Aba Prambudi berjalan di pematang sawah. Petani yang berdomisili di Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Merawat batang-batang padi yang mulai ditumbuhi bulir-bulir.
Aba adalah satu dari sedikit orang yang bertahan menjadi petani. Bersama belasan petani lain dia mengelola sawah seluas lebih dari 4 hektare. Bila dibandingkan beberapa tahun silam, lahan sawah itu sudah menyusut banyak. Sebagian besar telah beralih menjadi perumahan.
Aba tetap bertahan karena masih mendapat keuntungan dari sawah yang dia Kelola. Meskipun hanya sedikit tapi sudah jadi alasan utama mempertahankan pekerjaan yang dia geluti sejak lama. Dia pun bisa memaklumi bila banyak petani yang melepas lahan. Karena antara biaya perawatan dan hasil sudah tak seimbang lagi.
"Biasanya, pertama, kondisi tanah kurang bagus,” ucapnya memberi alasan mengapa banyak petani yang melego tanahnya.
“Kemudian sudah tak seimbang antara (biaya) pengolahan tanah sampai panen dengan hasilnya,” sambungnya.
Menurut Aba, harga pupuk dan obat-obatan semakin mahal. Para petani akhirnya tak punya banyak pilihan. Akhirnya menjual lahannya karena desakan kebutuhan hidup.
“Taraf kehidupan petani semakin menurun,” keluh Aba sembari memandangi hamparan padi yang menghijau.
Di sisi lain, sejak awal 1990-an, perkembangan di wilayah Pesantren berlangsung pesat. Banyak berdiri permukiman penduduk. Juga, tumbuh pabrik-pabrik serta gudang-gudang sebagai imbas dari perkembangan dunia industri. Tentu saja yang jadi korban adalah lahan pertanian.
Belum lagi ada pergantian pemilik sawah, yang kemudian menanami lahan dengan tebu. “Ada petani yang menjual atau menyewakan ke pengusaha untuk ditanami tebu,” terangnya.
Muslih punya kisah yang lain lagi. Petani asal Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren ini sekarang hanya punya sawah seluas 250 ru. Satu ru itu setara dengan 14 meter persegi. Artinya, sawah lelaki ini hanya seluas 3.500 meter persegi, tak sampai setengah hektare.
Padahal, dulunya sawahnya sangat luas. Luasnya mencapai tiga hektare. Sebagian terpaksa dia jual karena terdesak kebutuhan.
“Pada tahun 2018 saya jual. Saat itu sempat rugi terus. Panenannya kurang bagus,” akunya.
Uangnya kemudian dia belikan tanah. Tapi bukan untuk sawah melainkan didirikan rumah kos. Bisnis kos-kosan ternyata lebih menjanjikan.
"Kos-kosan setiap tahun bisa naik harganya. Setiap bulan ada hasilnya,” dalihnya.
“Misalnya (punya) 10 kamar saja dengan harga Rp 400 ribu, sudah dapat Rp 4 juta dalam sebulan," urainya.
Soal menyusutnya lahan pertanian di Kota Kediri, diakui oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Mohammad Ridwan. "Dari total luas lahan sekitar 4.517,64 hektare terjadi penyusutan sekitar 20 hektare," terang mantan Camat Mojoroto ini.
Dari luas tersebut, paling banyak ditanami tebu. Pada 2021 lalu panenan bahan baku gula ini mencapai 123,006 ton. Sementara produksi padi hanya 13.082 ton.
Produksi jagung lebih sedikit lagi. Hanya 8,813 ton. Penyebabnya adalah kondisi tanah di kota yang tak cocok untuk tanaman jagung atau palawija yang lain. “Akibat sering menggunakan bahan kimia dan obat-obatan menyebabkan tingkat keasaman tanah meningkat. Sehingga tak cocok untuk ditanami jagung,” papar sang kepala dinas.
Soal pengalihan fungsi lahan, ada beberapa peruntukan. Sebagian besar adalah menjadi kawasan pertokoan, perumahan, dan industri. Sebagian kecil lagi berganti menjadi lahan tebu.
Menariknya, meskipun menyusut Ridwan berdalih tak memengaruhi produktivitas. Produksi pertanian selalu melampui target. Meskipun selisihnya hanya sekitar 2 ton saja.
Ridwan memang tak bisa menyalahkan para petani yang menjual lahan sawahnya. Mereka tentu punya alasan sendiri-sendiri. Yang dilakukan instansinya saat ini adalah rajin turun ke masyarakat. Memberkan edukasi pada para petani agar mempertahankan fungsi lahannya.
Kemudian, bila mendapat keluhan dari petani, DKPP juga responsif. Terutama terkait pengetahuan dan kondisi cuaca.
“Kami memberi tahu kalau sekarang ini intensitas curah hujan masih tinggi. Jadi petani bisa mengira-ngira kapan waktunya tanam supaya tanamannya tidak rusak dan tidak rugi," ujar lelaki yang menetap di Pare, Kabupaten Kediri ini. Editor : Anwar Bahar Basalamah