KEDIRI KABUPATEN - Semakin banyak saja beban masyarakat menjelang masuknya bulan puasa dan Lebaran. Tak hanya kebutuhan pokok saja yang mulai merangkak naik. Harga kerupuk pun juga ikut-ikutan mengalami kenaikan.
Penyebab kenaikan harga kerupuk tersebut adalah soal bahan baku. Sebab, pada saat bersamaan harga tepung tapikoka pun terkatrol tinggi. Kondisi seperti itulah yang membuat pengusaha kerupuk mengeluh. Satu-satunya cara agar mereka tak mengalami kerugian adalah dengan menaikkan harga jual kerupuk mereka.
Para pengusaha kerupuk di sentra produksi kerupuk Desa Bulu, Kecamatan Semen, mengakui bahwa kondisi saat ini menyulitkan bagi mereka. Menurut Salamin, salah seorang pengusaha kerupuk mentah, mengaku sudah menyiapkan harga baru. Bila sebelumnya dia menjual Rp 10.400 per kilogram, akan menjadi Rp 10.600.
“Harga segitu masih lebih murah daripada pengusaha lain yang bisa menaikkan hingga Rp 11 ribu,” kilah Salamin.
Bila dirunut harga dua bulan yang lalu, kenaikan kerupuk mentah atau yang biasa disebut krecek itu mengalami kenaikan tajam. Sebelumnya harga per kilogramnya hanya berkisar Rp 8 ribu atau Rp 9 ribu saja.Tapi kini sudah mencapai Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kilogramnya.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut untuk sementara ini tak mempengaruhi permintaan. Kondisi pasar relatif stabil. Hal itu karena jaringan pemasarannya sudah tertata. “Saya memiliki pengepul tetap. Tap ya di wilayah Kediri sini saja,” terang pengusaha yang dalam sekali produksi bisa menghasilkan 1 ton krecek ini.
Menariknya, naiknya harga tapioka ternyata tak hanya membuat pengusaha kerupuk yang mengeluh. Pembuat tepung tapioka pun merasakan hal sama. Kebetulan, di Desa Bulu ini juga terdapat pengusaha pembuat tepung tapioka.
Maimunah salah satunya. Wanita yang telah menjalankan usaha pembuatan tepung tapioka sejak 1997 ini mengaku kesulitan mencari ketela pohon sebagai bahan dasar membuat tepung. Akibatnya, kapasitas produksinya jadi menurun. Bila sebelumnya dia mampu mendapatkan dua ton, kini hanya bisa satu ton ketela saja. Itupun, harus dia peroleh dari berbagai lokasi yang tengah panen ketela.
“Ketelanya biasanya didatangkan dari wilayah Wates, Kandat, bahkan Blitar, tergantung siapa yang panen,” jelas Maimunah.
Menurut Maimunah, sulitnya mencari ketela yang ada tersebut sangat memengaruhi usaha miliknya. Apalagi harga ketela juga merangkak naik. Dua bulan yang lalu harga ketela masih Rp 1.300 hingga Rp 1.500 per kilogram. Tapi kini berubah menjadi Rp 2.200 per kilogramnya.
“Harga ketela sekarang ini mahal. Padahal dulu murah, hanya sekitar seribu (rupiah) saja,” ungkap Maimunah.
Sementara, biaya operasional juga tinggi. Seperti upah karyawan dan masalah cuaca. Untuk usaha tepung tradisional yang dikembangkan Maimunah, dirinya tidak sekadar bergantung pada mesin. Tapi lebih pada cuaca untuk pengeringan saripati tapioka yang ia hasilkan melalui pengendapan.
“Kalau hujan ya terpaksa produksinya molor Mbak. Biasanya sehari, dua hari sudah menjadi tepung yang siap. Tapi kini harus menunggu tiga hingga empat hari,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho