Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dijanjikan Untung Berakhir Buntung

Hilda Nurmala Risani • Kamis, 25 Desember 2025 | 04:39 WIB
Ilustrasi : Afrizal Syaiful M/JPRK
Ilustrasi : Afrizal Syaiful M/JPRK

Praktik arisan tak lagi menjadi hal asing bagi masyarakat. Bahkan sudah sejak lama digandrungi, terkhusus kaum hawa. Seiring berkembangnya teknologi dan informasi, praktik arisan pun berubah. Tak hanya dilakukan secara offline. Tetapi juga bisa dilakukan melalui gawai tanpa bertemu langsung.

Sayangnya praktik tersebut seringkali disalahgunakan untuk berbuat tindak kriminal oleh beberapa oknum. Yaitu dengan mengadakan arisan yang keuntungannya besar dengan waktu yang singkat.

Namanya perempuan pasti tergoda untuk mengikuti. Apalagi dengan melihat gaya hidup sang bandar yang mewah tentu membuatnya ingin untuk bisa mengikuti jejaknya.

Baca Juga: Nasib Para Korban Arisan Bodong di Kediri, Impian Sirna gara-gara Tergiur Keuntungan Banyak dalam Waktu Singkat

Tak heran banyak dari mereka rela untuk memberikan uangnya ratusan ribu hingga jutaan rupiah demi mendapatkan keuntungan dua kali lipatnya. Mereka pun rela hutang dan mengajak orang lain untuk bergabung. Demi mewujudkan iming-iming bisa kaya dengan cara instan.

Terkadang orang bertanya apakah korban tidak berfikir menggunakan akal sehat ketika akan mengikuti? Jawabannya tidak. Pelaku atau sang bandar ini lebih lihai membuka celah korban atau anggotanya agar bisa royal membeli arisannya.

Itu dibuktikan dengan membangun kepercayaan. Misalnya mencairkan arisan dengan nominal kecil secara lancar. Seiring berjalannya waktu korban merasa percaya dan ingin membeli dengan jumlah lebih tinggi. Polanya akan sama, mereka berupaya memberikan service terbaik untuk anggotanya. Hingga korban tak ragu untuk memberikan uang kepada pelaku secara cuma-cuma.

Baca Juga: Belajar dari Kasus Arisan Bodong di Kediri: Dulu, Tujuannya untuk Silaturahmi

Ujungnya uang tak bisa kembali dengan alasan terjadi permasalahan pada deponya. Padahal kalau dilihat makna arisan sesungguhnya tak ada namanya memberi keuntungan hampir 50 persen.

Tetapi entah kenapa masyarakat masih tertarik dengan praktik arisan seperti itu. Tak hanya satu atau dua kali, sudah berulang kali kasus serupa muncul di televisi maupun media sosial. Korbannya ratusan, kerugiannya ditaksir mencapai milyaran rupiah.

Lantas jika sudah begini siapa yang patut disalahkan? Ya, diri sendiri. Karena dengan mudah memberikan kepercayaan pada orang lain terkait uang. Tanpa memikirkan dengan akal sehat apakah arisan ini sungguhan. Sudah terdaftar secara legal di otoritas jasa keuangan (OJK) hingga kredibilitas atau track record penyelenggaranya.

Seringkali perempuan merasa yakin hanya karena sudah mengenal pelaku lama. Realitanya namanya manusia bisa saja berawal baik namun berubah menjadi jahat dalam satu waktu. Itu karena godaan harta dan kekuasaan.

Baca Juga: Sebelum Melarikan Diri, Bandar Arisan Bodong Ternyata Bikin Pesta Ultah Mewah

Sebenarnya tak hanya permasalahan kepercayaan, seringkali korban merasa fearing of missing out (FOMO). Melihat teman-temannya mendapat cuan banyak, korban merasa tertinggal dan terpacu untuk bisa mengikuti. Nah, tekanan sosial ini seringkali mematikan nalar kritis.

Memang di dunia yang serba digital ini, jempol manusia seringkali bergerak lebih cepat daripada otak. Benar adanya butuh rasa percaya untuk bisa hidup rukun. Namun, jangan berikan kepercayaan itu secara "gratis" kepada siapa pun di balik layar gawai.

Jadilah pribadi yang tetap hangat dan empatik, tapi pastikan logika tetap jalan. Karena di balik layar yang berkilau, seringkali ada jaringan penjahat yang siap beraksi. Oleh karenanya sebelum bergabung atau tergiur promosi yang ada di layar gawai sebaiknya lakukan beberapa tindakan.

Baca Juga: Korban Arisan Bodong Terpikat Lancar di Awal Rumah Pengelola Kosong, Aset Berharga Dibawa Pergi

Yaitu pertama, cek digital hygiene. Misalnya mengecek nomor rekening pelaku maupun memeriksan nomor telepon pelaku di get contact. Jika ada riwayat penipu maka segera tinggalkan.

Kedua, maknai hukum alam "Too Good to Be True", kalau ada investasi yang menjanjikan keuntungan 20% dalam sebulan tanpa risiko, itu bukan peluang emas. Melainkan jebakan Batman. Karena investasi legal dimana pun pasti punya risiko.

Ketiga, jangan mau dikejar deadline. Penipu selalu bilang, "slot masih ada" atau "segera transfer sebelum dibeli orang lain" agar korban tergerak untuk segera memilikinya. Nah, di sini perlu peran diri sendiri untuk mengendalikan, jangan terburu-buru. Ambil nafas dan minta pendapat orang ketiga terlebih dahulu. Jangan sampai ketergesaan itu berujung penyesalan. Niatnya mencari untung justru berakhir buntung. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#milyaran rupiah #arisan bodong #kota kediri