Saat Tubuh Sehat, Produktivitas Meningkat, Perusahaan pun Untung
Bagi pria yang asli suku Osing ini, bermain tenis bukan memuaskan hobi olahraga belaka. Kepentingan pekerjaan dan perusahaan juga terlibat. Ketika tubuhnya sehat, semangat kerja pun bisa meningkat.
-------------------------------------
Masih tergambar jelas dalam ingatan Harisun hari-hari menjelang dia bertugas di Kediri. Memimpin Perum Bulog yang membawahi wilayah Kediri Raya dan Nganjuk. Saat ketika layar handphone-nya penuh dengan pesan dari para kolega.
“(Isinya) selamat, selamat. Selamat apa gitu ya (batin saya). Lho, selamat di Kediri,” ucapnya, mengulang cerita menjelang Idul Fitri beberapa bulan lalu.
Saat itu dia masih menjadi Pemimpin Perum Bulog Madiun. Namun, dia sudah mendengar dinamika Bulog Kediri. Khususnya yang terjadi di Nganjuk.
Namun, saat itu dia berpikir jauh akan diberi tugas memimpin Bulog Kediri. Harisun memilih tetap fokus pada pekerjaannya. Apalagi, serangkaian program sudah dia susun dan harus dilaksanakan.
Ketika akhirnya dia yang ditunjuk mengisi posisi pemimpin Perum Bulog Kediri, dia sempat kaget. “Tapi ya namanya tugas, saya harus siap,” ucap pria 53 tahun ini.
Baginya, mutasi kerja adalah hal biasa. Dia sudah berkali-kali merasakan. Bertugas di Jawa maupun luar Jawa. Daerah seperti Sulawesi, Sumatra, hingga Nusa Tenggara Barat pernah dia jalani. Durasi waktunya juga beragam, ada yang tahunan.
“Sebelum di Madiun, saya di kanwil (Kantor Wilayah Bulog Jawa Timur, Red) selama dua bulan,” ujarnya sembari menyebut posisinya saat itu sebagai manajer pengadaan.
Mundur lagi ke belakang, sebelum itu, Harisun memimpin Perum Bulog Banyuwangi. Tempat dia lahir dan menghabiskan masa anak-anak hingga remaja.
“Saya asli Osing, suku Osing, suku Banyuwangi asli. Jadi kalau ada orang Banyuwangi yang ngomong Osing, saya pakai bahasa Osing,” tekan pria berkepala plontos ini.
Di Banyuwangi, dia bertugas hampir dua tahun, persisnya 22 bulan. Ketika itu Harisun merasa senang karena bisa tinggal bersama keluarga. Sebab, bila bertugas di luar Banyuwangi, dia harus menjalani hubungan jarak jauh.
Selama bekerja di Perum Bulog, semua pahit manisnya pengalaman sudah dia rasakan. Tak hanya mutasi yang jauh dari rumah, juga pernah didemo hingga diperiksa polisi dan kejaksaan. Semuanya bisa dia lalui dengan baik.
“Yang penting kita laksanakan (semua pekerjaan) dengan amanah,” tegasnya.
Menariknya, di setiap dinamika pekerjaan yang dia lakukan ada satu kebiasaan yang konsisten dilakukannya. Tak peduli di manapun Harisun ditempatkan. Yaitu aktivitas berolahraga tenis lapangan.
Bahkan, Harisun menyebut dirinya sangat menggemari tenis. Hingga pernah menggelar kejuaraan atau turnamen.
“Saya pernah mengadakan turnamen, namanya Paslog, Lapas dengan Bulog,” cerita Harisun.
Turnamen itu tergolong kejuaraan besar di Banyuwangi. Dibuka oleh bupati dan kapolres.
“Dan di situ ada pemain nasional. Mulai dari PON, porprov yang mixing (campur, Red) dengan pemain lokal,” sambungnya menceritakan turnamen yang diselenggarakan pada 2023 lalu.
Mengulik lebih dalam, kepiawaiannya dalam bermain tenis didapatkannya saat bertugas di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 2008 silam. Kala itu, di kantornya terdapat lapangan tenis. Berawal dari situ, dia tertarik untuk belajar tenis.
“Kebetulan ada lapangan tenis itu dua, asyik juga. Akhirnya saya beli raket dan security saya, saya suruh ajarin. Saya bayar Rp 16 ribu per pertemuan. Masih inget saya,” kenangnya sembari menjelaskan bahwa security-nya tersebut adalah mantan pemain tenis.
Nah, sejak itulah Harisun jatuh cinta dengan olahraga tenis. Dibuktikannya dengan bermain secara rutin minimal dua kali dalam seminggu. Bahkan, kini dia kerap mengajak pegawainya bermain bersama. Dan tidak disangka-sangka, dirinya pun berencana membuat turnamen tenis.
“Saya sudah punya obsesi itu (menggelar turnamen tenis). Saya sudah bertemu dengan Pak Usman PTK (Paguyuban Tenis Kediri). Kalau nggak Agustus atau September ada turnamen,” beber pria yang juga pernah menjadi pemain sepak bola saat dirinya masih sekolah.
Lebih dari itu, Harisun menekankan bahwa olahraga yang dilakukannya selama ini bukanlah ditujukan untuk kesenangan semata. Melainkan ada esensi tersendiri.
Menurutnya, olahraga bisa membuat tubuh yang sehat. Dan ketika seseoran sehat, produktivitas kerjanya pun meningkat. Karenanya, dia meminta para pegawainya berolahraga minimal 150 menit per minggu. Entah itu hanya jalan kaki, treadmill, atau yang lainnya.
“Saya ingin teman-teman itu sehat. Selain menguntungkan pribadi, perusahaan juga untung,” tandasnya. (*)
Editor : Mahfud