
JP Radar Kediri - Rumput yang biasanya hijau mulai berubah kecokelatan. Daun-daun kering menumpuk di tanah, sementara hujan belum juga turun secara merata. Kondisi seperti ini mungkin terlihat biasa saat kemarau, tetapi ada satu risiko yang ikut meningkat: api menjadi lebih mudah menyala dan menyebar.
Kondisi kering masih menjadi perhatian pada akhir September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian wilayah Jawa bagian tengah hingga timur masih mengalami hari tanpa hujan dalam kategori sangat panjang hingga ekstrem. Kondisi tersebut membuat permukaan lahan lebih mudah kehilangan kelembapan.
Ketika tumbuhan dan rumput kehilangan banyak kandungan air, material tersebut menjadi lebih mudah terbakar. Api yang awalnya kecil pun dapat merambat ke bagian lain apabila di sekitarnya terdapat cukup bahan kering.
Bahan Kering Jadi Pemicu Api Cepat Menjalar
Api membutuhkan bahan yang dapat terbakar untuk terus menyala. Pada lahan yang kering, bahan tersebut tersedia dalam jumlah lebih banyak, mulai dari rumput, ranting, daun, hingga semak-semak.
Itulah sebabnya api dari pembakaran kecil bisa menjadi sulit dikendalikan ketika berada di area terbuka yang dipenuhi vegetasi kering.
Angin juga dapat mempercepat penyebaran api. Bara atau percikan yang terbawa angin bisa berpindah ke bagian lain sebelum api pertama benar-benar berhasil dipadamkan.
BMKG sebelumnya juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan selama kondisi kering masih berlangsung. Masyarakat diminta tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar.
Kebiasaan Sepele Bisa Berujung Masalah
Risiko kebakaran tidak selalu bermula dari kebakaran besar. Aktivitas sederhana seperti membakar sampah di lahan terbuka juga perlu diperhatikan.
