Sertu Suprapto terlihat sibuk ketika berada di Kantor Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri kemarin pagi (4/10). Tangan anggota Koramil Mojoroto itu memasukkan bahan-bahan kebutuhan sehari-hari ke dalam plastik. Menjadikannya satu paket bantuan sembako.
Di dekat tentara yang bertugas sebagai bintara pembina desa (babinsa) di Kelurahan Pojok itu terlihat beberapa bungkus bantuan. “Ini akan disalurkan ke pemulung yang ada di TPA (tempat pembuangan akhir, Red) Klotok,” aku Suprapto.
Ya, sebagai babinsa, prajurit TNI itu memang terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Khususnya yang berlangsung di desa binaannya. Bersama dengan pemdes dan bhabinkamtibmas, anggota Polri yang juga bertugas seperti dirinya.
Babinsa adalah prajurit TNI yang ditugaskan di desa maupun kelurahan. Peran mereka ini sangat penting. Bisa disebut sebagai ujung tombak TNI. Bersentuhan langsung dengan masyarakat. Salah satu tugasnya adalah menjalin komunikasi dengan masyarakat dan pemerintah desa.
Menurut prajurit yang bertugas menjadi babinsa sejak 2016 ini, berbagai upaya telah dia lakukan untuk mendekatkan diri dengan warga. Termasuk dengan tokoh masyarakat.
“Bagaimana kami bisa dekat dengan masyarakat, itu dulu yang utama,” terangnya.
Bagi TNI, mempererat tali silaturahmi sangat penting. Untuk mendukung tugas dan fungsi teritorial. Dan itu menjadi bagian dari pekerjaan seorang babinsa.
“Salah satu cara yang paling efektif untuk menjaga hubungan baik dengan masyarakat yaitu dengan melakukan anjangsana dan ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan,” tutur pria 40 tahun itu.
Karena menjadi ujung tombak, babinsa harus menguasai kemampuan territorial. Seperti deteksi dini lapor cepat. Juga harus mampu berkomunikasi sosial. Artinya, babinsa harus pandai bicara, pandai berpidato, ceramah, dan menguasai segala ilmu pengetahuan. Apalagi penguasaan ilmu seni kepemimpinan sangat mempengaruhi keberadaan mereka di lapangan.
“Agar masyarakat simpati dan percaya terhadap apa yang saya ucapkan. Karena peran kami penting bagi masyarakat, baik dalam kerukunan hingga masalah ketahanan masyarakat,” terang bintara yang tugas pertamanya di Denrudal 003 Tangerang itu.
Salah satu permasalahan yang sering terjadi di wilayah binaannya adalah sengketa batas tanah. Dia hadir di tengah-tengah mereka yang bertikai. Membantu mediasi dan menjadi penengah dalam menyelesaikan masalah. Sebagai babinsa, dirinya bertanggung jawab menjaga wilayah agar tetap aman dan kondusif. Salah satunya adalah dengan membantu menyelesaikan permasalahan batas kepemilikan tanah antar dua warga itu.
Cerita lain disampaikan Sersan Mayor (Serma) Jaenuri, 48, babinsa di Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo serta di Desa Wonocatur, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Menurutnya, sebagai babinsa maka dia harus mengabdikan diri selama 24 jam.
Anggota Koramil Ngasem ini mengatakan, permasalahan yang banyak dia hadapi adalah persoalan antarwarga, antartetangga. Namun, dia juga mem-back up polisi dalam penanganan unjuk rasa.
“Jika di desa ada permasalahan, saya selalu dengan berkoordinasi dengan tiga pilar,” imbuh prajurit yang beralamat di Desa Purwotengah, Kecamatan Papar ini.
Sebagai babinsa, kegiatan sehari-harinya adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Karena itu dia harus dekat dengan warga.
Dengan mendekatkan diri dengan masyarakat, dapat mengetahui permasalahan yang berada di desa tersebut. Salah satunya ketika ada masalah serangan hama. Dia pun harus bisa memberikan penyuluhan dengan bekerja sama dengan petugas penyuluh lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian Kabupaten Kediri.
Sementara itu sersan satu Ekos Susilo, sudah sejak tahun 2016 menjadi babinsa di Desa Tanjung, Kecamatan Pagu. Selama menjadi anggota koramil 0809/14, dia melaporkan setiap kegiatan untuk mencegah seperti bencana alam, sosial budaya, dan membantu kesusahan masyarakat. “Masa pandemi ini bersama dengan pemerintahan desa, dan polsek membantu melakukan tracing pasien yang terkonfirmasi positif,” kata Eko.
Koordinasi dengan masyarakat, tokoh masyarakat dan bhabinkamtibmas, adalah kunci sukses dari babinsa dalam melaksanakan tugas. Selama pandemi Covid-19, tugasnya adalah membantu masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan. Jika terdapat ada masyarakat tidak menggunakan masker, maka akan diberi masker.
Dedikasi para babinsa ini sangat tinggi. Suatu saat Eko sudah pulang ke rumahnya selesai bertugas. Namun, dia harus kembali ke lapangan karena ada pohon tumbang di wilayahnya. Itu sudah risiko tugas sebagai babinsa. (ara/ica/fud)
Sejak tahun 2003 Sersan Mayor Jaeunuri, 48, menjadi anggota Koramil 0809/04. Sudah terhitung sekitar 18 tahun, laki-laki asal Desa Purwotengah, Kecamatan Papar ini menjadi Bintara Pembina Desa (Babinsa). Kini ia bertugas di Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo dan Desa Wonocatur, Kecamatan Ngasem. “Tugas Babinsa itu kerjanya 24 jam,” cerita Jaeunuri setelah selesai melakukan apel pagi.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri, Jaenuri menceritakan bahwa sebagai babinsa sudah mendapatkan mandat dari panglima untuk melaksanakan tugas untuk melakukan pembinaan di desa. Tentu saja pelaksanaan tuga tersebut dengan berkoordinasi dengan kepala desa, dan bhabinkamtibmas. Agar tugas tersebut berjalan dengan lancar, harus menguasai biologi, sosial budaya, dan pertahanan.
Editor : adi nugroho