Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bahasa Mandarin di Kampung Inggris 

rekian • Minggu, 16 November 2025 | 04:50 WIB

PROFIL: Rekian
PROFIL: Rekian
Saya pernah mondok di Kampung Inggris, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri pada 2012 lalu. Suasananya tidak seperti sekarang. Sudah banyak yang berubah. Dari infrastrukturnya hingga kursusuannya.

Selain kursus Bahasa Inggris ada juga Bahasa Arab. Lalu ada pula yang buka Bahasa Jerman dan Bahasa Prancis. Namun saat itu, tidak terdengar ada yang buka Bahasa Mandarin. 

Alasan itulah yang membuat kampung yang terletak di Desa Pelem dan Desa Tulungrejo di Kecamatan Pare itu dinobatkan menjadi kampung bahasa. Dan kini lebih populer sebagai Kampung Inggris Pare. 

Baca Juga: Konvoi Sepeda Motor Bikin Resah Warga

Berdiri sejak 1977, kampung ini menjadi rujukan bagi pelajar yang ingin mendalami skill bahasa. Kebanyakan siswanya adalah lulusan SMA yang hendak masuk perguruan tinggi atau ingin bekerja di pelayaran.

Ada juga mahasiswa yang ingin melanjutkan studi S2 atau ke luar negeri. Mereka datang dari berbagai daerah. Menjadikan Kampung Inggris ini sebagai miniatur Indonesia. 

Baca Juga: Kidulting: Ketika Orang Dewasa Permainan Masa Kecil

13 tahun silam, saya bisa bertemu dengan kawan-kawan dari berbagai daerah. Ada yang dari Sulawesi, Maluku, Papua, Kalimantan, hingga Timor-Timur. Menariknya lagi mahasiswa asal Thailand pun belajar di kampung itu. 

Saat itu, Kampung Bahasa Inggris selalu ramai. Mungkin sampai sekarang. Khususnya saat musim libur. Meski tak pernah sepi siswa, aturan setiap camp sengat ketat. 

Baca Juga: Benarkah Indonesia Sudah Merdeka?

Aktivitas camp hanya dibatasi hingga pukul 21.00. Siswa dilarang berkeliaran di gang-gang. Atau begadang di depan camp. Jika ada yang melanggar ada sanksi. Dan pengawasan ketat oleh tutornya. 

Masa-masa itu sudah berlalu, kini ada banyak sekali perubahan. Jika Anda masuk ke Kampung Inggris sekarang (2025), tidak perlu risau cari tempat cangkruk. Ada banyak sekali tempat untuk menikmati secangkir kopi, cemilan, dan makanan berat di sana.

Baca Juga: Perlukah Kita Definisi Ulang Makna Adil?

Perubahan di Kampung Inggris itu tidak lepas dari banyak hal yang memengaruhi. Salah satu yang paling dahsyat memengaruhi perubahan itu adalah Covid-19. Wabah virus itu, membuat semua unit usaha di kampung yang didirikan Mr Kalend Osen itu menjadi lesu. 

Jasa persewaan sepeda nyaris tidak ada pemasukan. Begitu juga dengan pemilik warung makan. Secara sporadis, mereka kehilangan pendapatan karena tidak boleh ada kursusan yang membuka kelas. Ada social distancing. Membuat kursusan tak boleh tatap muka dengan siswanya. 

Baca Juga: Catatan Hari Jadi Kota Kediri

Imbasnya, banyak kursusan yang gulung tikar. Mereka kehilangan pemasukan. Tidak mampu bayar sewa tempat. Dan juga membayar gaji tutor. Namun, ada pula yang berusaha mencari cara tetap bertahan untuk mendapatkan pemasukan. 

Beberapa di antaranya membuka jasa kursus online. Mereka menghubungi satu-persatu siswa yang gagal belajar tatap muka di Kampung Inggris. Benar-benar harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. 

Baca Juga: Menanti Kesiapan Stadion Brawijaya

Salah satu owner kursusan yang saat itu merasakan getirnya wabah Covid-19 adalah Mr Bay (Badlowi). Lembaga yang dirintisnya, Seventeen English Learning tak berdaya menghadapi badai tersebut. Dia bertahan menghidupi keluarganya dari sisa tabungannya. 

Life must go on. Mantra itu yang membuatnya bertahan di Kampung Inggris. Hingga badai Covid-19 berakhir, dan memasuki fase adaptasi kebiasaan baru membuat situasinya tidak lagi bisa seperti biasanya. Mereka yang datang tak lagi seramai dulu. Mungkin karena sudah banyak yang ikut kelas online.  

Baca Juga: Menanti Kesiapan Stadion Brawijaya

Mr Bay tampaknya membaca perubahan yang cukup drastis. Dia menangkapnya dengan baik. Lalu memilih putar arah. Bertaruh dengan segala konsekuensinya. Dia berani mengambil risiko. Meninggalkan lembaga kursus Bahasa Inggris dan mendirikan kursusan Bahasa Mandarin bersama temannya.  

Siswanya cukup ramai. Saya yang pernah mondok di Kampung Inggris agak heran. Kenapa Bahasa Mandarin? Bukan Jerman atau Prancis. 

Baca Juga: Semua Orang Berpotensi Jadi Penjahat

Jawabannya, ada kebutuhan besar dari perusahaan asing di daerah mencari translator Bahasa Mandarin. Rupanya, ini berkaitan dengan maraknya perusahaan milik Tiongkok yang beroperasi di Indonesia. Khususnya di bagian timur Indonesia. 

Rata-rata peserta yang kursus di tempatnya berasal dari Sulawesi dan Maluku. Alasan mereka, ikut kursus karena ingin menjadi translator di perusahaan asing di daerah. Bagi mereka lebih menjanjikan.

Baca Juga: Teknologi yang Menyedot Dompet 

Kelas yang dibuka pun berangsur ramai. Awal-awal buka, Mr Bay menghubungi alumninya di Seventeen English Learning. Dia menyampaikan jika telah membuka kelas untuk Bahasa Mandarin. 

Insting Mr Bay banting setir agaknya sudah tepat. Dia mampu membidik kebutuhan pasar dengan sempurna. Meski dikepung lembaga kursus Bahasa Inggris, kursusan Mandarin yang diberi nama Mandarich tak kalah moncer. 

Baca Juga: Menyorot Model Pendidikan

Mengadopsi pembelajaran ala Kampung Inggris, belajar Bahasa Mandarin pun dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan. Bahkan kelas yang disiapkan pun full AC. Membuat siswa yang belajar Bahasa Mandarin di Kampung Inggris naik kelas.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#kursus bahasa inggris #Berbahasa Mandarin #kampung inggris #pare kediri #kampung bahasa #bahasa mandarin #kursus bahasa mandarin #kampung inggris pare