Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kapten Kasihin Gugur di Usia 32 Tahun

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 2 Juni 2022 | 21:18 WIB
GUGUR DI USIA MUDA: Patung Kapten Kasihin di Alun-Alun Nganjuk. (Foto: Karen Wibi)
GUGUR DI USIA MUDA: Patung Kapten Kasihin di Alun-Alun Nganjuk. (Foto: Karen Wibi)
Perjuangan Kapten Kasihin mengusir penjajah menjadi teladan bagi kita semua. Pria kelahiran Tulungagung ini rela bertempur habis-habisan. Meski perjuangannya harus dibayar mahal. Kapten Kasihin harus meninggal dunia di usia muda.

Kasihin Hadi Soetomo ini memiliki jiwa patriotisme yang sangat tinggi. Sejak muda, dia sudah mengabdikan diri di dunia militer. Ia sudah berkomitmen untuk membela Tanah Air. Kecintaannya terhadap bangsa dan negara Indonesia menjadi alasan utamanya.
Sehingga, Kasihin akhirnya menjatuhkan pilihannya untuk menjadi seorang tentara angkatan darat (AD) kala itu. Dengan tekad yang kuat dan didukung dengan kompetensi mumpuni, karirnya di militer meroket. Di usianya yang baru menginjak kepala tiga, Kasihin sudah mendapatkan pangkat seorang kapten.
“Kasihin seorang kapten di AD,” ujar Aries Trio Effendy, pemerhati sejarah Nganjuk kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.
Puncak kisah perjuangan Kapten Kasihin saat bertugas di Kota Angin. Tepatnya yaitu di Desa Kedungombo, Kecamatan Tanjunganom. Pasalnya, lokasi tersebut dipilih untuk menjadi markas Batalyon 22/Sriti untuk memukul mundur tentara Belanda.
Sebagai seorang kapten, dia memiliki pasukan. Terlebih, dia merupakan Komandan Kompi III Yon 22/Sriti. Kasihin pun sering kali ikut terjun langsung ke medan tempur. Berhadapan langsung dengan tentara Belanda.
Puncak pertempuran Kapten Kasihin terjadi pada tahun 1949. Saat itu, Kasihin berperang melawan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Tepatnya di bulan April 1949,” imbuh pria yang tinggal di Desa/Kecamatan Ngetos tersebut.
Bahkan, pertempuran hebat tersebut sampai merenggut nyawa Kapten Kasihin. Banyak pihak mengisahkan bahwa pria asal Tulungagung tersebut terkena tembakan tentara lawan. Meskipun sempat bersembunyi di rumah salah seorang warga di sana.
Sayang, tentara Belanda yang mengejarnya dapat mengetahui tempat persembunyian Kapten Kasihin. Tentara musuh pun lantas membunuhnya di lokasi. Hingga akhirnya kini, lokasi pertempuran dan gugurnya Kapten Kasihin tersebut didirikan sebuah prasasti untuk mengenang perjuangan Kapten Kasihin.
“Beliau gugur pada usia yang relatif masih muda. Kapten Kasihin gugur saat usianya menginjak 32 tahun,” ujar Aries. (tar/tyo) Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita terkini #kapten kasihin #pahlawan #pahlawan indonesia