Pasar Sukomoro adalah pasar brambang terbesar di Nganjuk. Di pasar yang menjual khusus brambang ini ada puluhan pedagang di sana. Mereka melakukan transaksi jual beli bawang merah setiap hari. Mulai dari eceran hingga karungan atau grosir.
Pasar Sukomoro tidak sama dengan pasar tradisional di Kabupaten Nganjuk. Jika pasar tradisional akan ramai pembeli saat pagi hari, di Pasar Sukomoro tidak. Pembeli akan berdatangan pada siang hari. Saat itulah, banyak pikap mengangkut brambang juga datang. “Pukul 12.00 WIB-13.00 WIB itu Pasar Sukomoro paling ramai transaksinya,” ujar Kepala Pasar Sukomoro Agus Mardianto kemarin.
Waktu satu jam itu dianggap pedagang dan pembeli sebagai prime time atau waktu paling ramai. Karena itu, jangan kaget jika Anda akan berdesakan-desakan di satu jam itu jika masuk ke Pasar Sukomoro. Pedagang dan pembeli akan sibuk bertransaksi. Mulai tawar menawar, bongkar, menimbang, hingga mengangkut brambang ke pikap.
Baca Juga: Disnaker Buka Lapangan Kerja dengan Pelatihan Menjahit
Untuk pedagang di Pasar Sukomoro sendiri jumlahnya tidak tetap. Tergantung apakah sedang musim panen atau tidak. Jika sedang panen raya maka pedagang bisa mencapai 60 orang. Sedangkan, jika sedang tidak panen maka pedagang hanya sekitar 40 orang. “Mayoritas pedagang brambang di Pasar Sukomoro berasal dari Kecamatan Sukomoro,” ujar Agus.
Jika dipersentase, pedagang dari Kecamatan Sukomoro sebanyak 50 persen. Sedangkan, 50 persen sisanya berasal dari Kecamatan Gondang, Rejoso, Bagor, dan Wilangan.
Yang menarik, puluhan pedagang itu tidak membawa brambang dagangan dari rumah. Namun, mereka hanya standby di Pasar Sukomoro menunggu tengkulak atau petani datang membawa brambang. Saat petani dan tengkulak datang, mereka akan membeli brambang tersebut. Kemudian, brambang ditumpuk dan dijual ke pengunjung Pasar Sukomoro. “Ada ratusan pengunjung atau pembeli yang datang ke Pasar Sukomoro setiap hari,” ujar Agus.
Baca Juga: Ini yang Dijanjikan Marcelo Rospide saat Persik Kediri Berhadapan dengan PSM Makassar
Sementara itu, Sumiati, 50, pedagang brambang asal Kecamatan Sukomoro mengaku setiap hari kulakan 8 karung brambang atau sekitar 5 kuintal. Kemudian, dia menjual secara eceran di Pasar Sukomoro. “Saya hanya mengambil untung sekitar Rp 1.500-Rp 2 ribu per kilogramnya,” ujarnya.