Oleh Abdullah Muzi Marpaung
Tentu saja halte adalah kata dalam bahasa Indonesia yang sudah dikenal luas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), halte diterangkan sebagai tempat perhentian kereta api, trem, atau bus (biasanya mempunyai ruang tunggu yang beratap, tetapi lebih kecil daripada stasiun). Namun, dengan memperhatikan susunan katanya, kita dapat menduga bahwa halte bukanlah kata asli dari bahasa Melayu, yang merupakan akar dari bahasa Indonesia.
Dugaan itu benar. Halte adalah kata serapan dari bahasa Belanda, sebagaimana dapat ditelusuri dalam berbagai pustaka lama, terutama yang berkaitan dengan jalur kereta api. Istilah halte digunakan untuk merujuk pada perhentian kecil tempat kereta api berhenti sebentar, bukan stasiun utama. Contohnya termasuk Halte Parungkuda, Halte Cibeber, Halte Jatiroto, dan lainnya.
Kelaziman penggunaan kata halte mendorong para penyusun kamus untuk memasukkannya sebagai kata serapan dalam bahasa Melayu dan Jawa. Di antaranya Badings dalam kamusnya, Maleisch Woordenboek, yang terbit di tahun 1913 dan kamus bahasa Jawa Visser’s Javaansch Zakwoordenboekje di tahun 1928. Pada tahun 1954 Poerwadarminta memasukkan kata ini sebagai kata baku dalam bahasa Indonesia dengan arti perhentian (trem, otobis dan sebagainya).
Sebelum diserap ke dalam bahasa Melayu atau Jawa, halte – dalam kamus Belanda-Melayu – dipadankan dengan tempat brenti, tempat brentian, perhentian, atau tempat perhentian. Akan tetapi, ada yang menarik. Beberapa kamus seperti kamus Von de Wall (1877), Akkerman (1910) dan Klinkert (1901) memadankan halte dengan bagan. Pemadanan ini beralasan, karena di antara arti bagan dalam bahasa Melayu – sebagaimana yang tertera pada kamus-kamus dari abad ke-19 – ialah tempat peristirahatan sementara, dermaga atau tempat pendaratan, dan gubuk sementara yang didirikan di dalam hutan. Sayangnya, pemadanan ini tidak berlanjut. Kata serapan halte jauh lebih populer. Bahkan pada kamus Poerwadarminta bagan tidak lagi bermakna tempat perhentian sementara atau yang semacam itu, melainkan sekadar denah, skema, rancangan, dan tiang-tiang rumah yang baru didirikan, tiang-tiang dan kayu palang pada para-para penjemur ikan dan sebagainya. Pada KBBI terbaru, terdapat banyak deskripsi tentang bagan. Tak satu pun yang dekat dengan halte.
Abdullah Muzi Marpaung
Lahir di Bintan tahun 1967. Sekarang ia adalah dosen teknologi pangan Universitas Swiss German yang mengampu beberapa mata kuliah unik, yaitu Antropologi Pangan dan Teknologi Pengolahan Makanan Tradisional Indonesia. Ia juga memiliki minat yang tinggi terhadap bahasa dan sastra Indonesia dan merupakan narasumber Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk penyusunan istilah Ilmu dan Teknologi Pangan. Artikel-artikelnya terkait bahasa, makanan tradisional Indonesia, dan karya sastranya baik puisi maupun cerita pendek telah dimuat di sejumlah media massa.
Editor : Jauhar Yohanis