Push bike merupakan sepeda yang didesain tanpa pedal dan rem tangan. Untuk menggerakkan sepeda tersebut bukan dikayuh atau digowes, namun memerlukan dorongan kaki untuk melajunya.
Begitu pula untuk mengeremnya dengan menggunakan kaki untuk menahan ke tanah atau landasan. “Awalnya orang awam mengetahui push bike sebagai sepeda keseimbangan. Untuk melatih keseimbangan sebelum roda dua. Namun sebenarnya lebih dari itu,” terang Novita Saraswaty, Fonder Jayabaya Push Bike Kediri.
Dia menjelaskan bahwa push bike ini diperuntukkan anak berusia dua hingga sembilan tahun. Pada usia tersebut anak memiliki energi berlebih. Energi disalurkan dengan mengikuti kegiatan yang bermanfaat bagi tumbuh kembangnya.
Apalagi saat masih pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak perubahan kegiatan yang awalnya dilakukan luring dialihkan menjadi daring. Hal ini membuat anak anak semakin familiar dengan gadget sementara Penggunaan gadget yang berlebih pada anak memberikan dampak buruk terhadap tumbuh kembangnya, baik fisik maupun perilakunya.
“Salah satu alternatif yang dapat dipilih adalah bermain push bike, sepeda dua roda dan tanpa pedal yang banyak sekali manfaatnya bagi anak anak,” imbuhnya.
Selain keseimbangan, juga melatih sensorik dan motoriknya halus dan kasar. Sensorik halus contohnya adalah koordinasi mata. Kemudian, contoh sensorik kasar adalah tangan anak yang memegang setir dan juga respons.
Dengan mengikuti push bike juga menjadi alternatif kegiatan anak dalam bersosialisasi, mandiri dan meningkatkan kepercayaan diri. Anak-anak yang semula pemalu, menjadi lebih berani dan mendapatkan banyak teman. “Membantu membangun kepercayaan diri anak,” kata ibu dua anak tersebut.
Saat bermain push bike anak dituntut menjaga keseimbangan sekaligus belajar mengayuh. Push bike dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri karena anak bisa fokus pada menjaga keseimbangan. Anak juga bisa belajar lebih cepat, lebih percaya diri dengan keterampilan barunya.
Lebih aman, push bike sangat mudah dikendalikan dibanding sepeda beroda tiga. Push bike membuat anak mengontrol kecepatannya sendiri sesuai dengan kesiapan diri. Dengan kecepatan yang disesuaikan dengan diri sendiri, anak jadi lebih aman dan tidak mudah jatuh.
Perlu diketahui, bahwa sepeda keseimbangan lebih ringan daripada sepeda biasa. Dengan berat yang lebih ringan, anak memiliki stamina lebih dalam mengendalikan sepedanya.
Membantu mengajarkan kebiasaan baik, mengendarai sepeda keseimbangan mengajarkan anak belajar bersepeda secara alami. Ketika anak sudah menguasai keseimbangan, akan jauh lebih mudah baginya untuk belajar mengayuh ke depannya.
Dekatkan Komunikasi Anak dengan Orang Tua
Seperti olahraga pada umumnya, dalam push bike juga terdapat risiko anak mengalami cedera. Salah satunya adalah terjatuh dari sepeda. Shingga safety juga perlu diperhatikan. “Saat anak menggunakan push bike, orang tua perlu menyiapkan pelindung,” Sofyan Ariyanto, Coach Jayabaya Pusbike Kediri.
Alat pelindung yang perlu disiapkan, helm, sarung tangan, dan pelindung lutut. Seperti namanya, setiap alat tersebut melindungi bagian-bagian tubuh tersebut.
Sebelum latihan, yang pertama dilakukan adalah pemanasan. Dengan dilakukan pemanasan, membuat otot anak tidak mudah mengalami cidera. Dalam pemanasan juga diperhatikan posisi langkah, dan larinya.
Setelah memperhatikan langkan dan larinya, baru kemudian teknik berbelok, cornering, hingga teknik start. Semua itu dipelajari anak dengan cara bertahap. Di mana setiap latihan materi yang diberikan berbeda-beda. “Seperti pada latihan ini belok di tikungan U, kemudian latihan berikutnya di tikungan L. Sehingga anak-anak dibekali latihan satu poksi,” imbuhnya.
Tidak hanya melatih sensorik dan motoriknya. Pushbike juga melatih komunikasi anak dengan orang tua. Karena anak dua tahun ini masih belum bisa diajak bicara dan masih seenaknya sendiri, jadi harus telaten.
Sofyan mengatakan, jika komunikasi anak dan orang tua sudah baik akan mudah diajak untuk kenceng. Sedangkan jika anak diajak bicara susah, anak juga susah untuk menerima. Sehingga didalam orang tua ini dituntut untuk berkomunikasi. “Jika komunikasi anak dan orang tua dan hanya mengandalka pelatih, nantinya akan susah,” kata Sofyan.
Sehingga perlu digabungkan komunikasi orang tua, anak dan pelatih. Saat latihan orang tua harus mendapingi anak, jika tidak mendampingi akan susah. Sebab saat race, yang mengerti kondisi anak adalah orang tua.
Seperti saat sebelum hari dilakukan race, tugas orang tua ini untuk menyiapkan anak. Di mana memastikan anak dalam kondisi sehat, istirahat cukup, hingga memastikan anak tidak mengantuk saat kegiatan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah