brenggolo Plosoklaten Kediri Ini Tembus hingga Mancanegara
“Masih tetap pakai plastik karena memang butuh. Tapi ada juga pembeli yang sudah bawa kantong belanja sendiri. Bahkan tahu kalau harga plastik naik jadi nggak minta. Bahkan ada yang bilang, wis langsung jadi satu sini saja, plastik mahal kan?” ujarnya menceritakan sikap sebagian pembelinya.
Untuk menyiasati kenaikan harga plastik itu dia memilih menghemat penggunaan. Alih-alih menggunakan banyak kantong plastik untuk barang yang berbeda-beda, kini digabung dalam satu satu wadah kresek yang sama.
“Biasanya kalau bisa digabung, saya gabung dalam satu kresek. Misalnya kalau beli bawang merah, bawah putih itu jadi satu plastik,” ungkapnya.
Melambungnya harga plastik juga memengaruhi kebiasaannya dalam berdagang. Sebelumnya, dia hanya stok satu jenis kantong kresek saja berukuran besar untuk semua jenis belanjaan.
“Maksudnya biar cepet langsung masuk semua. Tapi kalau yang besar kan kenaikannya lebih kerasa. Jadi sekarang menyediakan kresek yang kecil juga,” beber perempuan yang akrab disapa Dina itu. (ayu isma/fud)
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri