Arya Satria kini meraup sukses. Lagu-lagu tembang Jawa ciptaannya banyak digemari masyarakat. Padahal, sebelum mantap menjadi musisi, pria asal Mojo itu hanya bekerja serabutan.
DEWI AYU NINGTYAS, KABUPATEN, JP Radar Kediri
“Hidup saya pernah susah. Sangat pahit. Saya tidak kaget,” begitulah kalimat pertama yang dilontarkan pria berambut gondrong itu. Perjalanan hidup yang dianggapnya lebih pahit dari orang lainnya.
Arya Satria, kini menjadi musisi yang telah menciptakan ratusan lagu bergenre campursari dengan bahasa Jawa itu telah sukses.
Tidak pernah menyangka jika kesuksesan yang diraihnya saat ini sebuah kenyataan. Dari lagu berjudul ‘Tembang Tresno’ dan ‘Ditinggal Pas Sayang-Sayange’ mampu membalik kehidupannya 180 derajat.
Melalui lagu keduanya ‘Tembang Tresno’ pada 2014 itulah perjalanan dimulai. Lagu yang lagsung meledak setelah dibawakan Devi Aldiva dari New Palapa. Dengan lagu itu, Arya pertama kali merasakan menerima uang sebesar Rp 400 ribu.
Kemudian disusul lagu berjudul ‘Cintaku Satu’ di 2017 yang dinyanyikan Gerry Mahesa dan Jihan Audy. Sampai pada 2019 meledak lagi dengan lagu berjudul ‘Ditinggal Pas Sayang-Sayange’ yang dinyanyikan Safira Inema. “Piye kabarmu sayang, opo kowe eling aku. Itu lagu saya,” kata Arya saat ditemui di rumahnya (21/2).
Lagu yang kerap diputar di warung-warung kopi dan konser itu memang buah cipta Arya. Belum banyak yang tahu memang. Termasuk masyarakat Kediri sendiri. Bahwa selama ini di lereng Gunung Wilis ada sosok musisi yang sudah malang melintang di Ibu Kota Jakarta.
Arya bukan hanya piawai membuat lagu. Untuk menambah pendapatannya, dia mendirikan perusahaan musik bernama PT Satria Record (SR) Production. Perusahaan tersebut menjadi jembatan bagi penyanyi-penyanyi papan atas. Salah satunya Happy Asmara.
Selain itu, ada tiga channel Youtube aktif yang menjadi pundi-pundi kekayaannya. Bahkan, dia sekarang memiliki tiga studio rekaman sendiri di rumahnya.
Kesuksesan bapak satu anak itu tidak diperolehnya secara instan. Perjalanan pahit yang panjang sudah dilaluinya. Sempat merantau dari Lampung, Jakarta, hingga Surabaya saat krisis moneter 1998 lalu. Masa-sama sulit itu membuatnya bekerja serabutan. Di Surabaya pernah menjadi penjual bakso. “Saya pernah dipalak preman waktu jualan,” ungkap pria 42 tahun ini.
Arya mengaku, titik balik perjalanannya itu dimulai dari Jakarta pada 2004. Saat itu dia bergabung menjadi spiritualis pengobatan alternatif di Lativi yang kini menjadi TV One dalam acara pemburu hantu bersama Ustad Guntur Bumi. Namun, dari pekerjaan itu, dia tidak mendapatkan upah. Dia pun memutuskan pulang ke Kediri lantaran yang dicari di ibu kota tidak membuahkan hasil. “Kalau saya bertahan di situ saya tidak pernah kaya. Apalagi ke depan pasti berkeluarga,” katanya.
Dari perjalanan panjang nan pahit itulah Arya memasrahkan semuanya pada Tuhan. Niat pulang ke Kota Tahu terwujud. Pada 2007, dia memulai pekerjaan dari nol. Menjadi kuli bangunan, sopir angkutan dari Desa Pamongan ke pasar Mojo dengan upah Rp 5 ribu. “Dan itu untuk menghidupi anak dan istri,” tuturnya.
Dengan kondisi Desa Pamongan yang jauh dari riuh perkotaan itu, Arya memulai kontemplasinya. Merenungi perjalanannya hingga tercipta lagu pertamanya. Yakni berjudul ‘Ora Ono Kabare’. Namun, lagu pertama itu tidak tidak meledak di pasaran.
Tidak berhenti sampai di situ. Berbagai inspirasi pun muncul. Menurutnya lagu itu dari histori, fiksi dan ilusi. Ketika lagu itu histori berarti apa yang dialami. Ketika lagu itu fiksi berarti cerita dan ketika lagu itu ilusi berarti khayalan. “Saya kurang kaya, kurang ganteng, pernah ditinggal, dan sering ditipu,” aku mantan penjual bakso itu.
Bahkan, untuk tidur pun Arya mengaku hanya beralaskan karung bekas pupuk di rumah yang berukuran 4x5 meter. “Itu kasur dari kapas. Sejak itu mulai berangkat sedikit demi sedikit,” katanya. (baz)
Editor : adi nugroho