Dimulai sekitar pukul 08.00, belasan peserta mengambil start di Alun-Alun Kota Kediri. Dari salah satu tempat ikonik di Kota kediri itu, peserta menyusuri beberapa gang. “Kami ingin merekam kota dengan Jalan Gembira ini,” kata Uniph Kahfi, salah satu peserta Jalan Gembira dari Jogjakarta.
Lebih jauh Uniph mengungkapkan, selain menampilkan karya seni mereka di Selasar Seni Daha 2022, para seniman juga ingin melakukan aktivitas lain di luar pameran. Jalan Gembira merupakan salah satu media bagi mereka untuk membuat cerita.
Tak heran, selama perjalanan mereka mendokumentasikan berbagai hal menarik yang ditemui. “Foto-foto itu akan kami kumpulkan sebagai arsip tentang kota dari hasil Jalan Gembira” sambung Benny Widyo, kurator asal Tulungagung. Selain berbentuk gambar, menurut Benny tiap peserta akan menyimpan ingatan tentang Kota Kediri dari jalan-jalan kemarin pagi.
Untuk diketahui, selama menempuh rute Jalan Gembira para peserta terlihat berhenti di tempat-tempat bersejarah. Salah satunya di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong. Di sana, para peserta mengabadikan tiap sudut tempat peribadatan tersebut.
Selain di Kota Kediri, menurut Benny mereka juga melakukan Jalan Gembira di sejumlah kota lainnya. Di tiap kota mereka selalu menemukan cerita menarik. Seperti saat masuk ke Kampung Seni, Kampung Kuliner, Kampung Warna, hingga saat mereka menemukan penjual es puter yang memakai bor.
Jalan Gembira juga jadi sarana untuk mempelajari budaya setempat. Misalnya FJ Kunting kemarin mencoba menyapa warga secara acak. Mereka langsung merespons dengan ramah. “Kami bilang monggo, dan mereka langsung menjawab,” kenang Kunting.
Sementara itu, selain Jalan Gembira, Selasar Seni Daha di hari kedua kemarin juga dimeriahkan beberapa kegiatan. Selain diskusi hasil Jalan Gembira, pengunjung juga mendapat hiburan Art of Symphony. Kemudian, dilanjutkan dengan perform peserta Festival Musisi Jalanan.
Adalah band Lampu Putih asal Kota Kediri yang berhasil menjadi juara. Kemudian, band Twenty Nine asal Jombang menjadi juara 2. Selanjutnya, juara 3 diraih Cah Angon dari Blitar, dan juara harapan 1 BB Music Production dari Kediri.
Wali Kota Abdullah Abu Bakar yang tadi malam menutup event di Taman Sekartaji itu menyerahkan trofi dan hadiah kepada pemenang lomba sebagai bentuk apresiasi. Didampingi Direktur Jawa Pos Radar Kediri Kurniawan Muhammad, Abu mengaku senang melihat event seni yang begitu diminati masyarakat. “Ini luar biasa. Seniman bisa leluasa berkreasi di Selasar Seni Daha ini,” pujinya.
Terpisah, Manager Event JP Radar Kediri Puspitorini Dian mengungkapkan, Selasar Seni Daha memang digelar untuk mewadahi berbagai kreasi seni. Termasuk seni musik yang dikemas dalam Festival Musisi Jalanan. Selain memperebutkan hadiah total Rp 10 juta, para pemenang juga mendapat piala wali kota dan piagam penghargaan.
Dalam pentasnya, peserta diminta membawakan lagu wajib tentang Kediri, serta lagu pilihan masing-masing. Dian mengaku mengapresiasi totalitas peserta saat tampil. Di depan dewan juri mereka tampil lepas dan menunjukkan musikalitas terbaiknya.
Para penonton yang melihat Selasar Seni Daha di hari kedua kemarin juga disuguhi karya seni dari para seniman kenamaan. "Salah satunya dari Yulela Nur Imama yang menampilkan karya Ku(Daku)da. Dosen ISI Surakarta ini berkolaborasi dengan Memeng, Septian A, dan Wahyu Tri," papar Dian sembari menyebut acara akan ditutup dengan alunan musik Folk dari Gayung Bersambut. Editor : Anwar Bahar Basalamah