Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Benarkah Indonesia Sudah Merdeka?

Hilda Nurmala Risani

ILUSTRASI: Bendera Merah-Putih
ILUSTRASI: Bendera Merah-Putih
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”


Advertisement

Dua kalimat yang diserukan Ir. Soekarno saat itu mungkin relate dengan kondisi Indonesia sekarang ini. Sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Namun masih banyak pertanyaan dibenak masyarakat. Merdeka yang mana? Rakyat masih banyak yang sengsara, pejabat tenggelam dalam lautan korupsi, lapangan kerja sulit bahkan kemiskinan masih dimana-mana. Mungkin kita memang menang melawan penjajah. Tapi kini, kita dijajah oleh sistem negara kita sendiri yang dibiarkan membusuk. Tentu ini bukan kemerdekaan yang diimpikan banyak orang.

Sebagai bangsa yang tergolong memiliki usia cukup matang tentu Indonesia telah melewati berbagai babak Sejarah. Mulai dari perjuangan mempertahankan kedaulatan, pembangunan nasional di era Orde Baru hingga era reformasi yang menjanjikan demokrasi dan keterbukaan. Delapan dekade kemerdekaan, capaian pembangunan memang tidak bisa dipungkiri. Infrastruktur modern membentang di berbagai daerah, angka kemiskinan menurun, dan daya saing Indonesia di mata dunia semakin meningkat.

Siapa sangka dibalik pencapaian besar itu ternyata masih banyak pekerjaan rumah (PR) pemerintah yang belum selesai. Ketimpangan sosial dan ekonomi masih mencolok antara kota dan desa serta Jawa dan luar Jawa. Kemudian problem klasik seperti pengangguran, kemiskinan, dan akses pendidikan berkualitas belum sepenuhnya merata. Bahkan, krisis pangan dan energi yang muncul akibat dinamika global turut menjadi bukti bahwa kemandirian bangsa masih jauh dari kata kuat.

Advertisement

Maka dari itu, momen kemerdekaan ini harus dimanfaatkan sebagai ajang refleksi dan intropeksi diri. Apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka dalam arti substansial? Apakah kemerdekaan sudah menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat? Pertanyaan mendasar ini harus menjadi evaluasi kolektif, bukan sekadar euforia perayaan kemerdekaan saja.

Nantinya refleksi delapan dekade kemerdekaan harus menjadi batu loncatan untuk mempersiapkan lompatan besar ke depan. Indonesia tidak boleh hanya puas dengan capaian infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memastikan bahwa kemerdekaan benar-benar berakar pada keadilan, pemerataan, dan kesejahteraan.

Jangan sampai pemerintah berkoar-koar ‘kita sudah merdeka’ tapi nyatanya masih banyak rakyat kecil yang kesusahan mendapat makan. Ribuan lulusan sarjana masih kesulitan mencari pekerjaan. Belum lagi kebijakan pemerintah terkait pajak yang mencekik pengeluaran masyarakat kecil ditengah perekonomian yang serba sulit ini.

Advertisement

Atau mungkin makna merdeka memang benar dialami bagi mereka yang duduk bertahta di gedung megah itu. Dengan palu ditangan mereka memutuskan nasib bangsa. Namun ternyata dibalik layar ketamakan berbisik pelan. Mengubah hukum demi kepentingan segelintir insan. Inikah yang dinamakan merdeka? Merdeka untuk siapa?

Jika keadilan diputarbalikkan tanpa rasa bersalah. Masyarakat berteriak dengan suara yang menggelegar. Melawan ketidakadilan yang kini kian liar. Hukum dipelintir tanpa malu. Mengikuti arus kuasa yang hanya peduli dengan harta semu.

Apabila kemerdekaan hanya sebatas seremoni tahunan tanpa pembebasan nyata dari penderitaan rakyat, maka kemerdekaan itu hanyalah ilusi. Bangsa ini baru sungguh merdeka bila pemerintah menempatkan rakyat sebagai tuan, bukan sebagai objek penderita. Bila hukum berdiri untuk semua orang tanpa pandang bulu. Bila kekayaan negeri dinikmati bersama, bukan hanya oleh segelintir orang.

Meskipun dihadapkan dengan realita bangsa yang begitu miris. Sebagai masyarakat harapan tidak boleh sirna. Karena merdeka adalah milik kita semua. Sudah sepatutnya kita sebagai rakyat terus berjuang meski dihantam badai. Karena keadilan adalah hak setiap insan. Bukan mereka yang kaya dan lihai. Merdeka merdeka merdeka!

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

 

 

 

Advertisement
Editor : rekian
Sumber : Radar Kediri

Artikel Terkait

Catatan Awal Pekan :  Ketika Merdeka, tapi Belum Merdeka

Catatan Awal Pekan : Ketika Merdeka, tapi Belum Merdeka

Perayaan hari Kemerdekaan bisa digunakan untuk refleksi, ada tiga persoalan utama yang menyebabkan masyarakat Kediri Raya belum 'merdeka' secara ekonomi dan sosial.

Merdeka Belajar di Momentum HUT RI, Apa Maknanya buat Siswa Zaman Sekarang?

Merdeka Belajar di Momentum HUT RI, Apa Maknanya buat Siswa Zaman Sekarang?

Tapi coba deh mikir sejenak, semangat "merdeka" itu sebenarnya masih terus hidup, salah satunya lewat dunia pendidikan lewat filosofi Merdeka Belajar.

Film Bapak Paling Jujur Tayang di Bioskop, Fajar Nugros Buka-Bukaan Lewat Komedi Satir

Film Bapak Paling Jujur Tayang di Bioskop, Fajar Nugros Buka-Bukaan Lewat Komedi Satir

Film terbaru berjudul “Bapak Paling Jujur” tayang pada 15 Oktober 2026 di bioskop.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer