Tenun Ikat

Kurniawan Muhammad • Dipublikasikan Senin, 30 September 2024 | 17:08 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Saya beberapa hari lalu mengunjungi Kampung Tenun di Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Kebetulan, saat itu saya sedang ingin mencari dan membeli udeng khas Kota Kediri untuk acara Radar Kediri Awards 2024 yang mengangkat tema “Tradisional Jawa”.

Saya dapat udeng itu. Terbuat dari kain tenun. Dan saya pakai di acara tersebut.

Saya memang belum berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya di kampung tenun itu. Tapi, sekilas, saya melihat, bahwa keberadaan dari kampung tenun tersebut belum benar-benar dipermak menjadi sebuah destinasi wisata.

Gapura di pintu masuk sebagai pertanda kampung tenun, terkesan dibikin seadanya. Memang, sudah ada event yang dilaksanakan Pemkot Kediri untuk memamerkan produksi tenun ikat khas Kota Kediri.

Yaitu: Dhoho Street Fashion. Tapi, event itu diadakan setahun sekali. Dan gemanya masih di tingkat lokal. Belum benar-benar menasional.

Keberadaan kampung tenun, sebetulnya bisa digarap lebih serius lagi dan lebih wow lagi sebagai destinasi wisata edukasi, wisata sejarah, dan wisata belanja.

Sebagai wisata edukasi, sebaiknya di kampung tersebut dibangun semacam hall yang besar untuk gallery memamerkan berbagai macam tenun ikat yang diproduksi oleh masyarakat di kampung tenun itu.

Juga dibikin semacam tempat praktik bagi anak-anak muda atau masyarakat yang ingin praktik bikin kain tenun. Diajari semua proses dalam membuat kain tenun.

Kemudian diajari cara-caranya bikin kain tenun. Ini akan sangat menarik bagi generasi Z yang menyukai experience (pengalaman).

Tak jauh dari tempat itu, bisa juga dibangun tempat untuk memajang semua produk dari kain tenun yang diproduksi kampung tenun untuk ditawarkan kepada para pengunjung. Ini bisa menjadi wisata belanja.

Sebagai wisata sejarah, karena keberadaan kampung tenun di Kota Kediri memiliki sejarah panjang. Ditengarai tenun ikat di Kota Kediri sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Mengutip data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan menyebutkan, awal mula tenun ikat di Kediri berasal dari usaha milik Djie Ting Hian bernama "Tenoen 1925".

Pada tahun 1925, "Tenoen 1925" mengimpor alat tenun berjumlah 150 buah serta pegawai-pegawai yang terlatih membuat tenun dari Britsch-Indie, dan selanjutnya pegawai-pegawai tersebut melatih penduduk lokal untuk menenun.

 Baca Juga: Perempuan di Pilkada 2024

Tahun 1950-an tenun ikat mulai berkembang. Lahirlah industri-industri tenun ikat milik masyarakat. Produk yang dihasilkan waktu itu berupa sarung palikat atau sarung kotak.

Terkait dengan teknik pembuatan, tenun ikat bandar dibuat menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), yang diduga model awalnya diimpor oleh perusahaan "Tenoen 1925" tadi. 

Bukti keberadaan kain tenun ikat dari Kediri ini terlihat dari temuan enam kain tenun yang tersimpan di Tropenmuseum, Kota Amsterdam, Belanda.

Sayangnya, pernak-pernik sejarah terkait dengan keberadaan tenun ikat Kediri ini belum maksimal digali, dinarasikan dan didokumentasikan.

Selama ini yang dilakukan masih sebatas mengenalkan bahwa di Kediri ada kampung tenun. Selanjutnya bikin semacam fashion show. Jadi, menggali lebih dalam terkait aspek sejarahnya masih belum maksimal dilakukan.

Menurut saya, jika aspek sejarah terkait keberadaan kain tenun ikat Kediri ini digali secara lebih serius, ditelusuri, disusun sejarahnya secara runtut dan lengkap, lalu didokumentasikan dengan baik, maka ini akan menjadi pembeda dengan kain tenun dari daerah-daerah lainnya. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
radar kediri tenun ikat Kampung Tenun mojoroto jawa pos kota kediri