KEDIRI, JP Radar Kediri - Wahyudi dan Ayu Titis Lukmanasari duduk di sudut satu kafe di Kota Kediri. Pandangan mereka tertuju ke gawai di genggaman sang pria. Menyaksikan video berisi puluhan remaja memainkan gamelan.
Keduanya sangat fokus. Tak terpengaruh dengan riuh-rendah suasana di kafe siang itu. Sesekali dahi mereka mengernyit. Jari tangan menunjuk ke layar. Diselingi obrolan, tentang apa yang kurang dari penampilan para remaja di video tersebut.
“Mereka ini adalah mahasiswa di Malaysia. Kemarin (14-20 Desember, Red) mereka baru saya ajari bersama istri bermain gamelan dan tari,” ucap Wahyudi, ke Jawa Pos Radar Kediri yang berada di hadapannya.
Wahyudi dan Ayu pantas disebut sehati. Keduanya adalah pasangan suami istri. Sama-sama lulusan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Sang suami sarjana seni karawitan. Sementara istrinya adalah lulusan seni tari.
“Saya dan istri sudah bersama sejak di SMK, (kuliah) S1, S2, hingga jadi dosen sekarang ini,” Wahyudi bercerita.
Ya, saat ini keduanya berstatus dosen di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri. Wahyudi mengajar di jurusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD). Sementara sang istri di pendidikan guru pendidikan anak usia dini (PGPAUD).
Seakan belum cukup kebersamaan mereka, keduanya juga sama-sama sering diminta menjadi pemater seni dan budaya Indonesia di luar negeri. Ayu pernah ke Thailand dan Korea Selatan untuk mengajar seni karawitan. Sedangkan Wahyudi di Singapura dan Australia. Terakhir, 14 hingga 20 Desember lalu, mereka berada di Malaysia. Mengajar tari dan karawitan di Universiti Teknologi Petronas (UTP).
Khusus di Malaysia itu menjadi yang pertama bagi keduanya mengajar secara bersama-sama di negeri orang. “Itu jadi yang pertama kali, kami benar-benar senang,” ujar Wahyudi, yang menikah sejak 2014 itu.
Di UTP Malaysia yang mereka ajarkan sedikit berbeda. Lebih ekspresif karena selain karawitan juga gerak tarinya sekaligus.
Lebih spesial, yang mereka ajari bukan mahasiswa seni. Melainkan dari jurusan teknik. Menurut sang dosen, UTP memang menggunakan pembelajaran seni sebagai terapi. Dengan tujuan agar ada kepekaan dan harmonisasi antar-mahasiswa.
“Jadi secara garis besar kami ngajari mereka filosofi dari among rasa. Fungsinya ya untuk membangun harmoni,” terang Wahyudi.
Tak disangka para mahasiswa sangat antusias. Mereka belajar karawitan yang dipadukan dengan unsur seni tari dengan semangat. Kurang dari satu minggu sudah bisa menguasai materi yang disampaikan.
“Mereka benar-benar menghargai budaya yang kami bawa. Mereka sangat antusias,” pujinya.
Tugas Wahyudi dan Ayu belumlah usai. Keduanya kembali diundang universitas yang sama. Jika tidak molor, keduanya akan kembali ke Malaysia pada Juni 2024. Agendanya adalah kembali mengajari para mahasiswa untuk belajar seni karawitan yang dipadukan dengan seni tari.
Editor : Anwar Bahar Basalamah