Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pak Gib Ngantukan

Anwar Bahar Basalamah • Minggu, 11 Januari 2026 | 22:03 WIB
Photo
Photo

Pak Gib boleh saja menyandang status orang terpandang, kaya-raya, dan dermawan di kampung ini. Tapi urusan gampang tidur alias ngantukan, dia kerap kali jadi bulan-bulanan warga.

Penyakit ngantukan Pak Gib atau mungkin lebih tepat disebut sebagai bawaan bayi ini sudah banyak 'memakan' korban. Gara-gara ngantukan, Pak Gib paling susah kalau mendapat giliran ronda malam. Di kampung ini, tidak mengenal apakah itu kaya atau miskin, mereka tetap harus ikut program jaga kampung.

Lek No yang beberapa kali jadi partner Pak Gib, pernah ditinggal tidur di pos ronda. Datang jam sepuluh malam, Pak Gib sudah pelor satu jam kemudian. Maka sepanjang malam, Lek No hanya melongo tanpa teman mengobrol.

Masalah itu kemudian disampaikan kepada Pak Lurah Kambali ketika mereka bertemu di balai kampung. Lek No meminta agar jadwal ronda malam Pak Gib diganti orang lain saja yang lebih fit dan bertenaga. Tidak mudah ngantukan seperti Pak Gib.

Malam ini, ketika kesempatan berpasangan dengan Pak Gib tiba, Lek No menyampaikan keluhan itu.

"Ronda malam ini, saya tidak mau berpasangan dengan Pak Gib, Pak Lurah."

"Kenapa Lek?"

"Pak Gib ngantukan, Pak."

"Kenapa memangnya?"

"Loh, Pak Lurah ini gimana to. Kalau jaga malam terus tertidur, lalu dia ngapain ikut ronda? Kalau ada maling, siapa yang salah?"

"Terus maunya gimana, Lek?"

"Saya mau Pak Gib diganti."

"Diganti siapa, Lek?"

"Siapa pun, yang penting tidak ngantukan, Pak Lurah."

"Kamu ada usul?"

"Kalau bisa anak muda, Pak."

"Memangnya ada jaminan, anak muda tidak ngantukan?"

"Pasti Pak, karena mereka yang berusia muda pasti lebib kuat melek sampai pagi."

Pak Lurah Kambali sejenak terdiam. Menurutnya, ada benarnya usulan Lek No. Dia mulai memikirkan sejumlah nama pengganti Pak Gib sebagai partner Lek No di ronda malam ini.

Tapi, Pak Lurah masih belum bisa memutuskan siapa yang akan ditunjuk. Dia menimbang, meski ngantukan, Pak Gib punya komitmen kuat untuk menjaga kampung ini dari pencurian.

Anak-anak muda di kampung ini mungkin lebih tahan untuk begadang sampai subuh. Tapi apakah mereka bersedia melakukannya tanpa dibayar dan hanya disuguhi gorengan dan kopi hangat.

"Saya memang memikirkan beberapa nama, tapi sepertinya Pak Gib masih layak untuk kita jadwalkan berjaga di malam ini."

"Kalau dia tertidur, Pak Lurah."

"Anggap saja ini uji coba yang terakhir, Lek. Kalau masih ngantukan, memang waktunya kita ganti."

Lek No mengangguk. Tandanya setuju. Meski agak berat jika harus berduaan ronda malam dengan Pak Gib. Maka, untuk memastikan pasangannya itu bisa ikut melek saat ronda malam, Lek No memutuskan untuk menyambangi Pak Gib di rumahnya.

Lek No meminta Pak Gib tidur siang lebih dulu agar badannya fit saat ronda malam.

"Pak Gib, masih ngantukan?"

"Masih, Lek."

Obrolan di teras rumah Pak Gib itu berlangsung di tengah kesibukan sang tuan rumah menjalan bisnis martabak.

"Kalau ngantukan, kenapa masih ikut ronda malam, Pak?"

"Loh saya sebagai warga kampung harus ikut menyukseskan program Pak Lurah, Lek."

"Tapi buat apa sewaktu giliran ronda, sampean malah tidur."

"Sampean tahu kan? Ini sudah dari bayi saya seperti ini. Ngantukan dan mata sayu. Sekarang malah harus ngurus jualan martabak setiap hari. Jadi wajar malamnya saya ngantuk, Lek."

"Tapi kan..."

"Iya saya tahu, Lek. Tenang saja. Untuk malam ini, saya pastikan tidak ngantuk di pos ronda."

"Loh

"Kalau malam ini, saya janji tidak ngantuk, Lek."

"Ah.. saya tidak yakin."

"Percaya, Lek."

Keyakinan Pak Gib yang berjanji tidak ngantuk membuat Lek No mulai percaya seratus persen. Dia lega malam ini partnernya itu bisa berjaga hingga fajar azan subuh berkumandang.

Ucapan Pak Gib memang terbukti. Sepanjang malam saat ronda, dia sama sekali tidak tidur. Lek No senang bukan kepalang. Kalau seperti ini terus, Lek No ingin berpasangan dengan Pak Gib setiap jadwal ronda malam.

Selain tidak tidur, Pak Gib juga mau diajak keliling kampung, main kartu dan ngobrol ngalor-ngidul tanpa jeda.

Setelah berjaga hingga jam empat pagi, mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Lek No yang terbiasa melekan segera menuju pasar untuk berjualan sayur.

Pak Gib dengan usaha martabaknya sampai siang hari, belum terlihat batang hidungnya di rumah. Loh kok bisa? Bukannya mereka sudah pulang ke rumah?

Keluarga Pak Gib bertanya-tanya. Di mana Pak Gib berada? Satu kampung heboh. Pak Lurah Kambali yang mendapat laporan ikut mencari keberadaan Pak Gib. Semua tempat sudah dijamah dan Pak Gib ditemukan tertidur pulas di dekat jembatan menuju rumahnya.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#ngantuk #tidur #opini #Lek No