JP Radar Kediri - Petani jagung tak bisa meraih hasil maksimal saat ini. Akibat jagung mereka terkena busuk batang. Akibat musim hujan ataukah soal pemilihan benih?
Kaminem memilah-milah jagung yang masih di bonggolnya, di pelataran rumahnya, di Dusun Genengan, Desa Sambiresik, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Jagung-jagung itu masih belum dikupas. Kulitnya terlihat basah.
Di dekat wanita tersebut, ada dua tumpukan lain. Yang satu jagung yang sudah dikupas dan kondisinya bagus. Sedangkan di dekatnya, ada tumpukan jagung yang sudah dikupas tapi kondisinya tak bagus. Terdapat bercak putih dan hijau kehitaman, seperti jamur.
Sebagian malah sudah tumbuk kecambah di biji-biji yang masih melekat di bonggol itu.
"Itu sudah rusak. Dijual jelas gak laku. Ayam juga gak doyan," gerutu perempuan 52 tahun itu.
Kaminem mengatakan, kondisi panenan yang demikian itu karena intensitas hujan yang tinggi beberapa hari terakhir. Menyebabkan sawahnya terlalu banyak air. Kondisi yang justru membawa penyakit bagi tanamannya yang seharusnya tak perlu banyak air.
"Jadi alum (layu, Red), kering duluan. Tua gak sempurna karena belum waktunya," terangnya, sembari menunjukkan jagung-jagung yang tidak layak jual itu.
"Normalnya empat bulan baru dipanen. Ini belum sampai empat bulan harus panen dulu, karena sudah kuning-kuning," imbuhnya.
Busuk batang itu juga membuat beberapa tanaman jagungnya patah. Buah pun terendam di genangan. Membuat bijinya tumbuh kecambah atau berjamur.
"Digigiti tikus, tapi gak dihabiskan itu juga bisa tumbuh jamur. Karena jagungnya jadi kebuka," jelasnya.
Kondisi itu, menurut Kaminem, juga terjadi di sawah-sawah tetangganya. Mereka pun terpaksa memanen lebih awal.
Tentu saja, situasi seperti ini membuatnya merugi. Hasil panen tak bisa optimal.
Biasanya, sawahnya yang seluas 0,8 hektare bisa menghasilkan 900 kilogram jagung. Tapi, saat ini tak sampai segitu. Ada puluhan kilogram yang rusak.
Belum lagi, harga jual juga tidak tinggi. Hanya Rp 4,9 ribu saja. Padahal biaya yang dikeluarkan banyak.
Dia kemudian menguraikan, benih yang dia beli adalah BISI 18. Harga per kilo Rp 95 ribu. Dengan luasan tanah itu, dia butuh tiga kilogram. Kemudian, masih perlu macam-macam pupuk.
"Gak pakai pupuk subsidi juga. Karena memang kebutuhannya dengan jatah pupuk subsidi lebih banyak kebutuhan. Belum lagi biaya luku juga. Itu juga tanah sewa," urai ibu dua anak itu.
Hal serupa juga dialami Mashadi, petani di Desa Krandang, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. awal musim hujan, saat tanaman jagungnya mulai berbunga, batangnya membusuk terkena jamur.
Pria 38 tahun itu menerangkan, buah jagung yang muncul tak optimal. Ukurannya kecil, sebagian juga ompong.
"Padahal ini sudah tiga bulan kurang seminggu. Harusnya sudah kelihatan mentek-mentek. Tapi ini cemet-cemet. Bijinya kecil-kecil dan gak rata," jelasnya, dengan nada heran.
Petani ini menduga hal ini karena terlalu banyak air. Menyebabkan tanaman mudah terserang penyakit.
Benih yang dipilihnya adalah jenis hibrida. Merk Dekalb 771. Masa panennya lebih cepat, sekitar 3,5 bulan. Namun, dengan kondisi seperti ini dia memilih memperpanjang waktu panen. Menunggu empat bulan baru panen.
Sementara itu, Plt Kepala Dispertabun Kabupaten Kediri Anang Widodo membenarlan adanya petani yang mengeluhkan busuk batang. Laporan yang masuk dari timnya, temuan itu terdapat di Kecamatan Badas.
"Ada laporan busuk batang di Badas. Luasannya 0,1 hektare. Dan sudah ditangani POPT (Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan, Red) wilayah," akunya.
Namun, Anang mengaku tidak ada laporan gagal panen ataupun hasil yang tidak maksimal. "Sejauh ini tidak ada laporan. Biasanya jika ada laporan langsung ke petugas baik itu PPL dan POPT," terangnya.
Situasi ini diklaim tidak mengganggu ketersediaan stok jagung. Sebab, Desember ini ketersediaan masih di angka 24.549 ton. Sedangkan kebutuhannya ‘hanya’ 19.936 ton. “Masih surplus,” aku Kabid Pengelolaan Pangan Dispertabun Kabupaten Kediri Rini Pudyastuti.
Soal penyakit yang dikeluhkan petani, Rini menegaskan karena curah hujan tinggi. Bukan karena persoalan benih. Intensitas hujan membuat batang tanaman lembap dan mudah berjamur.
"Temuannya (juga) tidak banyak. Hanya di Kecamatan badas. Busuk batang 0,04 hektarw dan sudah ditangani," kilahnya.
Terpisah, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatakan, adanya gangguan produksi jagung tentu mempengaruhk stok atau ketersediaan. Begitu pula dengan harga.
Namun, menurutnya saat ini stok masih aman. "Dari data kemarin penurunan belum ada," akunya.
Untuk harga juga masih normal. Hanya naik turun sedikit yang masih di taraf wajar. Untuk tingkat petani sekitar Rp 4,5 ribu. Sementara di pasaran sekitar Rp 5,2 ribu hingga Rp 6 ribu per kilogram.
"Masih normal. Kalau sudah di atas Rp 7 ribu sudah warning, " terangnya, sembari mengatakan jika produksi turun harga bisa naik. Apalagi jika itu merata di produsen-produsen jagung.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah