Puisi: Dora Perawati Sihotang dan Yosi Aunike Sinuraya

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 23:36 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi 

Kita Yang Pernah

Karya: Dora Perawati Sihotang

Pernah ada waktu Ketika namamu terasa seperti rumah

Tempat hatiku berpulang tanpa perlu mengetuk pintu

Pernah terpikir bahwa diantara banyaknya manusia

Barangkali semesta sedang diam diam,

Mempertemukan kita untuk sebuah alasan.


Perkataanmu dimasa lampau entah mengapa aku membutuhkan

Begitu banyak malam untuk memahaminya

Kita masih berteman seperti biasa seolah tak pernah ada hati

Yang diam diam saling menunggu

Aku rindu percakapan yang dulu terasa singkat

Pada perhatian yang tak perlu kuminta

Pada perasaan yang dulu kita biarkan tumbuh

Meski tak pernah benar benar kita beri nama


Maka izin kan aku menunggumu

Walau aku tau kau tidak berjuang lagi

Biarkan waktu yang menjawab bagaimana kedepannya

Tetapi rasaku biarlah terus mengendap hanya untuk namamu

Ilustrasi
Ilustrasi

Menunggu Pukul Sepuluh

Karya: Dora Perawati Sihotang

Dibalik layar kecil yang menyala,

Seorang gadis menemukan dunia yang berbeda.

Bukan dunia tanpa masalah,

bukan pula dunia yang sempurna,

Tetapi dunia yang cukup untuk membuatnya

lupa bahwa hatinya begitu Lelah.

Sebuah permainan sederhana,

beberapa suara yang saling bersahutan,

Tawa yang tak pernah ia rencanakan.


Ia bertemu dengan orang dengan cerita yang berbeda

Kehidupan yang tak sama, dan luka yang mungkin

Tak semuanya terlihat.

Tak ada yang benar-benar tahu bahwa pertemuan kecil itu

akan menjadi begitu berarti.


Berawal dari permainan, lalu candaan,

kemudian tawa yang semakin akrab hingga tanpa disadari,

mereka mulai menjadi bagian dari hari satu sama lain.

Ada tempat untuk pulang setelah hari yang melelahkan.

Ada suara yang dinanti. Ada tawa yang selalu berhasil

membuat luka terasa lebih ringan.


Terima kasih untuk setiap malam yang kalian beri.

untuk candaan yang tak masuk akal,

untuk tawa yang terlalu panjang,

dan untuk kebersamaan yang semoga tak hanya singgah.


Pukul sepuluh malam akan selalu menjadi pengingat,

bahwa pernah ada orang yang dipertemukan secara sederhana,

lalu tanpa sengaja menjadi alasan hidup.

Biodata Penulis

Penulis puisi
Penulis puisi 

Dora Perawati Sihotang lahir di Sidikalang, 23 mei 2006. Dora merupakan mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Dora memiliki kepribadian yang ceria, ekspresif, serta humoris. Dora juga suka menulis puisi untuk mengungkapkan perasaan yang dia alami. Dora juga memiliki hobi bermain game dan memasak, dan satu hal lagi dia sangat suka warna pink dan barang yang lucu.

Ilustrasi
Ilustrasi

Tuan dalam Sajak Sunyi

Karya : Yosi Aunike Sinuraya

Pada malam yang riuh oleh bintang,

kutitipkan namamu kepada semesta,

sebuah temu yang datang tanpa sengaja, namun tinggal panjang,

lalu menjelma rasa yang tak sempat menjadi kata.


Tuan, kau terlalu nirmala untuk sekadar kukagumi,

hampir segala yang kucari, ada pada dirimu,

maka namamu kulangitkan, meski tak pernah kumiliki,

sebab semakin kuingini, semakin kutakuti kehilanganmu.


Bukan aku tak mau dekat, bukan pula tak ingin bersama,

aku hanya gentar memiliki sesuatu yang kelak harus kulepaskan,

sebab lebih baik kau tak tahu rasaku, daripada kita saling mencinta,

lalu menjadi dua insan yang pernah mengenal, namun tak lagi saling mengenali dalam

kenangan.


Maka biarlah kau menjadi saujana dari Medan yang kupandang dalam diam,

kau tak perlu tahu betapa sering rinduku bersujud dalam doa,

biarlah perkenalan kita tetap utuh, meski rasaku tak pernah sampai menggenggam,

sebab bila kau bertanya apa arti cinta, mungkin beginilah jawabnya: mencintaimu tanpa

memiliki, agar tak kehilangan kita.

Ilustrasi
Ilustrasi 

Kita yang Tak Sempat Bernama

Karya : Yosi Aunike Sinuraya

Aku terlanjur karam,

tenggelam bersama kelam malam.

Aku enggan lagi menjamah cinta insan,

usai kau pergi tanpa salam.


Kau pergi tanpa benar-benar datang,

dan aku pun tenggelam

dalam kehilangan yang tak sempat punya nama.

Sejak saat itu, aku belajar,

luka dapat tumbuh dari harap,

yang tak pernah disuarakan.


Bukankah hidup hanya sekali?

Mengapa takdir enggan mempertemukan kita di sini?

Apa aku terlalu penuh luka,

hingga kau takut terjerat bila berlabuh di dalamnya?


Kini hanya sunyi yang menjawab segala sapa,

kau menjadi siluet samar dalam kenangan yang tak mati.

Akulah yang kau tinggalkan di tengah jalan,

setelah diyakinkan ikut dalam perjalanan,

dan aku masih karam pada harap

yang kau biarkan tanpa kepastian.Dari aku,

perempuan yang tak jadi kau bawa ke hidupmu.

Biodata Penulis

Penulis puisi
Penulis puisi

Yosi Aunike Sinuraya, lahir di Medan, 5 Desember 2005. Ia merupakan mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Tumbuh sebagai putri bungsu dalam keluarga, ia menemukan kata-kata sebagai ruang untuk menyimpan hal-hal yang tak selalu mampu diucapkan. Baginya, menulis adalah cara untuk mengabadikan rasa, pertemuan, dan hal-hal sederhana yang pernah singgah. Ia percaya, sesuatu yang tak sempat dimiliki pun tetap layak dikenang, sebab tidak semua perasaan harus berakhir dengan memiliki untuk menjadi sebuah cerita.

Editor : Shinta Nurma Ababil
universitas negeri medan puisi mahasiswa puisi