Harus diakui, daya tarik generasi Z (gen Z) memang luar biasa. Selain jumlah mereka saat ini yang diperkirakan mencapai 46 juta lebih (data dari KPU). Ketika sebuah produk membidik generasi Z, maka secara tidak langsung generasi X akan ikut terseret. Sebab, generasi Z kebanyakan adalah anak dari generasi X.
Beberapa hari lalu, anak perempuan saya (berumur 13 tahun dan termasuk gen Z) merajuk. Dia ngajak saya ke “Pepper Lunch”. Katanya sedang ada promo khusus bagi gen Z (lahir 1997 – 2012). Mulai 26 Juli – 2 Agustus 2024, di semua outlet “Pepper Lunch” bagi gen Z yang membeli paket “Creamy Garlic Butter Beef Steak” atau “Pepper Steak” akan mendapatkan satu paket free “Happy Beef Pepper Rice” atau “Chicken Pepper Rice with Egg”. Jadi, beli satu gratis satu. Maka, gara-gara “provokasi” anak perempuan saya, kami berempat akhirnya makan malam ke “Pepper Lunch”. Mbayarnya hanya dua paket, karena kebetulan anak sulung saya juga masih terhitung gen Z (kelahiran tahun 2000), dan kami mendapatkan empat paket. Lumayan juga sih.
Jurus “Pepper Lunch” termasuk jitu. Dia bikin promo, yang dikhususkan untuk para gen Z. Begitu gen Z tertarik, mereka kebanyakan akan mengajak orang tuanya. Karena separuh lebih dari jumlah populasi gen Z, masih sangat tergantung kepada orang tuanya. Artinya, ketika mereka para gen Z tertarik akan sebuah produk, maka mereka akan melibatkan orang tuanya. Dan orang tua dari gen Z adalah gen X. Jadi, dengan membidik pasar gen Z, secara tidak langsung segmen gen X juga kena.
Ketika akan membidik segmen gen Z, maka strategi marketingnya harus menyesuaikan dengan karakteristik unik dan preferensi mereka. Gen Z telah menjadi objek pengamatan dan penelitian dari para pengamat dan para ahli. Berbagai buku dan hasil penelitian dari para ahli itu pun sudah banyak beredar. Di antara pendapat dari para pengamat dan para ahli itu, yang sudah saya baca dan beberapa di antaranya sudah saya terapkan dalam merancang strategi marketing untuk menyasar segmen gen Z, adalah sebagai berikut:
Jason Dorsey, presiden dan peneliti utama di “The Center for Generational Kinetics” mengatakan bahwa gen Z sangat menghargai transparansi dan keaslian. Mereka dapat dengan mudah mendeteksi pemasaran yang tidak autentik atau manipulatif. Karena itu, sebuah produk atau brand yang membidik segmen gen Z harus jujur dan transparan dalam komunikasi mereka.
Sarah Weise, CEO dan pendiri Bixa, menekankan pentingnya menggunakan media sosial dan konten video pendek untuk menjangkau gen Z. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube adalah tempat dimana mereka menghabiskan banyak waktu. Dan konten video pendek menarik perhatian mereka dengan cepat.
David Stillman dan Jonah Stillman menjelaskan dalam buku mereka “Gen Z @ Work: How the Next Generation is Transforming the Workplace” bahwa gen Z lebih memilih pengalaman yang interaktif dan partisipatif. Mereka menyukai merek atau brand yang melibatkan mereka dalam proses kreatif, seperti melalui kontes, polling, atau kolaborasi dalam pembuatan produk.
Bernard Marr, pakar marketing yang juga seorang penulis dalam sebuah artikelnya berjudul “How to Market to Gen-Z” mengungkapkan bahwa gen Z sangat peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Mereka lebih cenderung mendukung brand yang menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.
Jeff Fromm dan Angie Read dalam buku mereka “Marketing to Gen Z: The Rules for Reaching This Vast and Very Different Generation of Influencers” menyoroti pentingnya personalisasi dalam pemasaran yang menyasar gen Z. Mereka mengharapkan pengalaman yang disesuaikan dengan preferensi individu mereka, baik dalam bentuk rekomendasi produk, iklan yang relevan, maupun interaksi di media sosial.
Dan Schawbel, penulis buku terlaris New York Times yang juga dikenal sebagai pakar di bidang pengembangan karier di salah satu bukunya “Back to Human: How Great Leaders Create Connection in the Age of Isolation” menyatakan bahwa gen Z sangat terbuka terhadap teknologi baru seperti AR (Augmented reality) dan VR (Virtual Reality). Integrasi teknologi ini dalam sebuah kampanye pemasaran dapat menciptakan pengalaman yang unik dan menarik bagi mereka.
Wal hasil, dalam dua bulan terakhir ini, Alhamdulillah saya sukses menggelar dua event besar di Kediri yang segmennya adalah gen Z. Dan memang betul, karakter mereka unik, berbeda, dan menantang (bagi kita sebagai generasi yang lebih tuwir). Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah