Dari Simpang Lima Gumul (SLG) perjalanan ke Wisata Kota Mungil butuh waktu sekitar 45 menit. Namun jika dari perbatasan Kandangan dan Kasembon, Malang sekitar 55 menit hingga satu jam. Medan jalannya sudah beraspal.
Meski agak berkelok, namun tidak begitu menanjak. Setibanya di lokasi, pengunjung disambut patung balita botak. Itu ikon tempat wisata. “Satu orang cukup bayar Rp 10 ribu,” terang Amelia, 17, salah satu wisatawan.
Setelah lewat pintu masuk, pengunjung diperlihatkan pemandangan bunga berwarna-warni. Ada yang berwarna merah, oranye, dan kuning. Warna-warna tersebut sama seperti bangunan menyerupai gedung di pinggirnya.
Ada yang bertuliskan police, baby clinic, pemadam kebakaran dan lainnya. Di bagian tengahnya, terdapat spot seperti alun-alun dengan spot foto berupa patung miniatur makanan. Mulai dari es krim dan permen. “Tempat wisata ini seperti yang di Belanda itu,” ujar remaja asal Desa/Kecamatan Wates tersebut.
Bersama temannya, Ajeng Mumpuni, 17, alasan tertarik mengunjungi tempat wisata ini karena murah dan banyak spot foto. Selain berfoto di gedung warna-warni, juga jalan yang diwarnai mirip jalan raya. Ada juga rumah mirip di Belanda. “Bisa buat stok foto untuk di-upload di Instagram,” aku Ajeng.
Tempat wisata ini cocok menjadi tempat wisata keluarga. Dari pengamatan Jawa Pos Radar Kediri, siang itu banyak juga rombongan keluarga berkunjung. “Sebenarnya ini tadi mau ke kawah, terus di jalan ada tulisan Wisata Kota Mungil jadi penasaran,” ungkap Sofi Dewi, 45. Perempuan asal Surabaya ini datang bersama suami dan dua anaknya. Melihat tempat wisata tersebut, menurutnya, lumayan bagus.
Karena selain spot foto, ada wahana bermain ayunan dan kolam renang. Tidak hanya itu di sana juga ada toilet dan musala yang cukup bersih. “Mungkin nantinya wahana mainannya bisa diperbanyak lagi,” kata Sofi. Editor : Anwar Bahar Basalamah