“Ada sisi positif yang bisa dipahami dari keberadaan suatu mitos. Yaitu, untuk melindungi sesuatu yang berharga”
Ketika mengunjungi suatu daerah di pelosok Kabupaten Kediri, pernah satu kali saya mendengar cerita dari masyarakat. Yaitu tentang keberadaan ular raksasa penunggu hutan.
Penduduk setempat mengatakan, makhluk sebesar batang pohon kelapa itu seringkali menampakkan diri di hadapan orang-orang yang beraktivitas di sekitar mata air di hutan. Terutama saat malam hari.
Jika benar-benar ada, keberadaan makhluk itu tentu sangat berbahaya. Bayangkan saja, jika ular yang tubuhnya sebesar pohon kelapa itu tiba-tiba menyerang manusia. Pasti akan menimbulkan dampak yang fatal.
Tapi sayang, tidak semua orang dapat menemui makhluk tersebut. Toh, beberapa kali saya menghabiskan malam di dekat hutan itu, belum pernah sekalipun saya bertemu dengan hewan raksasa yang diceritakan oleh warga itu.
Dari situ saya pun berkesimpulan jika ular itu hanya mitos yang dipercayai keberadaannya oleh masyarakat sekitar sana. Hewan itu hidup di benak masyarakat setempat.
Lalu, saya pun bertemu dengan seorang tokoh masyarakat setempat. Kebetulan, dia adalah orang yang ditunjuk sebagai juru kunci atau penjaga hutan dan mata air itu. Sama seperti warga lain yang saya temui, di pun awalnya berkata jika ular itu benar-benar ada.
Beberapa jam menghabiskan waktu bersama, banyak tema yang hadir dalam obrolan kami. Namun tiba-tiba dia pun kembali menyinggung soal keberadaan ular raksasa di hutan itu. Beda dengan sebelumnya, ia mengatakan jika ular itu hanyalah sebuah mitos.
Ternyata ia meyakini jika keberadaan makhluk buas itu sengaja diciptakan oleh nenek moyangnya untuk melindungi keasrian hutan tersebut. Dan ternyata itu memang benar-benar ampuh. Sampai saat ini, sebuah bangunan berbentuk makam di dekat lokasi mata air masih dianggap keramat oleh warga.
Ia pun mengaku punya alasan kenapa menganggap jika keberadaan ular itu hanyalah mitos. Selama 30 tahun menjadi penjaga hutan itu, ia belum sekalipun melihat wujud ular raksasa itu.
Bahkan kedua anaknya pun juga mengaku demikian. Pria itu memang punya kebiasaan unik. Untuk melatih mental, ia sering meminta anaknya melakukan pengecekan di sekitar lokasi hutan saat tengah malam.
Mitos yang saya ceritakan di atas adalah sebagian dari jutaan yang ada di tengah masyarakat Kabupaten Kediri. Dan pemaparan soal mitos itu bukan bertujuan untuk membuat kita berpikir soal benar dan tidaknya sebuah mitos.
Dalam hal ini, saya melihat mitos sebagai sebuah karya sastra lisan. Sesuatu yang diciptakan dengan kreativitas dengan tujuan untuk mempengaruhi mindset masyarakat. Dan saya pikir, mitos adalah sesuatu yang harus diapresiasi.
Ada berbagai macam cara apresiasi. Terutama yang saya lakukan adalah dengan tidak mengacuhkannya. Saya pikir, semua mitos bisa dipersepsikan secara objektif.
Maksud saya, tidak harus percaya terhadap suatu mitos, tetapi tetap meyakini keberadaannya. Seperti yang dilakukan oleh seorang penjaga hutan yang pernah saya temui itu. Kenapa bersikap demikian? Saya pikir, hal itu bisa mencegah saya untuk menyebarkan pemikiran untuk menghabisi suatu mitos yang ada. Hal itu pun juga dilakukan oleh penjaga hutan tersebut.
Karena biar bagaimanapun, ada sisi positif yang bisa dipahami dari keberadaan suatu mitos. Yaitu, untuk melindungi sesuatu yang berharga. Misalkan saja, menjaga kelestarian hutan dan sumber air.
Hal ini juga tidak bertentangan dengan pola pikir masyarakat di negeri ini. Jika hukum pidana dan perdata sudah tidak diindahkan, maka mitos akan lebih ditakuti dan memberi efek jera bagi masyarakat. Dan itulah, yang selama ini saya anggap sebagai kekuatan suatu mitos.
Ada pula mitos yang memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai bahan kajian secara keilmuan. Misalkan saja dalam penelitian sastra lisan. Mitos yang memiliki unsur keindahan dan terkait dengan sejarah bangsa tentu akan menarik jika dikupas dalam kajian yang empiris.
Sebagai putra bangsa. Saya sendiri hanya bisa mengagumi mitos-mitos yang selama ini saya ketahui. Saya pikir, teman-teman tidak akan berpikiran dangkal dan menganggap keberadaan suatu mitos sebagai sesuatu yang tabu dan sesat. Semoga saja demikian. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Editor : adi nugroho