Demi Tak Burn-out, Gaji Kecil pun Tetap Harus Nongkrong
Bagi para pekerja yang masuk kelompok Gen-Z, secangkir kopi atau sekadar jajan adalah metode ‘menjaga kewarasan’.
Bertahan di tengah impitan ekonomi dan beban kerja yang tinggi. Persoalannya adalah, bagaimana bila upah minimum yang ada tak bisa mencukupi?
"Dulu waktu kecil mau beli apa-apa nggak bisa. Sekarang sudah kerja, ingin mewujudkan keinginan pakai uang sendiri, eh malah dibilang boros."
Curhatan bernada gerutuan itu keluar dari mulut Niken Larasati.
Gadis 24 tahun yang bekerja di perusahaan pembuat makanan yang ada di Kecamatan Plemahan. Menggambarkan seperti apa dilema yang dia hadapi.
Ironisnya situasi seperti yang dialami Niken menjadi potret nyata pekerja muda, terutama para generasi Z atau Gen-Z, di Kediri Raya.
Mereka dituntut produktif. Sisi lain, harus memutar otak agar pendapatan yang tak lebih dari aturan upah minimum kota maupun kabupaten (UMK) bisa cukup untuk hidup.
Sekaligus bisa menjaga kesehatan mental hingga akhir bulan.
Peliknya, gaji Niken tak mencapai UMK yang kini menjadi Rp 2.651.603 untuk wilayah Kabupaten Kediri itu.
Bahkan, masih di bawah ketetapan UMK lama yang Rp 2,34 juta.
“Gajiku di bawah Rp 2 juta, ya dicukup-cukupkan saja,” lanjut Niken, dengan nada pasrah.
Hal serupa juga dialami Oktavia Karisma, 24, admin e-commerce pakaian grosir asal Kecamatan Ngasem.
Atau, Ummi, 24, admin retail yang sudah bekerja selama empat tahun asal Kecamatan Pagu.
upah mereka belum menyentuh standar minimum yang ditetapkan pemerintah.
“Ya kalau dibilang kurang pasti kurang. Tapi mau gimana lagi, yang penting ada pemasukan. Kurangnya nanti cari di tempat lain,” ucap Ana, 26, pekerja di pabrik roti yang bergaji Rp 2 juta per bulan. Pendapatannya bisa bertambah bila dia lembur.
Perempuan muda asal Kecamatan Wates ini adalah tulang punggung keluarga. Menghidupi ibu dan dua adiknya.
Karena itu dia masih harus mencari kerja sambilan. Menjadi penjaga angkringan, yang upahnya bergantung ramai atau sepinya omzet.
“Kalau ramai ya bisa ratusan ribu (rupiah) tapi kalau sepi hanya puluhan ribu (rupiah) saja,” akunya.
Upah bulanan, lembur, kemudian kerja sambilan itu membuatnya bisa mengantongi uang sekitar Rp 2,7 juta.
Namun, pengeluaran rutin yang dia catat bisa mencapai Rp 1,5 jutaan.
“Belum termasuk biaya ngopi atau main sama teman-teman. Belum lagi bila ada kebutuhan (ibu) yang mendadak,” urainya menyebut alasan mengapa dia belum bisa menabung hingga saat ini.
Rara, 25, sedikit mending. Gajinya sebagai bartender di salah satu kafe di Kota Kediri Rp 2,3 juta.
Jumlah yang, menurutnya, cukup bila hidupnya hanya kerja dan pulang ke rumah saja.
“Masalahnya, sekarang ngopi bukan lagi gengsi tetapi tuntutan agar tetap waras menjalani kehidupan,” ucapnya, sambil melempar senyum.
Saat ngopi, menurut perempuan asal Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri ini, dia berbincang masa depan.
Maupun hal-hal tidak jelas lain, sekadar untuk meringankan beban sehari-hari. Mencoba mengalihkan pikiran dari ngepresnya pendapatan dengan kebutuhan.
Apa saja pengeluarannya yang besar? Rara membuat pengakuan bahwa dia sering tergoda memberi barang yang sebenarnya kegunaannya tidak mendesak.
Keinginan itu kerap mengalahkan akal sehat. Sebab, menurutnya, meskipun uangnya habis untuk membeli barang yang tidak penting itu tapi membuatnya semangat untuk bekerja.
“Belum lagi tiba-tiba ada sepatu keluaran terbaru dan rare, pasti tertarik. Yang penting beli dulu. Uang bisa dicari tapi barang langka belum tentu bisa ditemukan lagi,” dalih gadis yang mengaku bisa habis Rp 2,2 juta perbulan ini.
Pipit, 27, yang asal Pati, Jawa Tengah, punya cerita lain. Dia datang ke Kediri karena menganggap UMK-nya lebih tinggi dari tempat asalnya. Sementara biaya hidup terbilang ramah di kantong.
Sayangnya ketika sudah tinggal di Kota Kediri hampir dua tahun, perempuan ini mulai kembang kempis.
Pemasukan dan pengeluarannya setiap bulan tak berimbang. Meskipun, sales produk makanan ini mengantongi Rp 2,5 juta per bulan.
“Yang selalu kelihatan jelas biaya untuk kos Rp 500 ribu. Untuk makan dan bensin sekitar Rp 1,1 juta. Belum lagi mengirim uang ke orang tua setiap bulannya Rp 500 ribu,” ungkapnya.
Sisa gajinya, Rp 400 ribu, harus dibagi dua. Beli skincare dan main. Ketika sedang banyak tawaran untuk main maka budget yang harus dihilangkan adalah membeli skincare. Berlaku sebaliknya.
“Kadang kalau masih kuat ya nyoba jualan snack di car free day. Untungnya paling sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Cukup untuk membeli skincare,” pungkasnya.
Bagi para Gen-Z pekerja itu, mereka merasa sering disalahpahami oleh lingkungan. Dianggap boros karena hobi jajan dan nongkrong.
Padahal, menurut mereka, pos pengeluaran untuk kesenangan pribadi justru yang paling sering dikorbankan demi membayar cicilan atau kebutuhan primer.
“Nongkrong paling habis berapa sih? Di bawah Rp 50 ribu dan itu dalam sebulan bisa dihitung jari,” kilah Tria Ayu, gadis 24 tahun asal Kecamatan Pagu yang bekerja di pabrik rokok.
Bagi para Gen-Z ini nongkrong adalah upaya mereka rehat dan melepas stres. Terlebih beban kerja yang mereka pikul tidak ringan.
Tria Ayu harus menghadapi tekanan target dan kualitas produk setiap hari. Sedangkan Ummi dan Oktavia harus menguras kesabaran menghadapi komplain konsumen serta tuntutan atasan.
“Butuh sekali nongkrong itu. Tidak harus tempat dan makanan mahal. Segelas minuman dan camilan sambil berkumpul dengan teman sudah cukup untuk melepas stres,” ungkap Oktavia.
Bagi mereka, seharusnya bukan gaya hidup seperti itu yang disorot.
Melainkan produktivitas yang mereka berikan dibayar dengan kemampuan mendapatkan kualitas hidup yang manusiawi. Bukan sekadar bertahan agar tidak lapar saja.
Tanpa itu, para Gen-Z pekerja ini merasa suntuk dan lelah mental sebelum berangkat kerja.
Nongkrong adalah satu-satunya hiburan yang masih mampu mereka jangkau dengan sisa gaji yang sedikit.
Masih menurut mereka, burn-out atau lelah mental adalah momok nyata.
Di titik itulah self-healing dalam bentuk jajan makanan kesukaan menjadi penyelamat. Agar mereka tidak benar-benar tumbang.
Editor : rekian