Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cagar Alam Simpenan, Berjuang Melawan Perburuan Liar dan Ketidakpedulian

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 6 Juni 2022 | 17:45 WIB
LARI : Seorang bocah berusaha menjauh dari kerumunan monyet ekor tupai di Alas Simpenan yang baru dia beri makan. (Foto: Iqbal Syahroni)
LARI : Seorang bocah berusaha menjauh dari kerumunan monyet ekor tupai di Alas Simpenan yang baru dia beri makan. (Foto: Iqbal Syahroni)
Hutan yang menjadi cagar alam ini sempat rusak oleh perburuan liar dan ketidakpedulian.  Upaya melestarikan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia hari ini bisa jadi momentum yang pas.

Orang biasa menyebutnya Alas Simpenan. Statusnya, sebagai cagar alam. Nama resminya adalah Cagar Alam Simpenan Manggis-Gadungan. Lokasinya membentang mulai dari Desa Manggis hingga Desa Gadungan di Kecamatan Puncu. Pengelolaannya di bawah Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur.

Karena berstatus cagar alam, Alas Simpenan menjadi rumah bagi beberapa satwa dan juga berbagai jenis flora. Paling terkenal adalah monyet ekor panjang.

Yang unik, musuh bagi para penghuni Alas Simpenan ini bukan hanya para pemburu liar. Melainkan faktor kecelakaan. Ya, karena ada jalan yang membelah hutan ini, seringkali kendaraan yang melintas menabrak satwa-satwa yang ada.

“Jalannya sudah ada dari dulu. Memecah dari Manggis ke Gadungan,” terang Kepala Seksi Resort Konservasi Wilayah III BKSDA Kediri Siti Nur Laili.

Photo
Photo
HANGAT: Kawanan kalong bergelantungan di dahan-dahan pohon yang ada di Alas Simpenan. (Foto: Iqbal Syahroni)

Untungnya, jalan trabasan itu kini sudah ditutup. Kendaraan tak boleh lagi melintasi masuk hutan.

Kini, yang tetap menjadi musuh utama cagar alam ini adalah para pemburu liar. Karena itulah patroli ketat oleh petugas terus dilakukan.

Cagar alam seluas 13,36 hektare ini dikenal sebagai habitat bagi monyet ekor panjang dan juga kalong. Meskipun demikian, alas ini juga dikenal dengan kaya dengan sisi kebotanian. “Sama dengan Cagar Alam Besowo Kepung, keduanya dianggap Koorders (Sijfet Hendrik Koorders, peneliti asal Belanda, Red) punya kekhasan tumbuh-tumbuhan,” terang Leli.

Banyaknya jenis flora berbanding lurus dengan keberagaman faunanya. Berdasarkan penelitian Koorders, ada ratusan jenis hewan di hutan ini. Selain sang maskot-monyet ekor panjang dan kalong-juga ada bajing, ular, hingga kijang. Meskipun, khusus kijang saat ini sudah jarang ditemukan.

“Saat ini yang paling mudah ditemukan ada monyet, ular, dan burung-burung,” jelas Leli.

Hilangnya hewan-hewan penghuni Alas Simpenan lebih disebabkan faktor manusia. Meskipun sudah ditetapkan sebagai cagar alam sejak 1919 toh perburuan liar masih saja terjadi. Terutama ketika masih ada jalan yang memecah hutan ini.

"Ini dulunya aspal. Lurus ke utara menuju Satak, Puncu sepanjang 850 meter. Baru ditutup 2014," jelas Leli.

Jalan itu sering dimanfaatkan pemburu liar yang menyaru warga yang hendak melintas. Keberadaan jalan pintas itu juga menimbulkan fragmentasi habitat. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UGM pada 2007, mendapatkan banyaknya kematian ular dari dampak keberadaan jalan.

Pada 2010, upaya memindah jalan mulai dilakukan. Dua tahun kemudian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri menganggarkan pembangunan jalan pengganti di alur hutan produksi Perum Perhutani. Tapi pengerasan jalan itu belum juga terwujud hingga 2014.

"Baru pada pertengahan 2014, ada momentum pohon roboh di area cagar alam Alas Simpenan Manggis-Gadungan, Pemkab Kediri segera menutup akses jalan," imbuh Leli.

Setelah jalan tak digunakan, aspalnya mulai dibongkar. Butuh waktu lama baru tumbuh tanaman di bekas jalan tersebut. Kini, jalan itu sudah tidak terlihat lagi bekasnya.

Sejak itu, penyelamatan flora dan fauna di cagar alam ini mulai membaik. Jalan itu mulai tertutup vegetasi. Beberapa semai tumbuhan tumbuh lebih dominan seperti tutup merah, tutup putih, lengki, wadang, basah, jingkat, awar-awar, Nangka-nangkaan, dan luwingan.

Selain itu, kebiasaan monyet ekor panjang yang membuang biji makanannya di bekas jalan aspal membuat tumbuhnya banyak vegetasi. Diharapkan dengan musim penghujan yang lebih lama dari biasanya, area bekas jalan aspal akan segera tertutup tetumbuhan. "Kami juga terus lakukan patroli hingga libatkan masyarakat sekitar untuk bersama melindungi cagar alam," pungkas Leli.

 

  Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #hewan #hewan punah #alas simpenan #satwa