Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
JP Radar Kediri – Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Setia Hati (SH) sering dianggap sebagai organisasi yang sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Keduanya berasal dari satu sumber ajaran yaitu Setia Hati yang dikembangkan Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo atau Eyang Suro.
PSHT merupakan organisasi pencak silat resmi yang berdiri tahun 1922 di Madiun. Saat itu namanya masih Setia Hati Pemuda Sport Club (SH PSC). Nama itu kemudian diubah menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pada kongres pertamanya. Organisasi ini kini dikenal luas di Indonesia bahkan di luar negeri karena sistem pengkaderannya yang kuat dan struktur organisasinya yang modern.
Sementara itu, istilah Setia Hati (SH) lebih merujuk pada ajaran pencak silat yang dikembangkan oleh Eyang Suro sejak awal abad ke-20. Ajaran ini kemudian melahirkan beberapa perguruan silat, salah satunya adalah PSHW (Persaudaraan Setia Hati Winongo).
PSHT Fokus Pengkaderan Nasional, SH sebagai Ajaran Induk
Perbedaan PSHT dan SH bisa dilihat dari struktur organisasi dan fokus pengkaderannya. PSHT memiliki sistem latihan dan pengesahan yang teratur serta pembinaan karakter bagi anggotanya. Warga PSHT tidak hanya diajarkan jurus, tapi juga nilai kejujuran, tanggung jawab, dan persaudaraan.
Sebaliknya, Setia Hati dalam konteks umum bukanlah satu organisasi, melainkan ajaran silat dan spiritual. Dari ajaran ini, kemudian muncul beberapa perguruan, seperti PSHW, yang berkembang di kawasan Winongo, Madiun. PSHW dan perguruan lain mengembangkan ajaran SH dengan cara dan tradisi masing-masing.
Meski ada perbedaan tata cara pengesahan, simbol, dan sistem pelatihan, semua perguruan yang lahir dari ajaran Setia Hati tetap mengusung nilai dasar yang sama: membentuk manusia berbudi luhur dan tahu benar dan salah.
Sama Nilai, Berbeda Wadah
Baik PSHT maupun PSHW sama-sama mengajarkan pencak silat sebagai jalan hidup, bukan hanya bela diri. Tujuannya adalah melatih kepekaan, pengendalian diri, dan tanggung jawab sosial. Perbedaan keduanya bukan bentuk persaingan atau perpecahan, melainkan perkembangan dari satu sumber ajaran yang disesuaikan dengan konteks zaman dan wilayah.
Kini, PSHT memiliki jutaan anggota di seluruh Indonesia. Kegiatan pengesahan siswa menjadi warga PSHT dilakukan setiap tahun dengan jumlah peserta yang terus meningkat. Hal ini menjadi bukti bahwa ajaran Setia Hati tetap relevan di tengah kehidupan modern.
Ajaran Eyang Suro Tetap Hidup
Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo atau Eyang Suro adalah tokoh utama di balik berkembangnya ajaran Setia Hati. Ia dikenal sebagai pendekar dan tokoh spiritual yang menyebarkan ilmu silat ke berbagai daerah sejak akhir abad ke-19. Dari ajarannya, tumbuh perguruan-perguruan yang kini menjadi bagian penting dari warisan budaya pencak silat Indonesia.
Editor : rekian