Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

153 Orang Terjangkit DBD, Waspadai Lonjakan Kasus!

A
Penulis: Ayu Ismawati❯
Photo
Photo

KOTA, JP Radar Kediri-Memasuki musim penghujan November ini, masyarakat harus mewaspadai wabah demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini diprediksi meningkat selama musim penghujan. Sebelumnya, selama 10 bulan awal 2025 ini saja sudah ada 153 temuan DBD di Kota Kediri.


Advertisement

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri Hendik Suprianto mengatakan, selain temuan 153 kasus hingga akhir Oktober ini, tak menutup kemungkinan terjadi peningkatan. Sebab, curah hujan mulai tinggi November ini.

 “Biasanya mulai November itu akan ada peningkatan. Desember biasanya lebih banyak lagi. Dan nanti Januari sampai Februari biasanya puncak kasusnya,” ujar Hendik terkait tren kasus DBD tiap tahunnya.

Hal tersebut sesuai dengan data tren kasus mulai Januari – Oktober 2025. Selama 10 bulan itu, kasus yang tercatat paling tinggi terjadi di bulan Januari dengan 51 kasus DBD. Selebihnya, jumlah kasus cenderung mengalami penurunan, namun masih relatif tinggi hingga bulan Mei.

Advertisement

Dengan situasi cuaca saat ini, tren serupa kemungkinan terjadi di akhir 2025 ini. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejak dua bulan lalu pihaknya sudah menyampaikan surat edaran ke masing-masing kelurahan.

“Kami sampaikan surat edaran ke tiap kelurahan untuk PSN (pemberantasan sarang nyamuk) secara rutin dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bertanggung jawab dengan lingkungan masing-masing,” terang Hendik.

Tak hanya PSN secara mandiri, PSN serentak di lingkungan warga juga perlu dilakukan. Namun, Hendik mengatakan hal itu sering terkendala pemahaman masyarakat terkait PSN yang benar. Sehingga gerakan yang seharusnya memberantas sarang nyamuk itu kurang maksimal dan tidak berdampak.

Advertisement

 “Biasanya masyarakat belum bisa membedakan kerja bakti dengan PSN. PSN kan lebih mengarah menyingkirkan barang-barang bekas, mendaur ulang barang-barang yang bisa menampung air. Bisa dikubur atau dirongsokkan, sehingga saat hujan tidak menyimpan air,” tandasnya.

Sementara itu meski ada ratusan kasus DBD yang ditemukan, Hendik mengatakan belum ada kasus kematian akibat DBD. “Sejak tiga tahun terakhir tidak ada,” pungkas Hendik.

Seperti diberitakan, di Kabupaten Kediri selama 2025 ini juga ditemukan ratusan kasus DBD. Selama Januari-Oktober total ada 256 kasus, satu pasien di antaranya meninggal dunia.

Temuan kasus DBD 2024 di Kabupaten Kediri lebih tinggi lagi. Yakni, 449 kasus, dengan lima orang meninggal dunia. Karenanya, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri juga menggalakkan PSN. Serta mengajak masyarakat tanggap dengan segera membawa warga yang terjangkit DBD ke fasilitas kesehatan. (ais/ut)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Potensi Pendapatan Pemkot Ratusan Juta ‘Menguap’, Ini Penyebabnya!

Potensi Pendapatan Pemkot Ratusan Juta ‘Menguap’, Ini Penyebabnya!

Pemkot Kediri agaknya harus lebih tegas lagi menangani pemanfaatan aset oleh masyarakat. Terutama aset yang sudah ditempati warga selama belasan dan puluhan tahun.

Mengurai Problem Pasar Tradisional Kota Kediri (4): Harus Berbau Digital agar Tak Ketinggalan Zaman

Mengurai Problem Pasar Tradisional Kota Kediri (4): Harus Berbau Digital agar Tak Ketinggalan Zaman

Tantangan yang dihadapi pasar tradisional datang bertubi. Terutama disrupsi informasi yang berimbas pada disrupsi ekonomi.

Mengurai Problem Pasar Tradisional di Kota Kediri (3) : Fleksibel, Perumda Pasar Bisa Potong Birokra

Mengurai Problem Pasar Tradisional di Kota Kediri (3) : Fleksibel, Perumda Pasar Bisa Potong Birokra

ersi pemerintah, perumda bisa lebih fleksibel dan memotong rantai birokrasi. Lalu, bagaimana menurut pedagang?

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer