Dia mengungkapkan, faktor utama yang menyebabkan tanamannya rusak adalah cuaca. Hujan deras mengakibatkan daun bawang tidak dapat tumbuh baik lantaran pH-nya turun. Bawang yang kini tengah dijemurnya disebut bawang sakit.
“Normalnya nggak sekecil itu bawangnya. Lebih besar paling sak jempol (ibu jari orang dewasa, Red),” papar Rofi.
Lahan seluas satu gang (1/10 hektare) seharusnya mampu menghasilkan daun bawang 2 ton. Kenyataannya, panen yang didapat hanya 1,5 ton. Lalu, dari hasil tersebut sebanyak 125 kilogram (kg) disisihkan untuk benih.
Selain faktor cuaca, Rofi mengatakan, kendala terbesar yang dialami para petani daun bawang adalah ketersediaan pupuk. Selama satu tahun, dia hanya mendapatkan jatah pupuk subsidi 50 kg. Sementara kebutuhannya untuk 1 gang adalah 1 kuintal.“Mau nggak mau ya pakai yang non (subsidi),” ungkapnya.
Mahalnya harga pupuk, diakuinya, menyebabkan biaya produksi membengkak. Pupuk Phonska Rp 115 ribu, sedangkan non-subsidi sebesar Rp 360 ribu. “Kabeh petani saiki angel pupuk,” ujar Rofi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah