Pena yang Menulis Sunyi

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 18:12 WIB
Ilustrasi tangan yang memegang pena bulu menulis di atas kertas kosong ditemani cahaya lilin.
Ilustrasi tangan yang memegang pena bulu menulis di atas kertas kosong ditemani cahaya lilin.

Di antara jemari yang gemetar,

sebatang pena menari perlahan,

menorehkan tinta di atas kertas,

seperti malam yang menitipkan bintang

pada langit yang luas.

Baca Juga: Puisi: Monggun Maulidiya Siregar & Putri Elpatisia Siringo

Ia tak pernah bersuara,

namun mampu menerjemahkan luka

yang bahkan bibir enggan mengucapkannya.

Setiap goresnya adalah bisikan,

setiap tintanya adalah serpihan rasa

yang diam-diam ingin dikenang.

Pena pun tahu,

bahwa tidak semua cerita

lahir dari bahagia.

Ada tinta yang mengalir

dari mata yang pernah basah,

ada kata yang tumbuh

dari hati yang pernah patah.

 Baca Juga: Puisi: Husna Syafrida Putri & Nia Ramadani Siregar

Namun ia tetap menulis

meski kertas tak pernah menjawab,

meski waktu perlahan menghapus

jejak-jejak yang pernah ditinggalkan.

 

 Baca Juga: Puisi: Aida Amalliah & Anggita Joito Grace

Sebab mungkin,

pena memang diciptakan bukan untuk mengubah dunia,

melainkan untuk menyelamatkan

sepotong kecil perasaan

agar tak sepenuhnya hilang

ditelan waktu.

 

Dan kelak,

ketika tinta telah mengering

dan tangan tak lagi mampu menggenggamnya,

barangkali yang tersisa hanyalah tulisan

sebuah kesaksian bahwa

pernah ada hati yang merasa,

pernah ada jiwa yang bermimpi,

dan pernah ada seseorang

yang mencoba mengabadikan hidupnya

melalui sebatang pena.

 

Penulis: Tahta Alvina

Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Editor : Shinta Nurma Ababil
puisi