JP Radar Kediri – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan kepastian bahwa pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional tetap terjaga di tengah memanasnya situasi geopolitik di kawasan Teluk.
Meskipun Angkatan Laut Iran mulai melakukan pembatasan akses, Bahlil menegaskan bahwa struktur impor energi Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat terhadap krisis tersebut.
Bahlil memaparkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap pasokan dari Timur Tengah mayoritas hanya terbatas pada minyak mentah (crude oil).
Sementara itu, untuk kebutuhan minyak jadi, Indonesia lebih banyak mengandalkan pasokan dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara serta mengoptimalkan produksi kilang dalam negeri.
Baca Juga: Harga BBM Terbaru Mulai Maret 2026, Pertalite dan Pertamax Kini Berapa?
"Di Timur Tengah itu, kita cuma important crude, minyak mentahnya, sementara minyak jadinya kita impor dari negara Asia Tenggara dan produksi dalam negeri. Jadi, harusnya nggak perlu ada sampai (panic buying) begitu ya," ujar Bahlil saat ditemui wartawan di Istana Kepresidenan RI, Jakarta.
Terkait isu kelangkaan pasokan yang memicu antrean di sejumlah SPBU, Bahlil mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong atau panic buying.
Ia menjelaskan bahwa sistem logistik dan penyimpanan nasional tetap berjalan normal meskipun kapasitas penyimpanan (storage) berada di angka 21 hingga 25 hari.
"Saya menyarankan dan meminta tidak perlu ada panic buying karena memang stok BBM kita cukup. Jadi, yang dimaksud dengan 21 hari sampai 25 hari itu adalah storage kita, tetapi itu kan, dia pergi dan datang lagi, industri kita jalan terus, dan impor kita nggak ada masalah," tambahnya.
Selain jaminan stok, pemerintah juga memastikan stabilitas harga di tingkat konsumen.
Bahlil menjamin bahwa harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan setidaknya hingga Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, meskipun harga minyak mentah dunia sempat melonjak melampaui 100 dolar AS per barel akibat pecahnya perang di kawasan Teluk.
Kepastian ini didukung oleh pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menegaskan bahwa postur anggaran negara masih cukup tangguh untuk menyerap lonjakan harga minyak global.
Pemerintah menggunakan asumsi rata-rata tahunan yang masih terkendali untuk memastikan beban subsidi tidak langsung dialihkan kepada masyarakat.
"Kita masih aman, masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh. Rata-rata setahun 70 (dolar AS per barel) asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saya. Jadi, belum cukup untuk mengubah anggaran kita. Jadi, kita masih bisa absorb," pungkas Purbaya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil