Puisi: Kristina Natalia Br Pasaribu & Lidya Manurung

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 21:10 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi 

YANG TAK PERNAH IA UCAPKAN

(KRISTINA NATALIA BR PASARIBU)

Ayah adalah lelaki yang jarang bicara,

tapi setiap diamnya adalah kalimat panjang

yang butuh waktu bertahun untuk kupahami.


Ia bukan pahlawan dalam dongeng,

tak ada jubah, tak ada mahkota

hanya kemeja lusuh yang sama setiap hari,

dan sepatu yang solnya diganti berkali-kali

karena membeli baru berarti mengurangi jatah sekolahku.


Aku ingat pagi-pagi ketika kabut masih menggantung,

ia sudah berangkat sebelum ayam sempat berkokok,

membawa harapan yang tak pernah ia pamerkan,

menitipkan doa di setiap langkah yang berat.


Waktu aku gagal, ia tak memarahi.

Hanya menepuk pundakku pelan,

seolah berkata, "Bangun itu bukan soal jatuhnya,

tapi soal siapa yang menunggumu berdiri lagi."


Kadang aku lupa,

bahwa di balik raut wajahnya yang keras,

ada lautan yang ia simpan sendiri

kekhawatiran yang tak pernah ia bagi,

takut aku ikut memikul beban yang bukan milikku.


Ia mengajarkan tanpa menggurui.

Dari cara ia bangun subuh meski tubuhnya menolak,

dari cara ia tetap tersenyum walau dompetnya menipis,

dari cara ia memilih lapar

asal anaknya tak pernah merasakannya.


Aku tumbuh, dan ia menyusut

bukan tubuhnya, tapi waktunya bersamaku.

Rambut yang dulu hitam legam

kini dipenuhi uban yang kusesali tak sempat kuhitung satu per satu.


Aku tahu suatu hari nanti

akan ada masa ketika suaranya

hanya tinggal gema di kepalaku,

dan aku akan mencarinyadi setiap lelaki tua yang berjalan pelan,

di setiap aroma kopi pagi,

di setiap nasihat yang dulu kuanggap cerewet.


Maka sebelum waktu itu tiba,

biarkan aku berkata,

meski canggung, meski kaku:


Terima kasih, Ayah.

Untuk peluh yang tak pernah kau ceritakan,

untuk luka yang kau sembunyikan rapi,

untuk cinta yang kau ucapkan

bukan lewat kata,

tapi lewat seluruh hidupmu

yang kau berikan, diam-diam,

untukku.

PROFIL PENULIS

Penulis puisi
Penulis puisi

Kristina Natalia Br Pasaribu merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. Ia memilikiBketertarikan dalam sastra. Khususnya puisi, sebagai ruang untuk menuangkan gagasan perasaan, ide dan pengalaman hidup yang dialami ke dalam rangkaian kata yang disusun. Dalam perjalanan karya ia pernah mengikuti lomba menulis puisi, pada Event Menulis Puisi dan masuk nominasi 10 puisi terbaik , serta dipublikasikan dalam satu buku. Bagi Kristina, menulis puisi adalah sebuah kegiatan menuangkan rasa, dan menyusunnya menjadi sebuah perpaduan utuh yang indah.

Ilustrasi
Ilustrasi 

SEJAK TIGA TAHUN IBU

(LIDYA MANURUNG)

aku masih terlalu kecil saat kau pergi

Usiaku baru tiga tahun

Bahkan aku belum mengerti

apa arti kehilangan


Sekarang aku sudah besar

Banyak hal yang ingin kuceritakan

Tentang hari-hariku

Tentang mimpi-mimpiku

Tapi aku hanya bisa menyimpannya sendiri


Kadang aku bertanya,

seperti apa rasanya dipeluk olehmu?

Seperti apa suaramu memanggil namaku?


Aku tidak tahu

karena ingatanku tentangmu terlalu sedikit

Aku tidak marah, Bu

Aku hanya rindu

Rindu pada seseorang

yang bahkan tidak sempat kukenal lebih jauh


Kalau suatu hari rinduku sampai kepadamu,

aku ingin kau tahu

aku masih anak kecilmu

yang sejak usia tiga tahun

selalu mencari sosok ibu

dalam setiap doaku.

PROFIL PENULIS

Penulis puisi
Penulis puisi

Lidya Manurung merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. Ia memiliki ketertarikan dalam sastra. Khususnya puisi, sebagai ruang untuk menuangkan gagasan perasaan, ide dan pengalaman hidup yang dialami ke dalam rangkaian kata yang disusun. Dalam perjalanan karya ia pernah mengikuti lomba menulis puisi, pada Event Menulis Puisi dan masuk nominasi 10 puisi terbaik , serta dipublikasikan dalam satu buku. Bagi Lidya, menulis puisi adalah sebuah kegiatan menuangkan rasa, dan menyusunnya menjadi sebuah perpaduan utuh yang indah. 

Editor : Shinta Nurma Ababil
universitas negeri medan puisi sastra