Puisi: Gladys Felicia Manik & Natalicha Bethelina Sidabutar

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 20:44 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KANVAS INGATAN

( GLADYS FELICIA MANIK)

Beritahu aku apa yang lebih jahat

dari keadaan dan waktu

Bahkan semua yang kita lalui pun,

masih belum dihadiahi bahagia


Siapa bilang semua orang layak bahagia?

Semesta tidak pernah sudi memberikannya

pada dua insan bumi yang berbeda


Bagaikan dua pelukis

Kanvasmu yang sudah beradu dengan kuas

Maka kanvasku yang masih kosong

Mendamba sentuhan dari kuasmu

Tak apa jika hanya memberi titik padanya


Untuk hari ini aku ingin bertanya pada senja

Apakah ada cara pamit yang lebih manis dari senja?

Kenapa ketika dia menghilang,

bisa melahirkan malam yang penuh dengan bintang?

Sebab semanis apapun cara pamit,

perpisahan tetaplah terasa pahit


Sekarang aku tersesat dalam kesedihan

dan kamu yang abadi dalam ingatan

Semua kenangan yang kita ciptakan

Tidak akan pernah kembali kedalam dekapan.

PROFIL PENULIS

Penulis puisi
Penulis puisi 

Gladys Felicia Manik lahir di Simantin, 12 Maret 2006. Ia merupakan mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan, berzodiak Pisces, ekstrovert, dan mudah akrab. Gladys suka menulis apa saja yang muncul di pikirannya dan gemar berkhayal, termasuk tentang satu hal sederhana: suatu hari bisa pergi ke bulan untuk berkhayal disana.

Ilustrasi
Ilustrasi

PADA HALAMAN YANG BELUM BERNAMA

Barangkali hari ini
langit menutup seluruh pintunya,
kita berdiri di ambang sunyi menggenggam
harapan yang nyaris kehilangan nama.

Tak apa.
Sebab benih mengenal gelap
sebelum ia mengenal cahaya.

Dan malam,
betapapun panjangnya,
tak pernah berhasil mengusir fajar.
Maka biarkan waktu
menjahit luka dengan sabarnya.

Biarkan yang pergi
menjadi ruang bagi yang akan datang.
Sebab tak semua kehilangan
adalah akhir dari sebuah cerita.

Ada sesuatu
yang sedang tumbuh dalam diam,
di balik hari-hari yang belum kita mengerti
sebuah jalan,
sebuah kemungkinan,
sebuah masa depan
yang belum sempat kita sebut dengan nama

Jangan gentar pada esok
hanya karena hari ini belum ramah.
Berjalanlah.
Dengan hati yang pernah patah,
namun belum kehilangan percaya.
Sebab hidup belum menuliskan kalimat terakhirnya.

Dan siapa tahu
pada halaman yang hari ini masih putih,
telah menunggu sebuah kisah
yang kelak membuatmu mengerti

Ternyata,
yang kau kira jalan buntu
hanyalah jeda
sebelum kehidupan
membukakan pintu.

Biodata Penulis

Penulis puisi
Penulis puisi

Natalicha Bethelina Sidabutar. Lahir di Balige, 25 Desember 2005 yang berdomisili di
Pematangsiantar, Sumatera Utara. Ia merupakan mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Natalicha memiliki minat pada penulisan puisi sebagai ruang mengekspresikan pengalaman, perasaan, dan refleksi kehidupan sehari-hari. Baginya, menulis adalah cara merawat ingatan dan memberi makna pada hal-hal sederhana.

 

Editor : Shinta Nurma Ababil
puisi sastra