Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika MBG Ramadan Mendapat Beragam Respon dari Penerima Manfaat, Ada Yang ‘Lumayan’, Ada Yang Masih Minimalis

Ayu Ismawati • Senin, 9 Maret 2026 | 23:16 WIB

Ilustrasi program Makan Bergizi Gratis
Ilustrasi program Makan Bergizi Gratis

 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang tetap berjalan selama bulan puasa. Hanya, menunya berganti menjadi makanan kering atau tahan lama. Pergantian yang memicu beragam respon dari masyarakat.

 

Waktu berbuka puasa sudah tiba. Sabrina, pelajar salah satu SMP negeri di Kabupaten Kediri, antusias membuka wadah dari mika. Membuka segel lakban yang digunakan untuk menghindari isinya tumpah.

Begitu dibuka, kemasan mika itu berisi dua butir telur. satu telur ayam rebus. Satunya lagi telur asin. Juga ada satu biji kentang rebus yang dipotong jadi dua. Porsi itu bagian dari rapelan MBG tiga hari di sekolahnya. 

Sampai di sini, tak ada yang aneh dari kombinasi makanan itu. Hanya saja, makanan itu datang dalam kondisi yang kurang menggiurkan.

Saat dibuka, makanan itu diselimuti mayonise di mana-mana. Bahkan, untuk telur yang masih utuh dengan cangkangnya sekalipun.

Penyajian yang kurang menggiurkan itu yang membuat pelajar berusia 13 tahun itu memutuskan tak jadi memakan menu MBG-nya. 

Menu MBG Ramadan yang diterima pelajar salah satu SMP negeri di Kabupaten Kediri.
Menu MBG Ramadan yang diterima pelajar salah satu SMP negeri di Kabupaten Kediri.

“Menunya memang ganti-ganti. Beberapa hari lalu pernah juga dapat kayak pentol, tapi digoreng pakai tepung. Keras banget,” ungkapnya. 

Menu MBG selama Ramadan yang sering dirasa tidak sesuai ekspektasi memang banyak dikeluhkan masyarakat. Tak hanya dari sisi kualitas, tapi juga menunya yang dianggap terlalu minimalis untuk anggaran bersih Rp 10 ribu per porsi. 

Seperti di Kecamatan Pesantren misalnya. Beberapa wali siswa mengaku MBG Ramadan beberapa kali diberikan dengan variasi menu yang ala kadarnya.

Seperti kombinasi satu butir telur, satu pisang, dan empat butir kurma untuk jatah satu hari. Atau, pemilihan makanan seperti tahu kuning goreng dan singkong goreng yang jarang disukai anak-anak. 

Menu MBG Ramadan yang diterima pelajar salah satu SD di Kecamatan Pesantren, Kota Kediri
Menu MBG Ramadan yang diterima pelajar salah satu SD di Kecamatan Pesantren, Kota Kediri

“Minggu ini juga dapat tahu kuning lagi. Terus buahnya pisang terus. Nggak pernah kemakan sama anak saya,” aku Nia, orang tua siswa di Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. 

Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) menginstruksikan agar setiap paket MBG diberi informasi harga dan nilai gizi.

Selain sebagai bentuk transparansi, juga untuk memberikan pemahaman terkait kandungan gizi makanan yang dibagikan. Instruksi itu setidaknya sudah ditekankan kepada seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sejak pekan kedua Ramadan.

“Daftar harga sama kandungan gizinya sudah ada. Sudah di-share ke semua wali murid. Cuma tidak setiap hari dikasih. Satu minggu kemarin kalau enggak salah hanya dua kali yang ada share-share-an menunya,” ungkapnya. 

Belum banyaknya SPPG yang menjalankan arahan itu juga ditemui di beberapa sekolah. Seperti di SDN Banjaran 5 dan SDN Bandarkidul 3.

Hingga pekan lalu, paket-paket MBG yang dibagikan di sekolah ini tidak terdapat rincian harga. Hanya informasi berupa foto dan infografik saja yang dibagikan SPPG ke wali murid melalui pihak sekolah. 

“Kalau di paket makanannya memang tidak ada daftar harga dan kandungan gizinya. Tapi dari SPPG mengirimkan foto, selanjutnya kami share ke grup wali murid,” kata Kepala SDN Banjaran 5 Hindiyah. 

Hal serupa juga ditemui di sejumlah SMP negeri di Kota Kediri. Anwar, salah satu wali siswa SMP di Kota Kediri mengatakan, kualitas menu MBG selama Ramadan beberapa kali mengalami penurunan.

Komplain dari wali murid pun menurutnya tidak pernah mendapat tindak lanjut. 

“Pernah dapat pisang, roti kukus, sama telur. Sudah itu saja. Masak segitu harganya sampai Rp 10 ribu?” keluhnya dengan nada tanya. 

Bahkan, pernah beberapa kali makanan yang diterima tidak dalam kondisi yang baik. Seperti apel yang sudah busuk saat diterima. Dia pun menyayangkan hal itu.

Dengan penggunaan anggaran negara yang besar, menurutnya pelaksanaan MBG seharusnya bisa lebih bertanggung jawab. 

“Beberapa buah yang dikasih itu sering sudah jelek kualitasnya. Pernah juga dapat pisang sudah benyek,” ungkapnya.

Memang, kasus seperti itu belum tentu terjadi di semua SPPG. Tak sedikit dapur yang konsisten mengelola anggaran MBG dengan bijak. Atau, segera berbenah begitu mendapat masukan dari masyarakat. 

Aska, 12, siswa SD di Kecamatan Mojoroto mengaku cukup puas dengan menu MBG yang diterimanya selama Ramadan. Seperti Jumat lalu, dia mendapat satu burger, satu ubi cilembu, kacang koro, tiga butir anggur, tiga butir kurma, satu jeruk, dan satu puding. Menu itu rapelan untuk Jumat dan Sabtu.

Menu MBG yang diterima pelajar SD di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri
Menu MBG yang diterima pelajar SD di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri

“Lumayan enak, sih. Yang paling sering diterima selama Ramadan itu roti,” ungkapnya, yang mengaku lebih senang menerima MBG dalam bentuk ‘jajanan’ seperti itu, ketimbang nasi.

Namun, tak jarang pilihan roti itu kurang disukai anak-anak. Seperti Sekar, 12, pelajar SD di Kecamatan Mojoroto. Dia mengaku jarang memakan menu MBG yang diterimanya di sekolah. 

“Menurutku menu MBG selama Ramadan biasa saja. Soalnya nggak suka. Apalagi kalau ada roti yang pakai selai. Menurutku rasanya kurang enak,” akunya dengan polos. 

 Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Andhika Attar Anindita
#Mbg #MBG Ramadan #ramadan #pelajar #Makan Bergizi Gratis