Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerpen : Ojol Tak Berpenumpang

Afrizal Saiful M • Rabu, 17 Desember 2025 | 07:00 WIB
Photo
Photo

Oleh: Ricky Alfandi

Pagi itu matahari naik tanpa suara. Di tepi jalan yang mulai ramai oleh angkot dan motor-motor yang sibuk mengantar pekerja, seorang pria bernama Juli menyalakan aplikasinya. Jaket hijau tua yang sudah pudar ia dikenakan seperti baju perang yang subur. Di belakangnya, disebutkan “ GasLurr ”, warnanya mulai memutih oleh debu dan panas.

 

Sudah tiga puluh menit aplikasi itu menyala, tapi belum ada suara “tring” yang menandakan pesanan masuk. Ia menatap layar ponselnya seperti menatap wajah istrinya yang tak lagi ingin bicara. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Hanya peta kecil yang diam.

Di seberang jalan, warung kopi masih menyala lampunya. Juli sempat berpikir untuk menepi, tapi urung. Ia sudah menghabiskan lima belas ribu untuk bensin semalam, dan hanya punya dua puluh ribu di dompet. Tiga belas ribu lagi akan dipakai nanti malam, kalau tak ada pesanan, untuk beli beras satu kilo. Istrinya sudah mulai hemat garam di dapur.

Ia menarik napas. Menepikan motor pelan ke bahu jalan. Jalan di depan Stasiun sudah mulai macet, tapi bukan macet karena orang bepergian. Macet karena pedagang kaki lima yang tergeletak di trotoar, karena angkot yang menunggu penumpang yang tak datang. Semua orang tampak menunggu sesuatu yang tak jelas — penumpang, pesanan, atau mungkin sekadar keajaiban kecil.

***

Juli mulai jadi driver ojol sejak empat tahun lalu. Waktu itu ia masih percaya bahwa aplikasi bisa menyelamatkan orang kecil. Temannya bilang, “Kerja jadi ojol itu bebas, Jul. Nggak ada bos, nggak ada jam kerja.” Waktu itu kata “bebas” terdengar seperti janji yang indah. Tapi sekarang dia tahu, kebebasan itu hanya berarti tak ada siapa pun yang akan membantumu jika kau gagal.

Dulu, setiap pagi, pesan datang beruntun. Antar penumpang ke kantor, antar makanan ke kos-kosan pelajar, kirim dokumen ke perusahaan, antar ayam goreng ke hotel, lalu balik lagi. Sekarang? Kadang dua jam tak ada satupun pesanan. Kadang order datang, tapi jaraknya tiga belas kilometer, bayarnya tujuh ribu. Kalau ditolak, kinerjanya turun. Kalau diterima, bensin habis duluan.

Ia ingat hari-hari ketika ia bisa pulang membawa dua ratus ribu bersih. Istrinya tertawa di dapur, anaknya—Fahmi—masih kecil dan minta dibonceng keliling kampung. Sekarang anak itu sudah SMP, dan tawa istrinya jarang terdengar. “Bapak capek terus,” katanya suatu malam. Juli tak menjawab. Karena memang itu satu-satunya hal yang ia punya: capek.

***

Hari semakin siang. Juli menepi di bawah pohon mangga. Ia segera mematikan motornya. Angin membawa bau bensin dan debu. Di seberangnya, beberapa ojol lain juga duduk menunggu. Mereka duduk dalam diam seperti barisan prajurit kalah perang.

“Sepi, Juli?” tanya seorang kawan, Anas, sambil menyalakan rokok murahan.

“Sepi banget,” jawab Juli. “Dari pagi belum dapat.”

“Bulan ini memang parah,” kata Anas. "Banyak yang baru daftar. Katanya perusahaan buka rekrutmen lagi. Ordernya segitu-gitu aja. Tapi drivernya nambah."

Juli tertawa kecil, hambar. “Rezeki makin dibagi secara tipis.”

Anas mengangguk. “Rezeki dibagian tipis, tapi potongan tetap tebal.”

Mereka tertawa bersama. Tawa yang tanpa gembira, seperti refleks untuk bertahan agar tidak meneteskan air mata.

Di ujung penayangan, Juli melihat papan iklan besar: “Menjadi Mitra Ojol = Kebebasan Finansial!” Ia ingin tertawa lagi, tapi kali ini tak sanggup. Iklan itu seperti mempercandai nasibnya.

***

Menjelang siang, pesanan pertama datang. “Ding!” — bunyi yang seperti lagu penyelamat. Antar makanan ke kantor kelurahan, jarak 2 km. Bayarannya: 8.000 rupiah. Ia menatap angka itu sebentar, lalu menekan tombol “Terima”.

Motor dinyalakan, aplikasi dijalankan, ia berangkat menembus panas. Jalanan berdebu, dan helmnya mulai terasa seperti oven di kepala. Tapi dia tidak peduli. Pesanan pertama dan sepanjang jalan adalah doa kecil agar hari ini tidak terlalu buruk.

Ketika sampai di warung makan, pesanan sudah siap. Nasi goreng dua bungkus. Ia bayar dulu dengan uangnya sendiri — 26 ribu — lalu berharap uang itu kembali dalam bentuk saldo digital entah kapan nanti.

Di kelurahan, pegawai penerima makanan tidak menatap wajahnya. “Taruh aja di meja, Mas,” kata mereka. Tak ada kata terima kasih. Tak ada senyum. Hanya suara kipas angin yang menoleh ke kanan-kiri dan aroma keringat bercampur nasi goreng.

Di luar kantor, Juli sempat berdiri lama di bawah matahari. Ia menatap bayangannya sendiri di aspal. Terlihat kurus, bengkok, dan tak jelas. Ia pikir: mungkin di sinilah hidupnya sekarang — berjalan di bawah panas, membawa sesuatu untuk orang lain, tapi tak pernah tahu apakah ada yang membawa sesuatu untuk dirinya sendiri.

***

Sakit turun pelan-pelan. Langit seperti terbakar. Juli menepi lagi di depan toko cat yang sudah tutup. Ia menghitung saldo. Dari tiga pesanan siang itu, ia mendapat 24.000 rupiah. Potongan aplikasi 20 persen. Bersihnya 19.200 rupiah.

Ia minum air putih dari botol bekas. Motor di sebelahnya, milik ojol lain, tergeletak seperti kuda yang kelelahan. Mereka semua diam menatap ponsel masing-masing, menunggu bunyi “tring” yang entah kapan muncul. Menunggu, menunggu, menunggu — pekerjaan paling melelahkan di dunia.

Juli kadang berpikir untuk berhenti. Tapi lalu dia ingat: berhenti berarti apa? Jadi apa? Usianya sudah lewat empat puluh. Ijazah hanya SMP. Pabrik tempatnya dulu bekerja sudah tutup karena bangkrut. Di kampung, sawah dijual habis. Ia bukan orang yang punya pilihan. “Yang penting jalan terus,” katanya dalam hati, seperti harapan kosong yang sudah kehilangan maknanya tapi tetap terulang karena tak ada lagi yang bisa dipercaya.

***

Maghrib. Langit berubah warna. Lampu-lampu toko menyala, dan suara azan dari mushola kecil terdengar serak. Juli berhenti di depan masjid. Ia cuci muka, sholat sebentar. Dalam sujudnya, dia tidak berdoa panjang lebar. Hanya bisikan pendek pada Tuhan: “Ya Allah, kasih aku satu penumpang malam ini. Satu aja.”

Setelah itu ia keluar, duduk di atas motor lagi, menyalakan aplikasi. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit.

Tidak ada bunyi “tring”.

Ia menatap jalanan yang mulai sepi. Bus kota melintas, membunyikan klakson panjang. Seorang perempuan muda lewat naik motor, jaketnya hijau tapi lebih baru, bersih, dan dia tersenyum sambil menatap layar. Mungkin sedang dapat pesanan.

Juli tersenyum kecut. Ia tahu, terkadang rezeki memang hanya soal algoritma. Dan mungkin, algoritma itu pun sudah bosan dengannya.

***

Pukul delapan malam. Juli akhirnya menyerah. Ia mematikan aplikasi, lalu melaju pelan ke arah rumah kontraknya di gang sempit belakang pasar. Rumah itu kecil, dindingnya lembab, dan bau minyak goreng dari warung sebelah menembus ke dalam kamar.

Istrinya, Sofia, sedang duduk di lantai, menambal seragam sekolah anak mereka yang robek. Wajahnya pucat tapi tetap mencoba tersenyum. “Gimana, Pak?” tanyanya.

“Lumayan,” jawab Juli. Dia berbohong. Tapi kebohongan yang kecil dan perlu, agar rumah itu tidak sepenuhnya muram dan gelap.

Anaknya, Fahmi, keluar dari kamar sambil membawa buku. “Pak, besok aku ada tugas buat nyetak foto-foto pahlawan. Seribu per lembar, sama guru disuruh nyetak sepuluh lembar.”

Juli mengangguk. “Iya, nanti Bapak kasih.”

Malam itu, setelah makan nasi dengan sambal dan kerupuk, Juli duduk di depan rumah. Ia menatap langit. Suara jangkrik bercampur bising motor jauh di jalan raya. Ia merasa seperti sedang menunggu sesuatu yang sudah ia tahu tidak akan datang — tapi tetap menunggu, karena jika tidak, hidup ini tak punya arah yang sama sekali.

***

Besok paginya, ia bangun lebih awal. Udara masih dingin, dan kabut tipis menempel di badannya. Ia cuci muka, pakai jaket, lalu nyalakan motor. “Ding!” Suaranya datang bahkan sebelum matahari terbit. Pesanan pertama hari itu.

Antar penumpang ke terminal. Jarak 6,4 km. Bayaran: dua belas ribu. Ia tersenyum kecil. Setidaknya hari ini dimulai dengan baik.

Penumpangnya seorang perempuan muda, membawa tas besar. Dari cara dia diam dan menunduk, Juli bisa menebak: mungkin dia akan merantau, mungkin meninggalkan sesuatu. Selama perjalanan, mereka tak banyak bicara. Hanya sekali perempuan itu berkata, lirih, “Mas, kalau capek, boleh pelan-pelan saja. Aku nggak buru-buru.”

Ucapannya sederhana, tapi entah kenapa membuat dada Juli sesak. Sudah lama sekali tidak ada yang memperhatikan lelahnya. Biasanya orang hanya berkata, “Cepat ya, Mas. Saya sudah telat.”

Ketika sampai di terminal, perempuan itu turun, membayar, lalu berkata pelan, “Makasih ya, Mas. Semoga hari-hari Mas-nya baik.”

Juli tersenyum, mengangguk, dan melihatnya berjalan menjauh, menembus keramaian bus dan orang-orang dengan wajah letih. Di dadanya, ada sesuatu yang bergerak. Bukan bahagia, tapi semacam kehangatan kecil — seperti api yang hampir padam tapi tiba-tiba ditiup angin.

***

hari Sepanjang itu, pesanan datang lebih banyak. Tidak banyak-banyak amat, tapi cukup untuk membuatnya merasa hidup. Siang ia antar makanan ke kantor kecamatan, sore antar barang ke kos-kosan pelajar, malam antar penumpang ke mall. Ia pulang dengan seratus dua puluh ribu bersih. Tidak besar, tapi cukup untuk membeli beras dan kebutuhan anak.

Di rumah, Sofia tersenyum, wajahnya tampak lebih lega. “Lumayan, Pak,” katanya. “Lumayan,” jawab Juli, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, kata itu benar-benar berarti.

Malam itu, mereka makan dengan lampu yang lebih terang — bukan karena wattnya berubah, tapi karena suasana hati yang sedikit terangkat. Fahmi bercerita tentang sekolah, tentang tugas, tentang teman yang lucu. Juli mendengarkan sambil menatap wajah anaknya, merasa seperti sedang melihat versi dirinya yang belum kalah.

***

Namun hidup, sebagaimana jalan yang berliku, tak pernah stabil lama-lama.

Tiga hari kemudian, motor Darto mogok di tengah jalan. Aki mati. Bensin menetes dari selang bocor. Ia mendorong motor itu ke bengkel. “Ganti aki sama selang, 260 ribu,” kata montir.

Uangnya hanya tersisa 70 ribu.

Ia mencoba menawar, tapi gagal. Montir hanya mengangkat bahu. Akhirnya Juli duduk di pinggir jalan, menatap motornya sendiri, seperti menatap tubuh sahabat yang bernafas. Ia berpikir, bagaimana cara mencari uang kalau kendaraan satu-satunya mati? Siapa yang mau pinjamkan uangnya? Sore itu, untuk pertama kali setelah lama, dia benar-benar merasa sendirian.

***

Malamnya, ia menyalakan ponsel, membuka aplikasi yang tak lagi berguna tanpa motor. Di beranda aplikasi itu, ada notifikasi baru: “Dapatkan bonus tambahan dengan menyelesaikan 10 pesanan hari ini!”

Juli tertawa. Tawa yang pahit dan pendek. Aplikasi itu masih sibuk menawarkan mimpi, sementara ia bahkan tak bisa bergerak.

Ia keluar rumah, berjalan ke gang. Angin malam membawa bau gorengan dari warung sebelah. Di ujung gang, beberapa ojol lain masih nongkrong. Satu di antaranya, Anas, pergantian tangan. “Jul, kok jalan kaki?”

“Motor yang digerakkan,” jawab Juli.

“Waduh. Berat, Jul.”

“Iya. Tapi ya udah, namanya juga hidup.”

Mereka diam lama. Lalu Anas menampar bahunya. “Sini, naik motorku aja. Nemenin narik malam ini. Lumayan, buat nambah semangat.”

Juli tersenyum. “Boleh.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia naik motor bukan sebagai pengemudi, tapi penumpang. Angin malam menerpa wajahnya. Kota di sekitarnya tampak asing tapi juga akrab, seperti teman lama yang sudah berubah. Ia melihat deretan lampu toko, orang-orang di seberang, mobil-mobil melintas. Dan entah kenapa, di antara semua itu, dia merasa sedikit lebih ringan. Mungkin karena malam ini ia tidak perlu menunggu “tring”. Mungkin karena malam ini, ia akhirnya punya tempat di belakang seseorang.

***

Ketika Anas berhenti di lampu merah, Juli menatap kaca spion, melihat wajahnya sendiri — pucat, berkeringat, tapi masih ada seberkas cahaya di matanya. Ia berpikir: mungkin menjadi ojol tak berpenumpang bukan berarti berhenti bergerak. Mungkin artinya belajar berjalan sendiri, menunggu tanpa marah, hidup tanpa jaminan. Mungkin artinya tetap menyalakan mesin, bahkan ketika dunia sepi.

Dan di tengah riuh kota yang terus berputar tanpa peduli, Juli membatin perlahan, bahwa kadang-kadang, hidup memang hanya soal bertahan — sampai pagi datang lagi.

Bio Singkat Penulis :
Ricky Alfandi seorang guru & pegiat literasi

Email: kotakmasukricky@gmail.com

Editor : rekian
#radar kediri #Pegiat literasi #sastra #cerpen #guru