
“Beberapa hari yang lalu warga Dusun Baba'an, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem mendadak geger. Itu karena ada sesosok bayi perempuan yang diduga kuat baru dilahirkan ditemukan telantar di area pinggir jalan persawahan setempat dalam kondisi hidup dan memprihatinkan.”
KEDIRI, JP Radar Kediri - Sebenarnya penemuan bayi di wilayah Kediri bukan sekali dua kali. Sudah ada beberapa kasus pembuangan bayi. Mereka yang membuang pun pasti banyak alasan pemicu untuk melakukan perbuatannya.
Ya, pembuangan bayi yang terus ada ini mencerminkan persoalan sosial yang kompleks. Mulai dari tekanan ekonomi, stigma sosial, hingga ketidaktahuan tentang kesehatan reproduksi.
Pertama, kondisi ekonomi yang sulit. Banyak ibu muda, terutama mereka yang berasal dari keluarga miskin atau hidup dalam keterbatasan finansial merasa tidak mampu membesarkan anak yang baru lahir.
Seringkali mereka terkendala biaya persalinan, perawatan bayi hingga kebutuhan sehari-hari. Ini bisa menjadi beban yang berat terutama bagi mereka yang tidak memiliki dukungan keluarga atau pasangan. Tak heran, dalam situasi yang terjepit beberapa dari mereka memilih jalan tragis dengan menelantarkan bayi. Meskipun dalam kondisi yang membahayakan nyawa sang bayi.
Kedua, tekanan sosial dan stigma masyarakat. Faktor ini berperan besar dalam kasus pembuangan bayi. Kehamilan di luar nikah masih dianggap sebagai aib di banyak lingkungan, terutama di komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai konservatif.
Perempuan yang mengalami kehamilan tidak direncanakan, terutama yang masih remaja atau belum menikah seringkali harus menghadapi tekanan berat dari keluarga dan masyarakat.
Rasa takut terhadap penghakiman sosial serta kekhawatiran akan masa depan membuat mereka putus asa dan memilih untuk menyembunyikan kehamilannya. Yang pada akhirnya berujung pada keputusan ekstrem seperti membuang bayi.
Mirisnya lagi, mereka melahirkan secara diam-diam tanpa bantuan medis yang memadai. Tentu ini tidak hanya membahayakan bayi, tetapi juga mengancam keselamatan ibu itu sendiri.




