Di antara jemari yang gemetar,
sebatang pena menari perlahan,
menorehkan tinta di atas kertas,
seperti malam yang menitipkan bintang
pada langit yang luas.
Baca Juga: Puisi: Monggun Maulidiya Siregar & Putri Elpatisia Siringo
Ia tak pernah bersuara,
namun mampu menerjemahkan luka
yang bahkan bibir enggan mengucapkannya.
Setiap goresnya adalah bisikan,
setiap tintanya adalah serpihan rasa
yang diam-diam ingin dikenang.
Pena pun tahu,
bahwa tidak semua cerita
lahir dari bahagia.
Ada tinta yang mengalir
dari mata yang pernah basah,
ada kata yang tumbuh
dari hati yang pernah patah.
Baca Juga: Puisi: Husna Syafrida Putri & Nia Ramadani Siregar
Namun ia tetap menulis
meski kertas tak pernah menjawab,
meski waktu perlahan menghapus
jejak-jejak yang pernah ditinggalkan.
Baca Juga: Puisi: Aida Amalliah & Anggita Joito Grace
Sebab mungkin,
pena memang diciptakan bukan untuk mengubah dunia,
melainkan untuk menyelamatkan
sepotong kecil perasaan
agar tak sepenuhnya hilang
ditelan waktu.
Dan kelak,
ketika tinta telah mengering
dan tangan tak lagi mampu menggenggamnya,
barangkali yang tersisa hanyalah tulisan
sebuah kesaksian bahwa
pernah ada hati yang merasa,
pernah ada jiwa yang bermimpi,
dan pernah ada seseorang
yang mencoba mengabadikan hidupnya
melalui sebatang pena.
Penulis: Tahta Alvina
Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri
Editor : Shinta Nurma Ababil