Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dari Lebaran ke Lebaran

Redaksi Radar Kediri • Minggu, 3 Agustus 2025 | 05:00 WIB
Ilustrasi lebaran.
Ilustrasi lebaran.

Sayup-sayup gema takbir terdengar selepas Maghrib. Aku baru saja selesai berbuka puasa selepas sholat Maghrib. Sepi menghantui sekitar kosanku di Kebon Kosong, Kemayoran. Tetangga kanan-kiri sudah mudik beberapa hari yang lalu.

Ini adalah tahun kelimaku tidak mudik ke kampung halaman. Tidak ada air mata menetes, tak ada tangisan. Aku merasakan biasa saja. Toh aku masih bisa pulang kampung di luar Idul Fitri. Biasanya aku pulang kampung dua tahun sekali, tak tentu tanggalnya.

Ada semacam alasan mengapa aku lima tahun tidak pernah mudik. Bukan karena kesibukan pekerjaan. Sebab aku bekerja sebagai penulis lepas. Tentu saja tidak terikat aturan. Bisa menulis kapan saja dan di mana saja.

Tahun pertama aku tidak mudik, ibu menangis sesenggukan di hari kemenangan. Sementara bapak hanya diam saja. Demikianlah kata adik bungsuku. Orang-orang kampung pada menanyakan aku berada di mana. Perihal pertanyaan itu aku sudah mengantisipasinya. Aku meminta kepada adikku untuk mengatakan kalau diriku sedang ada pekerjaan di luar kota.

“Lebaran Idul Fitri itu harus pulang. Orang yang sudah mati saja ingin hidup kembali, berkumpul bersama keluarga,” ujar ibu di telepon. “Jangan pedulikan nyinyiran-nyinyiran. Toh kamu nggak merepotkan mereka,” imbuhnya.

“Maaf yah bu, aku belum bisa menjadi anak yang membanggakan. Bu, kalau aku nggak jadi apa-apa. Ibu masih tetap menganggapku anak kan,” ucapku. “Sampai kapanpun, kamu adalah anak ibu,” jawabnya.

Kata adikku, di lebaran kedua aku tidak mudik, ibu juga menangis. Barulah di tahun berikutnya ibu tidak menangis lagi. Pikirku. ibu sepertinya paham alasan di balik keputusanku tidak mudik.

Aku lahir dan tumbuh di keluarga besar ibu. Saking besarnya, cukup panjang untuk dijelaskan, karena begitu rumit. Yang jelas kakek dan nenek punya banyak saudara dan sepupu. Akhirnya dewasa ini aku jadi paham kenapa kakek ingin sekali pindah jauh dari kampung. Sebuah keinginan yang tidak pernah terwujud hingga ia kembali kepada sang pencipta.

Saudara-saudara kakek akan menganggap kami sebagai keluarga jika kami hidup berkecukupan. Jika kami susah, maka kami akan dijauhi. Lain halnya dengan saudara-saudara nenek. Jika susah kami akan dianggap sebagai keluarga. Tetapi kalau kami berkecukupan, akan dimusuhi.

Itu juga yang dikeluhkan oleh suami bibiku. “Orang-orang kampung itu mengira kalau saudara-saudara mama dan bapak yang mencukupi kebutuhan ibu sepeninggal bapak. Padahal kita anak-anaknya yang banting tulang,” ujar Lik Jawawi.

“Wajar orang kampung mengira begitu. Soalnya mereka kepada orang lain saja murah hatinya minta ampun. Jadi orang-orang berpikir, ke bukan keluarganya saja baik, apalagi ke keluarganya,” ungkap ibu.

Maka ketika ada undangan kumpulan keluarga besar di Lebaran, yang harus dipersiapkan adalah mental untuk tidak sakit hati. Kalau tidak karena permintaan nenek, kami pasti tidak akan datang.

“Datanglah, setahun sekali. Nanti kalau aku meninggal, mereka nggak akan datang untuk tahlil,” ujar nenek. Tentu saja ucapan nenek itu dibantah oleh pamanku Lik Nadrick, meskipun akhirnya ia datang saja. “Bu. Nggak usah khawatir. Kami anak, menantu, dan cucu yang akan mengurus.”

Kalau terjadi hal yang tidak mengenakan di kumpulan keluarga. Maka sepulang kumpulan, ibu akan mengomel kepada nenek. Begitu juga dengan paman dan bibiku. Nenek pun hanya diam saja. Tak menjawab satupun dumelan anak-anaknya.

Intinya sih di keluarga nenek, ketika kumpulan keluarga lebaran, kami lebih sering dicuekin. Dengan kata lain, terkesan tidak dianggap kehadirannya. Pernah sekali kami memutuskan untuk tidak datang. Anehnya, malah kami yang disalahkan. Dianggap kurang ajar, dianggap jahat. Kalau sudah begitu, nenek yang akan dianggap kurang bisa mendidik anak dan cucunya.

Lain lagi di keluarga kakek ketika kumpulan keluarga lebaran. Obrolannya seputar sawah dan ladang. Lalu anak-anak mereka yang jadi PNS, punya rumah mewah di kota dan mobil. “Kamu kerja dong yang bener, jangan kerja serabutan,” ujar adik kakek, Mbah Midah kepada Lik Nadrick yang bekerja serabutan. Tak hanya sampai di situ, ia juga ditanya kapan nikah.

Sementara Lik Mamih akan diperingatkan untuk menghemat. Sementara aku diminta untuk meninggalkan duniaku sebagai penulis. “Jadi penulis, apalagi penulis lepas itu nggak jelas. Untuk diri sendiri saja masih kurang, apalagi untuk orang tua. Carilah pekerjaan lain. Kasihan bapak ibumu,” ujar Mbah Midah. Melihat raut muka kami yang berubah, suami Mbah Midah yang bernama Mbah Hafid berusaha untuk mengalihkan pembicaraan “Harta nggak akan dibawa mati. Hidup di dunia sementara. Jangan hubbud dunya.”

“Iva, kamu kan PNS. Suamimu juga manager. Bantulah sepupu yang lain, diberikan modal usaha,” ujar ibu. Mendadak suasana menjadi hening. Tetapi meskipun begitu ibu pasti akan selalu datang ke kumpulan keluarga ketika lebaran, ia berdalih untuk menghormati mendiang kakek.

Keluarga bapaku lain lagi. Aku sampai tidak akrab dengan kakek dan nenek dari pihak bapak. Begitu juga dengan saudara-saudara bapak. Aku pernah bertengkar hebat di hari lebaran dengan bapak, gara-gara aku tidak mau berkunjung rumah kakek dan nenek. Ibu dan kedua adikku pun jadi tidak mau ikut.

“Kalau kalian nggak datang. Kalian yang akan dianggap durhaka. Aku juga yang malu, gagal mendidik anak dan istri,” ujar bapak. Ibu pun menyanggah dengan mengeluarkan uneg-unegnya selama ini. Alhasil bapak pun hanya diam, wajahnya merah. Ia sudah kalah telak dari ibu.

“Kamu masih ingat 25 tahun lalu. Sahur di rumahmu hanya tahu dan nasi sisa. Sementara orang tuamu, saudaramu makan dengan lauk pauk enak. Sementara saat itu aku menyusui. Kamu hanya diam saja. Tak tahu berbuat apa.” “Banyak lagi kejadian nggak mengenakan. Uang yang seharusnya untuk bayar ujian anak sekolah, malah kamu serahkan ke kakakmu.”

Tak elok rasanya lebaran malah terjadi pertengkaran. Maka aku sebagai anak menengahi. Aku mau berkunjung ke rumah bapak dan nenek tetapi hanya sebentar saja. Setelah itu langsung pulang. Ibu dan kedua adikku pun sependapat denganku.

“Satu lagi kalau sampai membanding-bandingkan diriku dengan cucu yang lain. Aku langsung pulang tanpa pamit,” ucapku.

Kakek dan nenek dari pihak ayah ini seringkali membanding-bandingkan diriku dengan cucu yang lain. Misalnya dengan Hima yang menjadi PNS, Linda yang menjadi PNS. Lalu Azka yang menjadi karyawan BUMN. Ghofur yang menjadi tentara. “Entah kenapa cucuku yang satu ini rewel sekali. Malah milih jadi penulis.”

Ingatan tentang masa lalu itu pun terhenti tatkala terdapat suara pengumuman dari masjid tak jauh dari kosanku. Pengumuman tersebut berkaitan dengan duka cita. “Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun, telah berpulang ke rahmatullah Bapak Zaky, Ketua RW 01 Kebon Kosong. Beliau meninggal pada pukul 06.00 WIB di rumah.”

Pengumuman itu membuat ucapan ibu tiga hari yang lalu via telepon terngiang-ngiang “Umur nggak ada yang tahu. Mati itu tidak menunggu tua, bisa saja yang muda. Meskipun kebanyakan yang tua. Lebaran diusahakan pulang. Jangan nggak pulang. Ibu takut nggak bisa berjumpa dengan lebaran tahun depan.”

“Nggak papa kamu nggak jadi apa-apa. Kamu akan tetap menjadi anak ibu. Bapak katanya minta maaf ke kamu atas kesalahannya selama ini. Ia tak berani mengungkapkannya langsung ke kamu.”

Bergegas aku memesan ojek online dengan tujuan Terminal Tanjung Priok. Mudah-mudahan masih ada bus menuju ke kotaku. (*)

 

Penulis

Malik Ibnu Zaman lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang

tersebar di beberapa media online. Buku pertamanya sebuah kumpulan cerpen berjudul

Pengemis yang Kelima (2024).

 

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#cerpen #lebaran