Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kampung Kauman  di Kediri, Masih Tersisa Rambu dan Rel Kereta Api (32)

adi nugroho • Senin, 31 Mei 2021 | 21:50 WIB
kampung-kauman-di-kediri-masih-tersisa-rambu-dan-rel-kereta-api-32
kampung-kauman-di-kediri-masih-tersisa-rambu-dan-rel-kereta-api-32

Pergi sekolah naik trem. Satu gerbong penuh dengan siswa yang menuju pusat kota. Itulah kenangan masa kecil warga Kampung Kauman Gurah.


 


Jejak-jejak trem itu masih bisa ditemukan. Sepanjang tepi jalan ada jalur kereta yang masih terlihat jelas. Meskipun hanya relnya saja yang masih ada. Sedangkan bagian tengah, bantalan dan balast (batu-batu kecil untuk peredam getaran rel)-nya sudah tak terlihat. Sudah tertimbun tanah. Pemandangan ini setidaknya terlihat di sepanjang Jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo.


Keberadaan jalur kereta api itu juga bisa dilihat dari sisa-sisa rambu kereta api. Rambu ini biasa terpasang di tepi rel. Salah satunya masih berdiri di simpang tiga         timur Pasar Gurah. Di antara Jalan Dr Wahidin dan Jalan Seruji.


Rambu itu dari lempeng berbentuk lingkaran. Ada dua lubang di dalamnya. Terpasang pada tiang yang terbuat dari besi setinggi 1,5 meter. Tentu saja kondisinya sudah jauh dari bagus. Sudah penuh dengan karat.


Rambu itu fungsinya sebagai tanda berhenti kereta api dari arah utara, dari Pare, dan dari selatan, Kediri. Sebab, di dekat Kampung Kauman Gurah ini dulu juga berdiri stasiun kereta api. Stasiun ini dengan Kampung Kauman Gurah tak jauh. Hanya sekitar 100 meter ke arah utara. Lokasinya tepat di tepi jalan raya.


Stasiun itu dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda waktu itu. Bersama dengan stasiun-stasiun lain di tanah air. Perkiraan, stasiun tersebut dibangun pada 1890-an. Pengelolanya adalah jawatan kereta api kolonial, Kediri Stroomtram Maatshcappij (KSM). Saat itu jalur kereta ini menghubungkan Kediri dan Jombang. Dengan panjang rel mencapai 50 kilometer.


Kini di lahan bekas stasiun itu sudah menjadi permukiman. Sudah berdiri rumah-rumah dan pertokoan. Seperti di Jalan Dr Wahidin itu. Ada toko mebel yang berdiri di lahan bekas stasiun.


“Di tahun 1970 (stasiun kereta api) itu masih ada,” kenang Sarwoto, warga Kampung Kauman yang kala itu masih anak-anak.


Pada tahun itu Sarwoto masih duduk di bangku sekolah dasar. Meskipun rumahnya di Kampung Kauman Gurah, Sarwoto bersekolah di Kota Kediri. Demikian halnya dengan banyak teman sebayanya. Setiap pagi mereka bersama-sama menaiki kereta. Tak heran, satu gerbong penuh berisi anak-anak yang hendak bersekolah selalu menjadi pemandangan di setiap pagi.


Dalam ingatan Sarwoto yang lamat-lamat itu, dia pernah menaiki trem saat kelas 5 SD. Sayang, Sarwoto tak bisa menjelaskan lebih terperinci soal kondisi dan suasana gerbong trem saat itu. Usianya yang sudah senja membuat Sarwoto tak bisa mengingat banyak.


Meski demikian, ada yang masih lekat dalam ingatan Sarwoto. Yakni jajaran enam dokar di depan stasiun saat itu. “Kalau dokar ada di depan stasiun,” ujar kakek 83 tahun itu. (wi/fud)


 

Editor : adi nugroho
#gurah