“Keuntungan bersihnya sekitar sepertiganya,” beber pemuda asal Desa Katerban, Kecamatan Baron tersebut.
Dwi menerangkan, ide berjualan di tepi sawah itu muncul sekitar enam bulan lalu. Bermulai dari kebiasannya ngopi di sore hari selepas pulang bekerja. Kala itu, dia hanya membawa kopi yang ditaruh termos. Biasanya, dia dan teman-temannya akan hunting tempat yang syahdu untuk ngopi.
Kebanyakan, lokasi yang disasar adalah tepi sawah yang memiliki latar senja. Semula, hanya 4-5 orang temannya saja yang ikut. Namun, lambat laun semakin banyak. Hingga dalam setiap nongkrong bisa belasan orang. Dari situlah Dwi akhirnya terpikir untuk sekalian berjualan.
“Akhirnya sekalian saya buat jualan. Prospeknya bagus soalnya,” ungkapnya.
Keberaniannya itu berujung indah. Dibantu promosi yang baik oleh teman-temannya, usaha Dwi langsung berkembang pesat. Pada saat ramai, pengunjung ditempatnya bisa tembus mencapai 200 orang. Biasanya, ini terjadi ketika akhir pekan. “Yang penting ulet dan selalu bersyukur,” pungkasnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah