Kita Yang Pernah
Karya: Dora Perawati Sihotang
Pernah ada waktu Ketika namamu terasa seperti rumah
Tempat hatiku berpulang tanpa perlu mengetuk pintu
Pernah terpikir bahwa diantara banyaknya manusia
Barangkali semesta sedang diam diam,
Mempertemukan kita untuk sebuah alasan.
Perkataanmu dimasa lampau entah mengapa aku membutuhkan
Begitu banyak malam untuk memahaminya
Kita masih berteman seperti biasa seolah tak pernah ada hati
Yang diam diam saling menunggu
Aku rindu percakapan yang dulu terasa singkat
Pada perhatian yang tak perlu kuminta
Pada perasaan yang dulu kita biarkan tumbuh
Meski tak pernah benar benar kita beri nama
Maka izin kan aku menunggumu
Walau aku tau kau tidak berjuang lagi
Biarkan waktu yang menjawab bagaimana kedepannya
Tetapi rasaku biarlah terus mengendap hanya untuk namamu
Menunggu Pukul Sepuluh
Karya: Dora Perawati Sihotang
Dibalik layar kecil yang menyala,
Seorang gadis menemukan dunia yang berbeda.
Bukan dunia tanpa masalah,
bukan pula dunia yang sempurna,
Tetapi dunia yang cukup untuk membuatnya
lupa bahwa hatinya begitu Lelah.
Sebuah permainan sederhana,
beberapa suara yang saling bersahutan,
Tawa yang tak pernah ia rencanakan.
Ia bertemu dengan orang dengan cerita yang berbeda
Kehidupan yang tak sama, dan luka yang mungkin
Tak semuanya terlihat.
Tak ada yang benar-benar tahu bahwa pertemuan kecil itu
akan menjadi begitu berarti.
Berawal dari permainan, lalu candaan,
kemudian tawa yang semakin akrab hingga tanpa disadari,
mereka mulai menjadi bagian dari hari satu sama lain.
Ada tempat untuk pulang setelah hari yang melelahkan.
Ada suara yang dinanti. Ada tawa yang selalu berhasil
membuat luka terasa lebih ringan.
Terima kasih untuk setiap malam yang kalian beri.
untuk candaan yang tak masuk akal,
untuk tawa yang terlalu panjang,
dan untuk kebersamaan yang semoga tak hanya singgah.
Pukul sepuluh malam akan selalu menjadi pengingat,
bahwa pernah ada orang yang dipertemukan secara sederhana,
lalu tanpa sengaja menjadi alasan hidup.
Biodata Penulis
Dora Perawati Sihotang lahir di Sidikalang, 23 mei 2006. Dora merupakan mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Dora memiliki kepribadian yang ceria, ekspresif, serta humoris. Dora juga suka menulis puisi untuk mengungkapkan perasaan yang dia alami. Dora juga memiliki hobi bermain game dan memasak, dan satu hal lagi dia sangat suka warna pink dan barang yang lucu.
Tuan dalam Sajak Sunyi
Karya : Yosi Aunike Sinuraya
Pada malam yang riuh oleh bintang,
kutitipkan namamu kepada semesta,
sebuah temu yang datang tanpa sengaja, namun tinggal panjang,
lalu menjelma rasa yang tak sempat menjadi kata.
Tuan, kau terlalu nirmala untuk sekadar kukagumi,
hampir segala yang kucari, ada pada dirimu,
maka namamu kulangitkan, meski tak pernah kumiliki,
sebab semakin kuingini, semakin kutakuti kehilanganmu.
Bukan aku tak mau dekat, bukan pula tak ingin bersama,
aku hanya gentar memiliki sesuatu yang kelak harus kulepaskan,
sebab lebih baik kau tak tahu rasaku, daripada kita saling mencinta,
lalu menjadi dua insan yang pernah mengenal, namun tak lagi saling mengenali dalam
kenangan.
Maka biarlah kau menjadi saujana dari Medan yang kupandang dalam diam,
kau tak perlu tahu betapa sering rinduku bersujud dalam doa,
biarlah perkenalan kita tetap utuh, meski rasaku tak pernah sampai menggenggam,
sebab bila kau bertanya apa arti cinta, mungkin beginilah jawabnya: mencintaimu tanpa
memiliki, agar tak kehilangan kita.
Kita yang Tak Sempat Bernama
Karya : Yosi Aunike Sinuraya
Aku terlanjur karam,
tenggelam bersama kelam malam.
Aku enggan lagi menjamah cinta insan,
usai kau pergi tanpa salam.
Kau pergi tanpa benar-benar datang,
dan aku pun tenggelam
dalam kehilangan yang tak sempat punya nama.
Sejak saat itu, aku belajar,
luka dapat tumbuh dari harap,
yang tak pernah disuarakan.
Bukankah hidup hanya sekali?
Mengapa takdir enggan mempertemukan kita di sini?
Apa aku terlalu penuh luka,
hingga kau takut terjerat bila berlabuh di dalamnya?
Kini hanya sunyi yang menjawab segala sapa,
kau menjadi siluet samar dalam kenangan yang tak mati.
Akulah yang kau tinggalkan di tengah jalan,
setelah diyakinkan ikut dalam perjalanan,
dan aku masih karam pada harap
yang kau biarkan tanpa kepastian.Dari aku,
perempuan yang tak jadi kau bawa ke hidupmu.
Biodata Penulis
Yosi Aunike Sinuraya, lahir di Medan, 5 Desember 2005. Ia merupakan mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Tumbuh sebagai putri bungsu dalam keluarga, ia menemukan kata-kata sebagai ruang untuk menyimpan hal-hal yang tak selalu mampu diucapkan. Baginya, menulis adalah cara untuk mengabadikan rasa, pertemuan, dan hal-hal sederhana yang pernah singgah. Ia percaya, sesuatu yang tak sempat dimiliki pun tetap layak dikenang, sebab tidak semua perasaan harus berakhir dengan memiliki untuk menjadi sebuah cerita.
Editor : Shinta Nurma Ababil