JP Radar Kediri – Cap Go Meh selalu dinantikan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Perayaan ini menandai hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek dan menjadi momen penting dalam kalender budaya.
Berdasarkan perhitungan kalender lunar, perayaan Cap Go Meh pada tahun 2026 diperkirakan akan berlangsung pada hari Selasa, 3 Maret 2026. Diadakannya perayaan ini menandai puncak dan penutup rangkaian perayaan Imlek.
Selain menutup rangkaian Imlek, Cap Go Meh juga melambangkan harapan, keberuntungan, dan kebersamaan keluarga maupun komunitas. Festival ini dirayakan dengan tradisi dan kegiatan yang meriah.
Makna dan Filosofi Cap Go Meh
Cap Go Meh berasal dari bahasa Hokkien, Cap Go (十五) yang berarti lima belas dan Meh (暝) yang berarti malam. Jadi Cap Go meh memiliki arti malam ke-15.
Menurut tradisi, malam ini bertepatan dengan purnama pertama setelah Tahun Baru Imlek, yang dianggap sebagai lambang kesempurnaan, keseimbangan, dan keberuntungan.
Perayaan ini juga dikenal sebagai Yuan Xiao Jie atau Festival Lampion, di mana cahaya lampion melambangkan kebijaksanaan dan harapan untuk tahun yang akan datang.
Selain aspek budaya, Cap Go Meh memiliki makna spiritual. Masyarakat melakukan ritual dan doa untuk mensyukuri pencapaian tahun sebelumnya dan memohon perlindungan serta rezeki di tahun yang baru. Filosofi ini mencerminkan nilai kebersamaan, toleransi, dan rasa hormat terhadap leluhur.
Perayaan Cap Go Meh sudah ada sejak era Dinasti Han sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Tertinggi, Thai Yi. Awalnya, biksu Buddha mengadakan ritual dengan menyalakan lentera sebagai simbol doa dan penerangan. Lambat laun, tradisi ini berubah menjadi perayaan terbuka yang dirayakan oleh masyarakat secara luas.
Ragam Tradisi Perayaan Cap Go Meh
Perayaan Cap Go Meh identik dengan beragam kegiatan tradisional dan budaya yang memukau, antara lain
- Arak-arakan Barongsai dan Naga
Pertunjukan ini menjadi salah satu daya tarik paling mencolok selama Cap Go Meh. Atraksi barongsai dan naga menampilkan kombinasi akrobatik, gerakan lincah, dan simbol keberuntungan yang diyakini membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
- Festival Lampion
Lampion berwarna-warni dipajang di sepanjang jalan, klenteng, atau area publik. Cahaya lampion ini tidak hanya mempercantik suasana, tetapi juga melambangkan harapan, kebijaksanaan, dan penerangan bagi tahun yang baru.
Baca Juga: Tradis Ita Beo: Simbol Penyatuan dalam Kehidupan Masyarakat Wae Rebo
- Ritual Doa dan Kunjungan ke Klenteng
Berbagai komunitas Tionghoa mengadakan sembahyang bersama di klenteng untuk menghormati leluhur dan memohon berkah. Tradisi ini menjadi momen penting untuk bersyukur sekaligus mempererat ikatan sosial antaranggota komunitas.
- Kuliner Khas Cap Go Meh
Makanan tradisional yang disajikan selama Cap Go Meh memiliki makna simbolik. Lontong Cap Go Meh, kue keranjang, jeruk, dan hidangan manis lainnya tidak hanya dinikmati sebagai santapan, tetapi juga dianggap membawa keberuntungan dan kemakmuran bagi keluarga serta pengunjung festival.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian