JP Radar Kediri - Bumdes Woromarto meluncurkan program permodalan yang fokus pada ketahanan pangan. Program inovatif ini memungkinkan petani mendapatkan pupuk non-subsidi di awal musim tanam dan baru membayarnya setelah panen tiba.
Program tersebut baru dimulai tahun ini. Sekaligus menjadi usaha pertama sejak bumdes terbentuk. Bumdes tersebut bernama Mandiri Sejahtera Woromarto. Adanya program tersebut karena hampir 90 persen penduduk desa bekerja sebagai petani.
“Program ini bukan hanya usaha desa saja. Tetapi juga sarana membantu dan mempermudah petani yang kesulitan membeli pupuk di awal musim,” ujar Kepala Desa Woromarto Hj Siti Miftakul Janah.
Dalam menjalankan usaha, Bumdes menjalin kerja sama dengan distributor untuk pengadaan pupuk non-subsidi. Jenis pupuk yang disediakan bervariasi. Termasuk Set Tawon, Urea, dan Set Akasia. Sesuai dengan permintaan petani.
Mekanisme program ini cukup sederhana. Setelah sosialisasi, petani yang berminat didata. Pinjaman pupuk bervariasi. Mulai dari dua sak hingga puluhan sak. Petani cukup membayar lunas pinjaman itu sekitar empat bulan kemudian. Setelah hasil panen mereka terjual. “Jualnya sama dengan harga toko, nanti kembalinya setelah panen,” ungkap Siti.
Meski pupuk dijual dengan harga pasar, Bumdes mengenakan biaya administrasi atau jasa sebesar Rp 15 ribu per item pinjaman. Itu juga dibayarkan di akhir masa panen.
Antusiasme petani Woromarto terhadap program ini sangat tinggi. Tercatat, hingga saat ini sudah ada 80 petani yang melakukan pinjaman. Hal ini menunjukkan bahwa skema permodalan yang awal sangat dibutuhkan untuk menopang biaya operasional pertanian di desa.
Editor : Mahfud