Penyebab kerdilnya jagung yang dipanen adalah karena curah hujan yang tinggi. Salah satu petani, Sumaji, warga Desa Baye, Kecamatan Kayenkidul, mengatakan, panen jagung kali ini banyak yang serentak. Ada yang terpaksa panen karena khawatir lahan sawah mereka terendam banjir akibat curah hujan yang tinggi dan terjadi terus-menerus.
"Kebanyakan panen pada usia 90 hari, padahal normalnya 120 hari," jelasnya.
Sumaji menyebut, hasil panen jagung yang belum pada waktunya cenderung kecil-kecil. Jika dijual dalam keadaan basah atau borongan, harganya sangat murah. Oleh karena itu, ia memilih menjualnya dalam keadaan kering.
Namun, dia harus menanggung kerugian karena jagung akan mengalami penyusutan hingga 40 persen.
"Misal jagung di tanah banon 200 yang biasanya bisa 1,2 ton, cuma dapat 1 ton," jelasnya.
Petani lain, Subadi, warga Desa Semen, Kecamatan Pagu, juga menyebut hal serupa bahwa curah hujan yang tinggi membuat kualitas jagung menurun. Meskipun demikian, hasil panen miliknya tidak begitu banyak terdampak karena ia mulai menanam lebih dulu.
Dan harga jagung dengan kadar kering saat ini berada di angka Rp 6.300 per kilogram. Mulai turun dibanding dengan harga sebelumnya yang berada di angka Rp 6.500.
Rokim, pedagang jagung asal Desa Bangsongan, Kecamatan Kayenkidul, mengatakan bahwa jagung dijual berdasarkan kadar kering dan kualitas. "Kalau basah dan kecil-kecil sekitar Rp 4.600 per kilogramnya. Dulu selisih seribu, tapi sekarang selisih 2 ribu karena banyak yang kualitasnya buruk," jelasnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian