JP Radar Kediri - Kamis sore (27/2), tempat pemakaman umum (TPU) Sasono Praloyo dipenuhi orang. Gerimis yang turun tak menyurutkan semangat warga dari berbagai usia.
Mereka tetap datang di tempat yang biasa juga disebut makam Karangsono di Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri tersebut.
Nyekar ke kubur para leluhur untuk mengirim doa.
Bagi kebanyakan muslim di Kediri dan sekitarnya, nyekar menjelang Ramadan adalah salah satu ritual yang sebisa mungkin dilakukan.
Termasuk juga mengikuti megengan, selamatan di malam jelang datangnya bulan puasa.
“Dulu itu (megengan) dilakukan di jalan-jalan ramai, sampai menutup (akses) jalan. Tapi sekarang tiap RT punya langgar (musala, Red). Jadi, akhirnya ya digelar di langgar,” terang Agus Riyanto. Pria 45 tahun ini adalah warga RT 4 RW 1 Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto yang daerahnya tetap melestarikan tradisi megengan tersebut.
Dari masa ke masa, megengan pun juga nyaris tak berbeda. Warga yang datang membawa berkat (makanan untuk disantap bersama).
Lengkap dengan kue apem yang tak bisa ditinggalkan sebagai ciri khas megengan.
Bedanya mungkin dari sisi kepraktisan. Dulu, berkat selalu dibawa dalam wadah dari pelepah pisang yang dibentuk persegi dengan rangka bawah dari bambu.
Dilengkapi takir, wadah dari daun pisang yang dibuat seperti kubus untuk tempat lauk. Tapi, sekarang orang lebih memilih menempatkan dalam kardus atau mika tempat makan.
“Kalau lengkong (wadah makan dari pelepah pisang, Red) jadi kembali seperti zaman dulu,” ucapnya.
Yang sama dari zaman ke zaman adalah kue apem. Sebab, apem ini ciri khas megengan.
Yang juga punya makna besar sebagai simbol saling memaafkan menjelang Ramadan.
Bagi masyarakat, khususnya muslim di Kediri dan sekitarnya, membagikan apem adalah simbol permohonan maaf. Agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih.
Selain apem, tentu ada menu lain. Seperti nasi sekaligus lauk pauknya.
“Ada tumpeng nasi putih juga. Isinya termasuk ayam ingkung. Setelah doa tahlil, terus tumpengnya dibagi. Ditata satu-satu dan dibagi rata sesuai jumlah orang yang datang atau secukupnya,” bebernya sembari menyebut, kue apem juga dibagikan seusai doa yang berlangsung mulai pukul 19.00 – 21.00 itu.
Agus menjelaskan, dulu, warga membuat kue apem sendiri. Tapi, kini jarang yang melakukan itu. Mereka memilih membeli karena lebih praktis.
Apalagi sekarang sudah banyak penjual kue apem. Yang mampu memproduksi dalam jumlah besar dalam sekali masak.
“Dulu apemnya lebar, buatnya pakai wajan. Sekarang ada alatnya yang bisa lebih cepat masaknya. Karena banyak juga yang menerima pesanan karena yang repot biasanya beli jadi,” terangnya.
Terlepas dari itu semua, menurut Agus, megengan tidak hanya dimaknai secara spiritual.
Melainkan juga jadi sarana menjaga relasi sosial. Tradisi itu dianggap sebagai pemersatu masyarakat.
Itu terlihat dari pelaksanaannya yang tidak hanya diikuti warga setempat. Juga dari daerah lain yang kebetulan berada di lingkungan yang sama.
“Kemarin malah yang datang banyak dari anak-anak Poltek Kediri. Mahasiswa yang ngekos di sekitar sini kami ajak juga. Karena semua boleh ikut dan nggak harus bawa berkat atau apem (bagi) anak-anak muda itu,” bebernya.
Megengan juga digelar oleh Kelompok Tani (Poktan) Subur di Lingkungan Bence, Kelurahan Pakunden, Kecamatan Kota.
Selain sebagai sarana menyambut Ramadan, Megengan juga mereka maknai sebagai ungkapan syukur dan pengharapan kepada Tuhan. Agar diberikan keberkahan dalam hidup.
Pelaksanaannya pun dilakukan dengan sederhana. Di gubuk tani poktan tersebut.
“Kami kirim doa untuk leluhur dan penggawa-penggawa petani yang sudah mendahului kita. Dan kemarin juga berdoa kepada Allah agar diberikan selalu kesehatan dan hasil panen yang melimpah dan harga tinggi,” ujar Fatoni, penyuluh pertanian di lingkungan tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah