Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ujian Brand Juicy Luicy

Kurniawan Muhammad
Penulis: Kurniawan Muhammad❯

 


Advertisement

By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Tidak mudah memang, menjaga brand dan reputasi. Kasus yang menimpa Juicy Luicy ini bisa menjadi contohnya. Baru-baru ini, mereka sedang mendapat ujian brand. Grup band asal Kota Bandung itu banyak dihujat dan dikecam netizen, buntut dari keputusan sepihak mereka yang membatalkan konsernya saat akan tampil di acara XYZ Liveground Batam, 5 September lalu. 

Istilah pembatalan sepihak memang muncul dalam persepsi publik. Tetapi, fakta yang tersedia menunjukkan adanya dua versi yang berbeda. Pihak penyelenggara (EO) menyatakan, bahwa kewajiban utama telah mereka penuhi. Dan soal kelebihan bagasi (yang disebut-sebut sebagai penyebab Juicy Luicy membatalkan penampilannya), pihak EO menawarkan skema reimbursement. 

Advertisement

Sebaliknya, pihak Juicy Luicy mengatakan bahwa problem sudah terjadi sejak H-7. Mulai dari pelunasan fee yang terlambat, tiket baru diterima sekitar pukul 22.26 untuk penerbangan besoknya pukul 05.00, bukti hotel dan tiket pulang belum lengkap, serta pembayaran prepaid baggage belum diterima. Dan puncaknya terjadi kelebihan bagasi. Pihak Juicy Luicy awalnya menyebut estimasi bagasi sekitar Rp 44 juta. Tapi kemudian membengkak menjadi sekitar Rp 64 juta, ketika harus diproses di bandara. Ini lah yang menjadi pemicu batal tampilnya Juicy Luicy. 

Terlepas dari pihak mana kah yang benar, yang jelas, ada satu hal dalam kasus ini yang kurang diperhatikan oleh Juicy Luicy sebagai pemilik brand. Yakni: penonton. Mereka adalah pihak yang dirugikan, dari batalnya Juicy Luicy tampil. Para penonton ini, tidak ikut menandatangani riders. Mereka tidak memilih maskapai. Mereka tidak ikut menentukan jatah bagasi. Dan mereka juga tidak ikut dalam percakapan antara manajemen artis dan EO. Tetapi, mereka lah yang kehilangan pengalaman. 

Advertisement

Tidak lah mengherankan, berbagai kecaman terhadap Juicy Luicy dari netizen pun membanjiri media sosial. Di antara komentar netizen di media sosial, antara lain: menyebut Juicy Luicy tidak profesional, mempertanyakan keputusan tidak melanjutkan perjalanan, menyebut persoalan seharusnya diselesaikan secara profesional di belakang layar, hingga tak sedikit yang berkomentar dengan mengatakan bahwa mereka akan berpikir kembali sebelum mengundang Juicy Luicy. Ada pula yang terang-terangan mengatakan, bahwa terlepas siapa yang akhirnya benar, dia tidak akan menggunakan band tersebut jika membutuhkan jasa entertainment.   Di Threads, seorang penonton mengungkapkan rasa kecewa dan merasa ditipu. Karena tujuan utamanya datang adalah menonton Juicy Luicy.

Juicy Luicy bukan lah band yang baru muncul.  Situs resminya menyebut, mereka memiliki sekitar 9 juta monthly listeners di Spotify. Album mereka bertajuk “Nonfiksi” pernah menduduki posisi pertama Top Albums Indonesia dan lagu mereka berjudul: “Sialan” pernah menjadi lagu nomor satu di Spotify Indonesia. Artinya, Juicy Luicy sesungguhnya telah memiliki brand equity yang besar.   

Dalam industri musik, produk bukan hanya lagu. Produk Juicy Luicy adalah keseluruhan pengalaman, mulai dari lagu, persona personel, interaksi dengan fans, perilaku di panggung, hingga kepastian hadir ketika nama mereka dijual dalam poster sebuah festival. 

Charles J. Fomburn dalam “Reputation: Realizing Value from The Corporate Image” menempatkan reputasi sebagai aset yang menghasilkan nilai ekonomi. Reputasi lah yang membuat stakeholder lebih percaya, konsumen lebih loyal, mitra lebih nyaman bekerja sama, dan organisasi memiliki semacam “reputational capital”. 

Juicy Luicy selama bertahun-tahun mengumpulkan modal reputasi melalui karya, jutaan stream, fanbase, dan lagu-lagu viral. Tetapi,  “reputational capital” mirip rekening bank. Setiap karya bagus adalah setoran. Setiap pengalaman positif adalah setoran. Setiap interaksi hangat adalah setoran. Sebaliknya, krisis yang buruk adalah penarikan.

Advertisement

Artikel Terkait

Raffi Ahmad dan Ujian RANS 

Raffi Ahmad dan Ujian RANS 

Dalam dunia bisnis, kita harus semakin menyadari satu hal tentang perilaku konsumen. Bahwa mereka itu tidak selalu bertindak berdasarkan pertimbangan ekonomis.

Belajar dari Strategi TikTok

Belajar dari Strategi TikTok

Awalnya dia adalah salah seorang pimpinan di Tokopedia. Tapi karena Tokopedia sudah dibeli TikTok, maka dia saat ini juga menjadi bagian dari TikTok.

SEO, AI dan GEO 

SEO, AI dan GEO 

Bahwa, saat ini mulai terjadi perubahan pada penggunaan AI (Artificial Intelligence) dalam konteks marketing. AI yang semula digunakan sebagai mesin penjawab

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer