Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Panik

M
Penulis: Mahfud❯
Ilustrasi Panik (Afrizal/JPRK)
Ilustrasi Panik (Afrizal/JPRK)

Advertisement

Apa sih panik itu? Coba buka KBBI. Kita pasti menemukan definisi denotatifnya kata itu. Yaitu, perasaan takut, bingung, gugup secara tiba-tiba. 

Hanya itu? Tunggu, masih ada kelanjutannya. Seringkali  melanda secara massal!

Artinya, antrean panjang masyarakat di penjuru tanah air di SPBU-SPBU yang terjadi malam hari menjelang pergantian bulan Maret ke April sebagai bentuk kepanikan? Iya! Sangat jelas masyarakat dilanda kepanikan. Takut bakal terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak alias BBM.

Advertisement

Lho, mengapa masyarakat berasumsi harga BBM naik? Jelas, situasi terkini di perang Ameria-Israel vs Iran jadi pemicu. Masyarakat tahunya adalah perang itu membuat distribusi minyak mentah tersendat. Konon, selat Hormus-yang saat ini dipersempit aksesnya oleh Negara Para Mullah itu merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. Jadi, kalau kapal tanker pemuat minyak mentah gagal melintas maka harga naik adalah keniscayaan.

Baca Juga: Mental Tempe

Faktanya? Harga BBM di negara kita tidak naik. Pemerintah pun sudah menegaskan itu. Toh, tetap saja antrean mengular terjadi di pom-pom bensin di seluruh tanah air. Jadi, mengapa kita gampang panik? Bahkan oleh alasan yang harusnya bisa kita nalar terlebih dulu.

Advertisement

Bila ingin membedah itu, yaitu mengapa kita gampang panik, terus terang, agak njlimet juga. Tak cukup ruang tulis opini yang hanya dibatas maksimal 800-an kata. Sebab, membedah panik harus masuk di, minimal, tiga bidang ilmu sekaligus. Weleh..weleh...weleh...!

Lha iyes sudah pasti itu. Membahas panik harus dari tiga sudut pandang. Psikologis, sosiologis, dan antropologis. Apalagi ketika mencoba memahami kepanikan yang terjadi seperti antrean di pom bensin itu.

Dari perspektif psikologi, panik dipandang sebagai respons ketakutan yang intens dan mendadak tanpa adanya ancaman yang nyata dan proporsional. Dalam sudut pandang ini, panik lebih merupakan terganggunya mekanisme tubuh. Terutama sistem saraf. Karena itu ada istilah panic disorder. Terjadi secara berulang dan spontan.

Tapi, menurut saya, kepanikan seperti yang terjadi terkait isu-isu di masyarakat lebih mudah dijelaskan dari aspek sosiologi maupun antropologi. Karena dari kacamata sosiologi, panik adalah fenomena kolektif. Bukan fokus pada apa yang dirasakan satu orang. Melainkan bagaimana ketakutan itu  menyebar di masyarakat.

Nah, menurut sosiologi ini, panik ada tiga jenis panik. Moral panic, structur disintegration, dan social contagion. Yang pertama, istilah itu dipopulerkan oleh Stanley Cohen. Merujuk kondisi masyarakat yang merasa nilai sosial mereka terancam oleh fenomena tertentu. Sedangkan yang kedua, panik terjadi ketika rutinitas sosial terputus dan individu kehilangan kepercayaan pada institusi yang seharusnya melindungi mereka. Nah, tidak asing dengan situasi ini?

Advertisement

Artikel Terkait

Buku Bajakan dan Krisis Intelektualisme Indonesia

Buku Bajakan dan Krisis Intelektualisme Indonesia

Indonesia sedang mengalami fenomena yang unik. Anak muda hari ini tampak lebih dekat dengan buku dibanding generasi sebelumnya.

Membaca Alarm Sunyi: Fenomena Mencekam Bunuh Diri Pelajar di Kediri

Membaca Alarm Sunyi: Fenomena Mencekam Bunuh Diri Pelajar di Kediri

Dunia pendidikan dan ruang sosial kita di Bumi Panjalu sedang tidak baik-baik saja.

Menimbang Nyawa dengan Dua Mata: Sains dan Islam dalam Angka Kesehatan

Menimbang Nyawa dengan Dua Mata: Sains dan Islam dalam Angka Kesehatan

Puluhan tahun lamanya kita menyimpan ilmu di rumah bersekat. Farmasi mendapat satu kamar, ekonomi kamar di sebelahnya, dan agama menunggu di ruang tamu.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer