Antara Kasih Sayang dan Kebutuhan Hidup

Hilda Nurmala Risani • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 19:11 WIB
Ilustrasi busui mencari ruang laktasi. (Arfrizal Syaiful M/JPRK)
Ilustrasi busui mencari ruang laktasi. (Arfrizal Syaiful M/JPRK)

 
KEDIRI, JP Radar Kediri - Setiap tanggal 1 Agustus dunia memperingati Hari ASI Sedunia. Peringatan ini bukan sekadar seremoni. Ini pengingat bahwa ASI adalah makanan terbaik untuk bayi 0-6 bulan. Tidak ada formula yang bisa menandingi kandungan antibodi, nutrisi, dan kasih sayang yang ada di dalamnya.

Berbicara tentang Air Susu Ibu (ASI), angka ASI Eksklusif di Kota Kediri belum bisa mencapai angka 100 persen. Data terbaru menunjukkan cakupan ASI Eksklusif di Kota Kediri ada di angka 78,3 persen. Artinya masih banyak bayi yang belum mendapat haknya secara penuh di 6 bulan pertama kehidupan. 

Padahal ASI adalah makanan terbaik bagi bayi. Oleh karenanya mereka perlu dikenalkan sejak dini, yakni saat inisiasi menyusu dini (IMD). 

Baca Juga: Korupsi dan Krisis Kepercayaan Publik  

Seorang ibu yang baru melahirkan harus dipastikan memberikan ASI terbaiknya melalui pemberian kolostrum yang berwarna kekuning-kuningan. 

Sebab kolostrum itu lah yang menjadi vaksin terbaik bagi bayi. Selain untuk membentuk daya tahan tubuh, juga untuk kecerdasan dan pencegahan stunting. 

Sayangnya, meski banyak manfaatnya untuk sang buah hati, masih banyak Ibu yang memilih memberi susu formula dibandingkan memberikan ASI. 

Salah satu alasan utama yang paling sering muncul adalah ibu sibuk bekerja. Banyak ibu harus kembali ke kantor, pabrik, atau usaha hanya dalam kurun waktu 1-2 bulan setelah melahirkan. Semua karena desakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

 Baca Juga: Kasus Kecelakaan Hyundai Palisade Maut di Kediri Masih Abu-Abu, Kepastian Hukum Masih Ditunggu

Cuti melahirkan yang singkat, tuntutan kerja tinggi, dan jarak tempat kerja dengan rumah yang jauh seringkali juga membuat menyusui langsung menjadi sulit. Pilihan akhirnya jatuh ke sufor, bukan karena tidak mau, tapi karena tidak ada pilihan lain.

Sebenarnya, dalam UU Ketenagakerjaan dan PP 33/2012 sudah mengatur hak ibu menyusui. Ada hak cuti, ada kewajiban perusahaan menyediakan ruang laktasi, dan ada hak memerah ASI selama jam kerja.

Tapi realita di lapangan, implementasinya belum merata. Tidak semua kantor punya ruang laktasi yang layak. Tidak semua atasan memahami kalau nongkrong 15 menit buat pumpingitu bagian dari produktivitas, bukan kemalasan.

Baca Juga: Kasus Nadim, Antara Ancaman atau Pembelajaran?

Tentu jika ditelaah dampak negatif dan positifnya juga akan lebih banyak nilai plusnya ketika ibu bisa memberikan ASI eksklusif. Secara ekonomi jelas tidak mahal. Karena ibu tidak perlu mengeluarkan uang ratusan ribu untuk beli susu formula.

Selain tidak mudah basi, ASI hasil pumping bisa dibawa kemana-mana, dan kandungan didalamnya sangat kompleks. Ada lemak, protein, karbohidrat, dan lain-lain. 

Sementara sisi negatifnya, ibu akan mudah stres ketika tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Mereka akan merasa gagal menyusui. Yang juga berdampak pada bayi jadi lebih rentan sakit karena tidak dapat antibodi dari ASI.

Melihat hal tersebut, pada akhirnya yang dibutuhkan bukan hanya kampanye poster. Tetapi lebih ke budaya kerja yang ramah ibu menyusui. Perusahaan perlu menyediakan ruang laktasi yang layak serta lengkap dengan fasilitas dasarnya. Salah satunya wastafel, meja, kursi, dan kulkas untuk menyimpan ASI.

 Baca Juga: Generasi Emas Atau Cemas?

Selain fasilitas, juga perlu fleksibilitas waktu. Pemerintah perlu memperpanjang cuti melahirkan dan mengawasi kepatuhan perusahaan. 

Di lain sisi secara internal, peran keluarga, terutama suami sangat penting. Bahkan, menjadi support system paling utama. Sebab menyusui bukan urusan ibu saja. Tetapi juga perlu ayah yang ikut andil didalamnya.

Oleh karenanya, Hari ASI Sedunia harus jadi momentum evaluasi. Negara hadir lewat kebijakan. Perusahaan hadir lewat fasilitas. Keluarga hadir lewat dukungan. Dan kita semua hadir dengan empati.

Baca Juga: Rupiah Melemah Masyarakat Kian Resah

Karena setiap tetes ASI adalah bentuk keadilan paling dasar. Hak anak untuk tumbuh sehat dan hak ibu untuk menjalankan peran tanpa harus memilih antara kerja atau anak.

Selamat Hari ASI Sedunia. Mari jadikan tempat kerja dan ruang publik lebih bersahabat untuk ibu dan bayi.

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
hari asi sedunia 2026 Ibu menyusui sibuk bekerja asi ekslusif kota kediri