Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gus Miek, Sosok Kebapakan dan Tak Pernah Marah ada Anaknya

Redaksi Radar Kediri • Selasa, 11 Maret 2025 | 16:39 WIB
Makam Gus Miek
Makam Gus Miek

Kisah-kisah Perjalanan Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri (9)

Karena sibuk mengurusi umat, Gus Miek disebut-sebut tidak pernah ‘ngurusi’ keluarganya. Konon, pendidikan anak-anaknya diserahkan kepada Tuhan. Tapi, benarkah demikian?

Sentuhan kasih sayang langsung dari seorang ayah yang menjadi kiai besar diakui KH Tajuddin Heru Cokro (Gus Tajud) –putra sulung Gus Miek—jarang mereka rasakan. Maklum, dia dan saudara-saudaranya tidak bisa setiap hari bertemu dengan sang ayahanda. Apalagi bermanja-manja.

Meski demikian, bukan berarti mereka dibiarkan begitu saja. Ikatan batin di antara mereka dengan Gus Miek sangat kuat. “Budi perilaku yang halus dalam setiap perjumpaan membuat kesan yang mendalam pada kami,” aku sulung dari enam bersaudara ini.

Kehalusan budi itulah yang membuat hubungan anak-bapak begitu membekas bagi dia dan adik-adiknya. “Selama hidupnya, Gus Miek tidak pernah sekalipun mengeluarkan kata-kata kasar apalagi marah kepada anak-anaknya,” kenang Gus Tajud.

Gus Tajud mengatakan, sejak kecil dia dan adik-adiknya hampir tidak pernah tinggal serumah dengan Gus Miek. Maklum, sebagian besar waktu ayahnya banyak dihabiskan di luar. Meski demikian, bukan berarti Gus Miek tidak pernah memedulikan pendidikan anak-anaknya.

Di banyak kesempatan setiap kali bisa bertemu, Gus Miek selalu mengingatkan mereka untuk tidak melupakan pendidikan. ”Le, sekolaho. Le, ngajio,” kenang Gus Tajud terhadap pesan sang ayah yang seringkali disampaikan.

Karena itulah, penerus Gus Miek dalam Jamaah Semaan Alquran Jantiko Mantab dan Dzikrul Ghofilin ini menepis jika ayahnya mendapatkan berbagai pengetahuan secara tiba-tiba. Gus Miek juga melalui proses belajar yang keras sebagaimana santri yang lain. Pendidikannya di Ponpes Ploso juga ditamatkan.

“Secara lahiriah, beliau juga belajar di Pondok Ploso. Namun, terhadap sebuah kitab, Gus Miek memang tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa memahaminya,” tuturnya.

Gus Tajud juga mengaku tidak pernah melihat sendiri berbagai ‘keanehan’ atau ‘keajaiban’ yang dimiliki oleh ayahandanya. Kalaupun dia tahu, hal itu didapatkan dari cerita para pengikut Gus Miek. ”Saya tahunya dari teman-teman beliau,” katanya. Soal keyakinan atas kebenarannya, dia menyerahkan kepada pribadi masing-masing.

Hal ini sebelumnya juga ditegaskan oleh KH Zainuddin Djazuli (Gus Din), kakak Gus Miek. Gus Miek adalah sosok yang cerdas sekaligus santun. Makanya, dia lebih cepat memahami isi sebuah kitab dibanding santri atau saudara-saudaranya yang lain. Di situlah kelebihan Gus Miek sebenarnya.

Almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan ketua umum PB NU dan Presiden RI, juga pernah mempunyai catatan serupa tentang Gus Miek. Menurutnya, kelebihan Gus Miek terletak pada ketajamannya dalam membaca tanda-tanda zaman serta metode dakwahnya yang tidak lazim.

Dia bisa masuk ke semua kelompok dan golongan karena meyakini setiap orang pasti mempunyai keinginan menuju jalan kebaikan. Bukan dengan memusuhinya, tapi dengan merangkulnya. Di sinilah Gus Dur menyebut Gus Miek mempunyai kemampuan supernatural. Bukan karena menyalahi ketentuan hukum-hukum alam. Tapi, super karena mampu mengatasi segala macam jurang pemisah dan tembok penyekat antarsesama manusia. Dan, natural karena yang ia harapkan hanyalah kebaikan bagi manusia.

Kalaupun Gus Miek dianggap nyeleneh (khariqul 'adah), kata Gus Dur, dalam artian inilah ia harus dipahami demikian. Sebab, cara dakwahnya memang tidak lazim, out of the box, di luar yang dipikirkan dan dilakukan oleh kebanyakan orang. (*)

Editor : Jauhar Yohanis
#kediri #Pondok Ploso #gus miek #ploso