NGANJUK-Stok cabai yang menipis pertengahan Juli ini membuat harganya langsung meroket. Di Kabupaten Nganjuk, harga cabai keriting melonjak hingga Rp 60 ribu per kilogramnya. Beberapa jenis cabai lainnya pun ikut naik signifikan.
Seperti dikatakan oleh Sudarsono, 50, pedagang cabai di Pasar Sukomoro itu mengatakan, harga cabai yang paling murah adalah cabai hijau. Yaitu, Rp 25 per kilogram. Adapun harga cabai besar yang biasanya paling tinggi Rp 30 ribu, kemarin mencapai Rp 45 ribu per kilogramnya.
Kenaikan paling tinggi dialami cabai rawit yang melonjak menjadi Rp 52 ribu per kilogram. “Yang paling mahal cabai keriting. Harganya sampai Rp 60 ribu per kilogram. Biasanya hanya 15 ribu sampai Rp 25 ribu per kilogram,” ujar pria asal Desa Kedungmlaten, Lengkong ini.
Selama dua hari terakhir, lanjut pria tua itu, harga cabai bisa berubah dalam hitungan jam. Pria yang sudah berjualan selama puluhan tahun itu menyebut faktor meroketnya harga adalah karena stok yang minim. “Beberapa daerah penghasil cabai banyak yang gagal panen karena musim kemarau,” lanjutnya.
Karena itu pula, stok cabai dari luar daerah yang masuk ke Nganjuk berkurang drastis. Akibatnya, harga langsung melonjak tinggi karena permintaan jauh lebih besar dari stok barang. “Cabai dari Blitar yang biasanya masuk ke Nganjuk hanya cukup untuk pasar Kediri,” terangnya.
Akibat minimnya pasokan dari luar, para pedagang di Pasar Sukomoro hanya mengandalkan pasokan barang lokal. Termasuk panenan cabai dari Ngluyu. “Hanya sedikit barangnya,” keluh Sudarsono sembari menyebut pasokan cabai dari Tuban yang biasanya melimpah juga minim.
Yang lebih membuat penjual lesu, kenaikan harga cabai yang tajam ini juga membuat penjualannya menjadi seret. Jika dalam sehari biasanya dia bisa menjual sampai lima kuintal cabai, sekarang turun separo lebih. “Sekarang menjual dua kuintal saja sulit. Pembelinya sedikit,” tandasnya.
Harga yang mahal membuat pembeli mengurangi jumlah belanjanya. Karena itu pula, penjualan sejumlah pedagang besar di sana langsung merosot tajam. “Kami berharap harga bisa segera normal,” imbuhnya.
Untuk diketahui, mahalnya harga cabai keriting dan cabai rawit, membuat pembeli memilih cabai yang harganya lebih murah. Misalnya, warga mencampur membeli cabai merah besar agar konsumsi cabai rawit dan cabai keriting tidak terlalu banyak.
Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Nganjuk Heni Rochtanti yang dikonfirmasi tentang harga cabai yang meroket mengatakan, pihaknya sudah meminta petugas untuk melakukan survei. “Kami pantau untuk menentukan kebijakan selanjutnya. Karena terjadi di semua daerah, kami akan koordinasikan dengan pemprov,” ujarnya.
Editor : adi nugroho