Sorot mata Febriansyah lekat terpaku pada kuda lumping polos di depannya. Perlahan, tangannya menyapukan cat. Gerakannya teratur. Mengikuti pola yang telah dibuat sebelumnya. Satu demi satu warna disapukan bergantian. Hingga nampak gambarnya dengan jelas.
Febri merupakan satu dari puluhan pemuda yang tergabung dalam ‘Putro Ronowijoyo’. Kelompok jaranan dari Desa Keling di Kecamatan Kepung. Yang bikin berbeda, para anggota kelompok ini tak sekadar piawai menari kuda lumping. Tapi juga ahli membuat kuda kepangnya.
“Semua warga lokal. Teman-teman satu desa,” terang Bendahara Putro Ronowijoyo Damora Libranata.
Damora mengatakan, ide membuat kelompok jaranan tersebut tercetus sejak lama. Namun, baru dapat tereksekusi awal tahun ini. Dia mengatakan, mereka punya visi yang sama. Dan itulah yang menyatukan setiap anggota kelompok. Tujuan besarnya adalah dapat menjadi wadah berkreasi. Lebih dari itu, mereka juga ingin mengenalkan kebudayaan daerah.
Mereka sangat bersungguh-sungguh dengan niatan itu. Sampai-sampai rela mengeluarkan uang dengan nominal beragam untuk patungan. Uang itulah yang digunakan sebagai modal. Hingga akhirnya dapat menunjukkan sepak terjangnya.
Ada yang unik dari kreasi kuda lumping ‘Putro Ronowijoyo’. Mereka tidak menggunakan anyaman bambu. Menurutnya, bahan tersebut relatif cepat rusak. Menyiasati hal tersebut, mereka memilih menggunakan material tali peti. Yang bahannya terbuat dari plastik.
“Kalau plastik bisa lebih awet. Tidak seperti bambu,” tutur pria yang juga merupakan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Keling.
Dalam satu bulan, mereka bisa memproduksi tiga hingga empat buah kuda lumping. Satu kuda lumping polos tanpa warna dibanderol dengan harga Rp 250 ribu. Sedangkan kuda lumping jadi yang sudah diwarna diberi harga Rp 450 ribu. Untuk penjualan, mereka memasarkannya di Kabupaten Kediri.
“Ke depannya kami juga ingin merambah pasar luar kota. Kami sedang mengupayakan,” tutur Damora.
Dia mengaku tergerak ikut terjun karena para pemuda tersebut memiliki niat yang mulia. Yaitu memperkenalkan kesenian jaranan kepada khalayak umum. Menurutnya, semangat tersebut harus dijaga dan didukung. Pasalnya, banyak generasi muda yang kini justru meninggalkan tradisi dan kebudayaannya.
Damora juga mendorong kelompok tersebut untuk ikut berperan serta dengan pengembangan wisata desa di sana. Salah satunya dengan turut menampilkan kesenian tersebut di Goa Jegles setiap akhir pekan. Tak hanya itu, mereka juga dengan senang hati mengajari wisatawan untuk membuat kuda lumping tersebut.
Dita Alifia, 20, salah seorang wisatawan mengaku merasa tertantang untuk membuat kuda lumping. Dia tertarik untuk belajar menganyam tali peti tersebut. “Susah-susah gampang. Yang pasti harus benar-benar fokus,” aku Dita.
Perempuan asal Ngancar tersebut mengatakan bahwa pendekatan tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk wisata di Desa Keling. Pasalnya, pengunjung dapat merasakan langsung berbagai pengalaman baru.
“Baru kali ini belajar membuat kuda lumping,” ungkap sembari tertawa ringan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah