Menurut Sekretaris Dishub Kabupaten Nganjuk Sujito, berdasarkan data di Dishub Kabupaten Nganjuk, sebanyak 31 trayek dari 34 trayek MPU sudah tidak ada angkot yang beroperasi. Otomatis, hanya tersisa tiga trayek yang masih ada angkotnya. “Tiga trayek itu adalah MPU jurusan Nganjuk-Sawahan, Nganjuk-Kertosono, dan Nganjuk-Wilangan,” ungkap kemarin.
Dengan hanya menyisakan tiga trayek, otomatis MPU juga banyak yang ngandang. Jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan angkot. Karena sebelum MPU ditinggalkan penumpang sejak tahun 2000-an, rata-rata setiap trayek ada sekitar 10 MPU. “Sekarang hanya ada sekitar 25 MPU saja yang beroperasi di tiga trayek itu,” ujar Sujito.
Ironisnya, 25 MPU itu juga tidak beroperasi setiap hari. Karena itu, MPU jarang terlihat di jalan-jalan. Calon penumpang harus menunggu lama jika ingin naik MPU. Di Terminal MPU Nganjuk, MPU yang ngetem juga jarang. Karena sopir MPU jarang masuk Terminal MPU Nganjuk. Bahkan, karena sepinya penumpang, MPU jurusan Nganjuk-Wilangan dan Nganjuk-Kertosono nyaris tidak pernah masuk Terminal MPU Nganjuk. Sehingga, tidak membayar retribusi Terminal MPU Nganjuk sebesar Rp 500 setiap masuk terminal. Padahal, dishub juga ditarget pendapatan retribusi di Terminal MPU Nganjuk, Berbek dan Sawahan sebesar Rp 22 juta setahun. “Yang masih mau masuk terminal itu MPU jurusan Nganjuk-Sawahan,” ungkap Sujito.
Meski banyak MPU yang memilih untuk tidak masuk terminal, Sujito mengaku bisa memahami. Karena calon penumpang di Terminal MPU Nganjuk memang sepi. Sehingga, petugas tidak pernah memaksa sopir MPU untuk masuk terminal.
Sementara itu, Subadi, 71, sopir MPU jurusan Nganjuk-Sawahan mengatakan, tetap bertahan sebagai sopir angkot karena tidak memiliki pekerjaan lain. Sejak muda, dia sudah menjadi sopir MPU. Sehingga, meski kondisi MPU seperti orang koma tetapi dia tetap bertahan. “Bisanya saya itu cuma jadi sopir MPU,” ujarnya.
Kakek dengan enam cucu ini mengatakan, sudah puluhan tahun menjadi sopir MPU. Setiap pagi, dia akan berangkat mencari penumpang di jalan. Meski usianya sudah lansia tetapi Subadi tetap semangat bekerja menjadi sopir MPU. “Kalau tidak jadi sopir MPU, rasanya malah bingung di rumah,” ungkapnya.
Untuk itu, Subadi mengaku tidak keberatan jika harus nombok. Dia menganggap hal itu sebagai salah satu risiko sopir MPU. “Iya mudah-mudahan bisa ramai lagi penumpangnya,” harapnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah