YANG TAK PERNAH IA UCAPKAN
(KRISTINA NATALIA BR PASARIBU)
Ayah adalah lelaki yang jarang bicara,
tapi setiap diamnya adalah kalimat panjang
yang butuh waktu bertahun untuk kupahami.
Ia bukan pahlawan dalam dongeng,
tak ada jubah, tak ada mahkota
hanya kemeja lusuh yang sama setiap hari,
dan sepatu yang solnya diganti berkali-kali
karena membeli baru berarti mengurangi jatah sekolahku.
Aku ingat pagi-pagi ketika kabut masih menggantung,
ia sudah berangkat sebelum ayam sempat berkokok,
membawa harapan yang tak pernah ia pamerkan,
menitipkan doa di setiap langkah yang berat.
Waktu aku gagal, ia tak memarahi.
Hanya menepuk pundakku pelan,
seolah berkata, "Bangun itu bukan soal jatuhnya,
tapi soal siapa yang menunggumu berdiri lagi."
Kadang aku lupa,
bahwa di balik raut wajahnya yang keras,
ada lautan yang ia simpan sendiri
kekhawatiran yang tak pernah ia bagi,
takut aku ikut memikul beban yang bukan milikku.
Ia mengajarkan tanpa menggurui.
Dari cara ia bangun subuh meski tubuhnya menolak,
dari cara ia tetap tersenyum walau dompetnya menipis,
dari cara ia memilih lapar
asal anaknya tak pernah merasakannya.
Aku tumbuh, dan ia menyusut
bukan tubuhnya, tapi waktunya bersamaku.
Rambut yang dulu hitam legam
kini dipenuhi uban yang kusesali tak sempat kuhitung satu per satu.
Aku tahu suatu hari nanti
akan ada masa ketika suaranya
hanya tinggal gema di kepalaku,
dan aku akan mencarinyadi setiap lelaki tua yang berjalan pelan,
di setiap aroma kopi pagi,
di setiap nasihat yang dulu kuanggap cerewet.
Maka sebelum waktu itu tiba,
biarkan aku berkata,
meski canggung, meski kaku:
Terima kasih, Ayah.
Untuk peluh yang tak pernah kau ceritakan,
untuk luka yang kau sembunyikan rapi,
untuk cinta yang kau ucapkan
bukan lewat kata,
tapi lewat seluruh hidupmu
yang kau berikan, diam-diam,
untukku.
PROFIL PENULIS
Kristina Natalia Br Pasaribu merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. Ia memilikiBketertarikan dalam sastra. Khususnya puisi, sebagai ruang untuk menuangkan gagasan perasaan, ide dan pengalaman hidup yang dialami ke dalam rangkaian kata yang disusun. Dalam perjalanan karya ia pernah mengikuti lomba menulis puisi, pada Event Menulis Puisi dan masuk nominasi 10 puisi terbaik , serta dipublikasikan dalam satu buku. Bagi Kristina, menulis puisi adalah sebuah kegiatan menuangkan rasa, dan menyusunnya menjadi sebuah perpaduan utuh yang indah.
SEJAK TIGA TAHUN IBU
(LIDYA MANURUNG)
aku masih terlalu kecil saat kau pergi
Usiaku baru tiga tahun
Bahkan aku belum mengerti
apa arti kehilangan
Sekarang aku sudah besar
Banyak hal yang ingin kuceritakan
Tentang hari-hariku
Tentang mimpi-mimpiku
Tapi aku hanya bisa menyimpannya sendiri
Kadang aku bertanya,
seperti apa rasanya dipeluk olehmu?
Seperti apa suaramu memanggil namaku?
Aku tidak tahu
karena ingatanku tentangmu terlalu sedikit
Aku tidak marah, Bu
Aku hanya rindu
Rindu pada seseorang
yang bahkan tidak sempat kukenal lebih jauh
Kalau suatu hari rinduku sampai kepadamu,
aku ingin kau tahu
aku masih anak kecilmu
yang sejak usia tiga tahun
selalu mencari sosok ibu
dalam setiap doaku.
PROFIL PENULIS
Lidya Manurung merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. Ia memiliki ketertarikan dalam sastra. Khususnya puisi, sebagai ruang untuk menuangkan gagasan perasaan, ide dan pengalaman hidup yang dialami ke dalam rangkaian kata yang disusun. Dalam perjalanan karya ia pernah mengikuti lomba menulis puisi, pada Event Menulis Puisi dan masuk nominasi 10 puisi terbaik , serta dipublikasikan dalam satu buku. Bagi Lidya, menulis puisi adalah sebuah kegiatan menuangkan rasa, dan menyusunnya menjadi sebuah perpaduan utuh yang indah.
Editor : Shinta Nurma Ababil