Cara berperang Jenderal Soedirman yang berhasil membuat Belanda kewalahan adalah kick and run. Sigit Widiatmoko, pemerhati sejarah sekaligus dosen Universitas Nusantara PGRI mengartikan taktik Jenderal Soedirman tak ubahnya strategi pukul dan mundur.
Hal tersebut dilakukan karena perlengkapan senjata yang tidak berimbang. Tentara musuh (Belanda) sudah memiliki senjata perang komplet. Sedangkan pasukan Jenderal Soedirman hanya memiliki peralatan senjata seadanya.
Taktik Jenderal Soedirman yang selalu berpindah-pindah dan menyerang dengan cepat itu sangat efektif. Cara itu sempat membuat Belanda merasa kewalahan. “Taktik perang gerilya ini juga ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia masih memberi perlawanan dan sebagai bukti kekuatan,” terangnya.
Selalu berpindah tempat menjadi ciri khas perang gerilya. Hal itu pula yang dilakukan Jenderal Soedirman saat bersembunyi di Dusun Goliman, Desa Parang, Banyakan selama sembilan hari (Desember-Januari 1949). Setelah sempat singgah di Kediri, dia bergeser ke Desa Bajulan, Loceret, Nganjuk.
Ketua Komunitas Pelestari Sejarah Khadiri (Pasak) Novi Badrul Munir menuturkan, Jenderal Soedirman sangat jarang tinggal di satu tempat dalam waktu lama. Keberadaan pahlawan nasional itu di Dusun Goliman yang hanya beberapa hari itu sudah tergolong cukup lama.
Karenanya, menurut Novi rumah persembunyian sang jenderal itu layak menjadi kawasan wisata sejarah. “Desa Parang ini menyimpan banyak sekali potensi yang harusnya bisa dikelola dengan baik,” tuturnya.
Dia berharap, tradisi seperti napak tilas gerilya Jenderal Soedirman tetap ada setiap tahun. Dusun Goliman bisa menjadi lokasi awal sebelum perjalanan napak tilas dilaksanakan.
Terpisah, Kepala Dusun Goliman Pangadianto mengaku, sejak pandemi Covid-19 sudah tidak ada lagi napak tilas perjalanan Jenderal Soedirman. “Dulu pesertanya bisa sampai ribuan,” lanjut pria berusia 55 tahun itu.
Penyusutan peserta napak tilas Jenderal Soedirman itu terjadi sejak sepuluh tahun terakhir. Napak tilas biasanya digelar tiap bulan Oktober. Peserta yang berangkat dari Kota Kediri pukul 06.00, baru tiba di lokasi sekitar pukul 15.00. “Itu waktu tempuh untuk pejalan cepat,” tandasnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah